Mengusahakan Khusyuk Dalam Solat

Mengapa kita diperintahkan Sholat

Di dalam ajaran Islam upacara ibadah yang terutama dan utama disebut “SHOLAT’ atau di dalam bahasa melayu ialah sembahyang. Sembahyang didalam Islam ia merupakan tiang agama. Ia diwajibkan. Melakukannya di dalam sehari semalam ialah lima kali. Sholat didalam Islam merupakan ibu segala ibadah dan merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Bahkan ia adalah sebagai tiang serinya. Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya :

Sholat adalah tiang agama. Barang siapa yang mengerjakannya dia telah menegakkan gama dan barang siapa yang meninggalkannya maka runtuhlah agamanya

Siapa yang meninggalkannya, maka seluruh amalannya yang lain tertolak atau tidak diterima oleh Tuhan. Rugi sungguhlah orang yang meninggalkan sembahyang lima waktu.

Kita diperintahkan mengerjakan sembahyang dengan tujuan hendak melahirkan berbagai rasa kehambaan, karena kita adalah hamba, seperti rasa hina, takut, malu, gemetar, rendah diri, harap dan bimbang. Rasa kehambahan itu akan menghilangkan sifat-sifat mazmumah atau sifat-sifat jahat yang sangat merosakkan kehidupan manusia, seperti sifat sombong, hasad dengki, tamak, pemarah, bakhil, ujub, jahat sangka, berdendam, menfitnah, mengadu domba, mengumpat, menghina dan lain-lain.

Sembahyang yang benar-benar dihayati dapat membakar dan memusnahkan sifat-sifat mazmumah yang sangat meracuni kehidupan masyarakat manusia. Oleh karena itu kalau di dalam sembahyang tidak dapat melahirkan rasa kehambahan kepada Tuhan maka di luar sembahyang mustahil dapat merasakan sifat kehambaan itu. Apabila sifat kehambaan atau rasa kehambaan tidak wujud di dalam hati manusia maka yang akan mengisi hati manusia atau jiwa manusia ialah sifat mazmumah seperti sombong, pemarah, hasad, tamak, bakhil, keras hati, dendam, riya’ dan lain-lain lagi.

Penyakit jiwa atau sifat mazmumah itulah yang menjadikan manusia berkrisis, bergaduh, bertengkar, jatuh menjatuhkan, bunuh membunuh dan peperangan. Justru itu rosaklah kehidupan manusia. Binasalah dunia, hilang kasih sayang, rosak perpaduan. Hilanglah kebahagiaan dan keharmonian maka tersiksa hidup manusia.

Khusyu’nya sholat para sahabat

Para sahabat sangat menjaga kekhusyukan sholat. Saidina Umar bin Khattab begitu takut dengan Tuhan sejak berwudhu lagi sehingga badannya bergetar hebat. Mendekati waktu sholat semakin hebat rasa takutnya pada Tuhan dan puncaknya di waktu sholat. Sewaktu sedang takut dengan Tuhan itu, para sahabat lain yang berada 3 shaff di belakangnya boleh mendengar gelombang hatinya dan degupan jantungnya. Bahkan kadang-kadang Allah gambarkan bau hangit terbakar dari mulutnya karena hatinya terbakar disebabkan takuntukan Tuhan. Tetapi karena Saidina Umar itu pemimpin, maka Tuhan jaga takutnya, supaya dia boleh memimpin orang. Kalau dia bukan pemimpin, mungkin matilah dia karena terlalu takuntukan Tuhan. Biasanya rasul-rasul dan pemimpin-pemimpin berwatak Rasul, Tuhan jaga ketakutannya itu, kalau tidak hatinya boleh terbakar sampai mati. Kalau demikian yang terjadi, dia tidak boleh memimpin orang. Begitu juga dengan Rasulullah, mabuknya dengan Allah luar biasa, tidak dapat digambarkan, tetapi dengan rahmat Allah, Allah jaga mabuknya ini sehingga Rassulullah tak dapatlah nak pimpin orang. kalau dia bukan pmimpn nampak sgt mabuknya macam rabiaatul adawiyah padahal R lebih dr itu kalau tak tidak boleh pimpin orang.

Mengusahakan khusyu’ dalam sholat

Pada hari ini umat Islam belum menjadi satu bangsa yang berdisiplin, berpadu, bersih dari maksiat dan kemungkaran, tinggi akhlaknya, kokoh imannya, kemas syari’atnya, tinggi tamadunnya dan unggul kebudayaannya? Mengapa sembahyang mereka tidak dapat mendidik mereka lagi ? Apakah yang sudah tidak kena dengan sholat mereka.
Sholat kalau setakat boleh faham rukun dan hafal maknanya, itu baru sekadar ilmu sedangkan hikmahnya belum dapat lagi. Belum lahir perasaan-perasaan yang patut ada dalam sholat. Kalau sholat masih di peringkat aqal, belum di peringkat perasaaan, susah untuk mengubah perangai kita. Bagaimanakah seseorang itu boleh sampai mendapatkan rasa dan ilmu hikmah melalui sholat?

Khusyu dalam sholat itu bukan hanya terjadi di waktu sholat, tetapi ia bermula di luar sholat lagi. Di luar sholat asas-asas khusyu itu sudah ada dalam kehidupan kita. Waktu sholat itu menambah sedikit saja perasaan khusyu yang sudah ada di luar sholat. Allah ada berfirman dalam Al Qur’an bahwa Allah berasa bersama kamu di mana saja kamu berada. Ini maksudnya Allah bukan di sebelah belakang, depan, atas atau bawah, tetapi rasa bertuhan itu di bawa ke mana-mana. Selama sholat itu hanya menambah rasa yang sudah ada itu. Tetapi kalau di luar sholat tidak merasa kewujudan dan kehebatan Allah, maka di dalam sholat walau pejam-pejam mata untuk khusyuk, Insya Allah tidak akan dapat khusyu itu.

Untuk khusyuk ada 2 perkara yang mesti diketahui :

  1. perkara yang lahir
  2. perkara yang batin

Diantara perkara lahir yang perlu diperhatikan :

  1. Jaga seluruh anggota badan dari pada berbuat maksiat di luar sholat. Mata dijaga dari melihat perkara-perkara yang dilarang dan sia-sia. Telinga dijaga dari mendengar perkara-perkara yang dilarang dan sia-sia. Mulut dijaga dari memakan makanan yang haram dan tidak berkat serta hindari mengeluarkan kata-kata yang haram dan sia-sia.
  2. Kalau boleh ½ jam lagi menjelang sholat paling tidak 15 menit lagi, jangan memikirkan benda-benda lain kecuali Tuhan, dosa-dosa, akhirat dan sebagainya. Jangan membaca surat khabar, majalah, melihat TV. Biasanya benda yang kita lihat menjelang waktu sholat, susah untuk dilupakan ketika sholat. Bahkan kadang-kadang perkara-perkara yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalupun datang di dalam sholat.
  3. Di tempat sholat, jangan ada benda-benda yang mengganggu pandangan mata kita, bahkan gambar kaabah dan masjidil haram-pun jangan ada di depan mata karen dia menganggu atau pemandangan di kiri kanan ada bunga-bunga.

Untuk menghindari yang lahir-lahir inipun susah, apalagi yang batin. Yang batin ini bermula dari kehidupan kita. Kalau ada benda-benda dunia yang kita sayang dan cintai, maka ia akan terbawa di dalam sholat. Memiliki benda-benda itu tidak salah, tetapi dia sangat mempengaruhi jiwa kita, dan akan terbawa ketika sholat. Lebih-lebih lagi kalau kita menjadi makmum, kita tidak membaca, hanya mendengar bacaan imam, ada banyak masa yang kosong . Kalau kita cinta dengan isteri, kendaraan, dan harta, maka isteri, kendaraan dan harta itulah yang akan terbawa dalam sholat.

Kalau ada benda-benda yang kita takuti yang membawa kesan pada jiwa kita, maka ia juga akan terbawa dalam sholat. Misalnya dalam keadaan ekonomi jatuh, kita takut sangat perniagaan kita jatuh yang akan membawa kita kepada kemiskinan, maka perasaan akan jadi miskin itu menghantui fikiran dan akan terbawa ke dalam sholat. Ataupun kita pinjam duit orang yang kita tak mampu membayarnya, maka kita takut sebab diburu oleh debt colector yangs anggup mencelakakan bahkan membunuh kita dan keluarga kita, maka perasaan takut ini akan terbawa-bawa di dalam sholat. Kadang-kadang rasa ketakutan tadi lebih kuat menguasai dari pada yang kita cintai, sehingga terbawa dalam mimpi ketika tidur. Kalau dalam tidur pun boleh terbawa, betapalah di dalam sholat

Jadi khusyuk dalam sholat bukan bermakna dia bermula ketika takbir untuk memulai sholat, tetapi dia bermula di luar sholat lagi. Apa yang kita fikirkan, kita rasakan di luar shalat yang sangat mempengaruhi jiwa dan perasaan kita, dia akan terbawa di salam sholat. Tetapi, kalau seseorang itu dalam kehidupannya idak dipengaruhi oleh hartanya yang banyak, kendaran yang mewah, rumah yang megah, takut miskin dan lain-lain, maka dia dapat mengusahakan khusyuk dalam ssholat sebab ia sudah memiliki kekuatan asas di luar sholat. Kalau tak ada kekuatan asas di luar sholat walau dia pejam-pejam mata sehingga nampak hijau kuning, itu akan menggangu juga. Karena itu pejam mata dalam sholat itu makruh.

Baru kita sadar bahwa khusyuk itu ada hubungan dengan tauhid. Kalau cinta atau takut dengan Tuhan di luar sholat kuat, maka dia akan membunuh takut dan cinta kepada yang lain, sehingga takut dan cinta dengan Tuhan ini akan dibawa ke dalam sholat. Bahkan di dalam sholat rasa takut dan cinta ini akan semakin menguat. Kalau ada benda lain yang mengatasi cinta dan takut dengan Tuhan di luar sholat, maka benda itulah yang akan datang dan terkenang-kenangkan di dalam sholat.

Diantara usaha untuk khusyuk dalam sholat adalah dengan mengusahakan istiqamah lahir dan batin. Tidak atau belum adanya istiqamah disebabkan kurang kuat bermujahadah. Istiqamah lahir lebih mudah diusahakan dari pada mengusahakan istiqomah batin. Contoh istiqomah lahir adalah sholat di awal waktu, menunggu-nunggu waktu sholat, berwangi-wangian, bercelak. Kalaulah yang lahir saja kita tidak dapat beristiqomah, apalagilah yang batin, yang jauh lebih halus dan seni dan tak nampak oleh mata dan akal. Tetapi bila kita sungguh-sungguh mengusahakan istiqomah yang lahir dan kita berdoa kepada Allah, maka Allah akan ajarkan kita ilmu-ilmu dan hikmah yang kita belum ketahui bahkan Allah akan anugerahkan kepada kita rasa-rasa bertuhan dan kehambaan. Ini akan memudahkan kita lagi untuk khusyu di dalam dan luar sholat.

Selain itu untuk khusyu’ dalam sholat umat Islam telah diajarkan oleh Allah untuk menjadikan dan meminta Rasulullah SAW sebagai wasilah atau perantara antara manusia dengan Allah SWT. Rasulullah adalah penyebab lahir dan batin hubungan antara manusia dengan Allah. Wahyu dari Allah, Rasul sampaikan kepada manusia. Sayangnya manusia tidak memanafaatkan wasilah Rasulullah itu, karena belajar Islam tidak secara lengkap dan global. Dalam sholat yang dipelajari hanya aspek-aspek yang menyangkut syarat, rukun, sah dan batal. Ini sudah menjadi tradisi ratusan tahun. Ilmu sholat secara global tidak diajar.

Sebenarnya setiap kali akan mengerjakan sholat fardhu, Tuhan memberitahu besarnya peranan Rasulullah. Selepas azan, selepas iqamat, ada doa yang sangat penting dan besar untuk kehidupan manusia. Allahuma robba haza da’wati tammah wa sholati qoimah. Ati saidina muhammadi wasilatan walfadhilah. Waba’ashu maqoma mahmuda. Innaka la tuhliful mi’ad.

Mari kita fokus tentang “Wasilatan walfadhilah…” Wasilah itu penyebab. Penyebab dari Allah untuk dapat kenal dan cinta Tuhan, untuk dapat Islam, untuk dapat khusyu’ dalam sholat atau untuk dapat harta. Hendak dapat akhlak atau kehidupan yang baik. Hendak dapat dunia atau akhirat, mesti melalui Rasulullah. Mari kita uraikan wasilah saja. Makna dalam doa itu, ” Wahai Tuhan, yang mensyariatkan seruan yang sempurna dan sholat yang disyariatkan ini, Engkau jadikanlah Nabi Muhammad ini wasilah kami ….” Wasilah artinya penyebab lahir dan batin kami. Iman, sholat dan harta kami. Islam kami, dunia dan akhirat kami.

Memang Tuhan sudah jadikan Rasulullah itu wasilah Tuhan kepada hamba Nya. Tetapi mengapa kita disuruh berdoa meminta Rasulullah SAW menjadi wasilah kita dengan Allah? Walaupun Nabi Muhammad itu Rasul, adakah dia berperanan sebagai Rasul terhadap setiap orang? Sebab itu umat manusia mesti minta. Hakikatnya walaupun kita yakin dia Rasul, adakah dia mau menjadi Rasul kita? Atas dasar itu, maka doa tadi tidak salah bahkan diajarkan oleh Islam. Walaupun dia memang wasilah, adakah dia mahu menjadi wasilah kita dengan Allah? Oleh kerana kita tidak pasti, apakah Rasulullah hendak menjadi penghubung kita dengan Allah. Seolah-olah Tuhan berkata, “Engkau sangat memerlukan manusia ini. Walaupun Aku jadikan dia sebagai wasilah antara engkau dengan Aku, belum tentu dia jadi wasilah engkau. Maka untuk khusyu dan terhubung dengan aku mintalah padanya dengan doa ini”.

Di sini nampak pentingnya Rasulullah sebagai wasilah untuk mengusahakan khusyu’ dalam sholat. Wasilah, penyebab antara Allah dan kita dalam urusan dunia dan akhirat. Yang aneh lagi, ditetapkan doa yang sama antara azan dan iqamat. Ini kaedah yang menguatkan, menunjukkan aspek ini sangat penting. Jarang berlaku dalam doa, kedaannya sama kecuali ini. Artinya kita memang sangat memerlukan orang ini untuk dunia dan akhirat, lahir dan batin kita termasuk khusyu’ dalam sholat kita.

Untuk menjadikan Allah sebagai aset, kita perlu bertaqwa. Tetapi kita tidak dapat jadi bertaqwa kalau tidak melalui wasilah atau perantaraan Rasullulah SAW. Dengan menghayati doa setelah azan dan iqomat tadi kita ada kekuatan baru yakni merasakan Rasulullah SAW hadir bersama dalam sholat kita. Dia kita hadirkan. Kalau pada hari itu Rasulullah SAW tidak menjadi wasilah karena tidak kita minta atau karena ada hijab kita dengan Rasulullah SAW sehingga Rasulullah tidak mau menjadi wasilah, artinya sholat kita mungkin tidak betul hari itu. Artinya tiada kemenangan karena sholat itu adalah kemenangan. Tidak ada pertolongan Allah bila Rasululah tidak mau menjadi perantara kita dengan Allah, bila Rasulullah tidak suka kita. Penutup sholat kita bawa Rasulullah dalam bacaan tahiyat. Setiap kali kita memberi salam kepada Rasulullah SAW dalam bacaan tahiyat, beliau akan menjawab 10 x. Kalau hubungan dangan Rasulullah ini tidak terputus dan berhasil kita kekalkan di luar sholat artinya kita senantiasa terhubung dengan Rasulullah SAW di dalam atau di luar sholat.

Mengatasi bayangan zat Tuhan dalam sholat

Ada orang yang selalu di ganggu dengan bayangan zat Tuhan sewaktu sholat. Dia terbayang-bayang zat Tuhan, padahal membayangkan zat Tuhan ini adalah salah dan boleh merosakkan akidah. Bagaimana hendak mengatasinya?

Ini adalah gangguan syaitan. Syaitan ini pandai. Ia akan mengharu birukan orang atau mengacaukan fikiran orang. Terutama bila manusia kurang ilmu. Dalam ajaran Islam ilmu itu penting. Sebab jika ilmu tidak cukup dan tidak tepat, bagaimana akan beramal. Sebab itu ilmu penting, baik ilmu tentang aqidah, tauhid, syariat, tasawuf, akhlaq, mesti dimiliki secukup-cukupnya. Kalau tidak cukup ilmu, bila berhadapan dengan masalah yang kita tidak ada jawaban, maka syaitanlah yang akan memberii jawaban terutama dari segi aqidah. Zat Tuhan tidak sama dengan sekalian makhluknya atau tidak serupa dengan sebarang ciptaannya baik manusia, haiwan, kayu, malaikat, tumbuhan, gunung-gunung dan lain-lain. Bila dikatakan Tuhan tidak sama dengan ciptaanNya, bila kita faham kedudukan makhluk, kedudukan benda ciptaan Tuhan, kemudian kita tidak tahu bagaimana Tuhan, itulah ilmu. Kalau kita tahu bagaimana Tuhan, itu pembohongan bukan ilmu, artinya kita sudah sesat. Kalau sesat dari segi syariat mungkin kita terjatuh kepada haram saja, kalau sesat dari segi tasawuf pun mungkin kita terjatuh kepada haram saja, tapi kalau tersesat di sudut aqidah, dapat membawa kepada syirik.

Contoh perbezaan antara Tuhan dan makhluk

  1. Kalau makhluk berada dalam masa, Tuhan tidak ada dalam masa. Kalau makhluk terlibat dalam malam dan siang, Tuhan tak terlibat dalam malam dan siang.
  2. Tuhan tidak mengambil ruang seperti makhluk. Makhluk, kalau dia tidak berada di kanan, dia ada di kiri. Kalau tidak ada di atas, dia di bawah. Kalau tidak berada di depan, dia berada di belakang. Tapi Tuhan tidak begitu.
  3. Tidak tahunya kita tentang Tuhan itulah tahu, itulah arti ilmu, itulah berarti kita tahu tentang Tuhan. Kalau tentang makhluk tidak tahu, artinya memang kita tidak tahu. Manakala tentang Tuhan, bila tidak tahu, itulah pengetahuan.
  4. Tuhan itu maha Esa, Tuhan itu satu. Satu itu kalau pada benda dia boleh dibelah-belah, tapi Tuhan tidak boleh dibelah-belah. Artinya satunya Tuhan berbeda dengan satunya makhluk. Satunya makhluk boleh dipecah dan dibagi-bagikan.
  5. Tuhan itu tidak berhajat kepada semua yang Dia ciptakan, tetapi makhluk berhajat pada Tuhan. Di sini ada 2 tujuan : 1. Tuhan ingin memperlihatkan kebesarannya dan 2. keperluan makhluk itu sendiri yang berhajat kepada Tuhan dan ciptaan-ciptaan Tuhan. Jadi semua ciptaan Tuhan faedahnya kembali kepada makhluk, bukan kepada Tuhan.

Kesan Sholat yang Khusyu pada Kehidupan Sehari-hari

Allah tidak memerlukan sholat dan ibadah makhluk. Kalau seluruh manusia dan makhluk bersepakat untuk tidak sholat dan beribadah kepada Allah, maka Kebesaran dan Kesempurnaan Allah tidak berkurang sedikitpun. Begitu juga bila seluruh manusia dan makhluk bersepakat untuk mengerjakan sholat dan banyak beribadah kepada Allah, maka Kebesaran dan Kesempurnaan Allah tidak bertambah sedikitpun, karena Allah sudah Sempurna. Jadi mengapa Allah perintahkan kita beribadah, mengerjakan sholat?

Allah memerintahkan kita beribadah, mengerjakan sholat, kebaikannya untuk umat manusia. Di dalam sholat kita sudah berusaha menanamkan sifat-sifat kehambaan dan akhlak mulia seperti tawadhu, pemurah, berkasih sayang, bersangka baik, mengharap bantuan dan pertolongan Tuhan. Kemudian sholat kita tutup dengan mendoakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh makhluk yang ada di sebelah kanan dan dis ebelah kiri kita, termasuk golongan manusia, jin dan malaikat. Inilah kesimpulan dari sholat yang akan dibawa di dalam kehidupan kita di luar sholat.

Selepas sholat yang dihayati, maka umat Islam akan menjadi umat yang suka menolong, pemurah, berkasih sayang, berakhlak mulia dan lain-lain. Mari kita lihat bagaimana buah dari sholat yang khusyu masyarakat salafus saleh yang pernah wujud dalam 300 tahun pertama setelah Rasulullah SAW. Gambaran realiti masyarakat salafussaleh sebagai berikut :

  • Dari segi ibadah, masyarakat salafussaleh secara umum mengerjakan ibadah malam dengan sholat dan membaca Al Qur’an
  • Buah dari sholat yang dihayati dan cinta kepada Tuhan, lahirlah cinta pada sesama manusia, artinya tidak ada kepentingan pribadi, yang terfikir bagaimana membantu dan menyenangkan orang lain.
  • Islam sudah menjadi cara hidup. Apa yang masyarakat Islam hari tidak buat, dibuat oleh masyarakat salafussaleh, misalnya
    • Katalah ada orang musafir, mereka ada 2 cara untuk menyambut tetamu : atas nama masyarakat dan atas nama individu. Atas nama masyarakat, mereka memiliki musafir khana, atau rumah tetamu. Atas nama individu, di beberapa tempat terpaksa diundi, karena setiap orang berebut untuk menjamu tetamu. Mereka sangat menghayati ucapan Rasulullah SAW bahwa kedatangan tetamu membawa rahmat dan keperhiannya penghapusan dosa. Sebab itu kalau ada orang yang bermusafir tidak membawa, mereka tetap akan selamat, karena masyarakat dan individu berebut untuk menjamu dan melayan tetamu. Bila ingin menyambung perjalanan, masing-masing memberi bekal tambahan.
    • Kalau ada yang berbelanja di pasar, dia akan sanggup membayarkan orang yang berbelanja di sebelahnya walau orang itu tidak dikenalnya. Mereka berebut-rebut saling ingin membayarkan. Di malam hari ada yang pergi ke kedai, meminta daftar catatan hutang kepada pemilik kedai dan membayarkan hutang-hutang orang dengan berpesan kepada pemilik kedai untuk tidak memberi tahu siapa yang membayar hutang-hutang tersebut. Itulah kesan dan buah cinta tuhan dan sholat yang khusyu’.
    • Kalau perempuan berjalan sendiri walaupun tersesat, tidak ada yang mengganggu. Bahkan ada yang menyelamatkannya, membawa ke rumah. Suasana di zaman itu begitu selamat sekali.
    • Setiap orang, lepas sholat subuh, bila tidak ada kerja sendiri karena kehidupannya mungkin agak senang dan makmur, dia akan pergi keliling kampung. Bila dia nampak rumah yang tangganya atau atapnya rusak, dia minta ijin kepada tuan rumah untuk membetulkannya tanpa meminta bayaran. Setelah itu dia akan mencari fakir miskin dan orang susah untuk dapat memberi bantuan. Orang miskin dan susah terbela, karena orang berebut-rebut membelanya.
    • Kalau musim buah, buah itu hak bersama. Pemilik kebun akan issytihar : kebun saya sudah berbuah. Dia akan mengajak orang-orang yang tidak ada kebun buah untuk makan buah-buahan bersama-sama dari kebun dia, tentu saja tanpa membayar.
    • Nikah kawin di waktu itu mudah, kadang mas kawin dengan bacaan Al Qur’an saja, atau benda-benda yang harganya murah saja. Masing-masing ingin mengambil hati org lain, menghibur orang lain, hasil dari sholat dan cinta Allah.
    • Kalau mereka berada di terminal kendaraan umum : unta atau kuda dan kebetulan orang sedang ramai dan kuda atau unta yang ada tidak cukup, maka mereka saling tolak untuk mendahulukan yang lebih memerlukan.
    • Bila ada anggota masyarakat yang membuat kenduri, seluruh penduduk kampung membantu. Ada yang membawa ayam, pisang, tepung gandum, beras. Yang tidak ada apa-apa membantu dengan tenaganya.
    • Di waktu itu orang sangat mementingkan faktor berkat dalam makan minum, nikah kawin dan sebagainya. Contohnya ketika hendak meminang seorang anak gadis, maka dia akan tanya kepada emak ayah gadis itu, bagaimana anak gadis bapak? Katalah orang itu menjawab, anak perempuan saya istimewa, dia tidak pernah sakit. Maka orang itu tidak jadi meminang anak gadis itu, sebab orang yang tidak pernah sakit itu artinya dia tidak ada dalam perhatian Allah. Diantara ciri-ciri orang soleh adalah selalu mendapat ujian dan cobaan sebagai kasih sayang Allah. Kalau seseorang itu tidak pernah sakit, kita takut dia tak mendapat kasih sayang Tuhan. Dalam hal lain katalah emak ayah dari gadis itu mengerjakan ssholat, tetapi datuknya tidak sholat, maka ia tak jadi meminang, takut tidak berkat, takut Tuhan tidak bantu.
    • Suasana kehidupan antara tetangga dengan tetangga, bagaikan adik beradik. Sakit pening dijaga, makan minum, dijaga. Kalau seseorang tidak ada di rumah, maka rumah dia dijaga oleh tetangganya.
    • Kalau antara tetangga begitu sekali, maka dengan emak ayah, anak istri lagilah baik. Kalau suami membuat sedikit kesilapan dan kesalahan, maka istrinya yang susah hati, bukan suami. Diapun berkata dalam hatinya, ‘ini karena dosa aku agaknya, kalaul bukan karena dosa aku, takkkan suamiku Allah biarkan tersilap’. Bila istri tersilap dan tersalah, maka suami pula yang susah hati, hatinya berkata, ‘karena dosa akulah Tuhan hukum isteri aku begitu’. Jadi berlakulah dalam keluarga itu, istri yang membuat salah, suami yang minta maaf dan bertaubat, suami yang membuat salah, istri yang meminta maaf dan bertaubat.
    • Guru-guru terutama yang menunjukkan jalan ke akhirat sangat disayangi dan dihormati. Perintah dan arahannya sangat ditaati. Kalau ada arahan dari guru, emak ayah tidak campur tangan. Mereka akan berkata : “Kalau guru suruh buat kerja, 2 atau 3 hari engkau tidak pulang tidak apa

Begitulah kesan dari umat islam yang membangunkan sholat dengan sungguh-sungguh dan dihayati. Lahirlah pribadi-pribadi yang kuat keyakinan dan agung, kuat imannya, agung akhlaknya, disiplin hidupnya, bersih jiwanya terhadap mazmumah, bersih lahir daripada maksiat dan kemungkaran kecuali terlalu sedikit dan peribadi yang kuat syari’atnya.

Gabungan individu ini akan lahirlah satu bangsa yang agung, agung keyakinannya, agung imannya, agung akhlaknya, agung kebudayaan nya, agung disiplinnya,. Dan Allah ta’ala akan menjadikan bangsa lain tunduk kepada keagungannya kerana bangsa yang agung ini telah dinaungi oleh Allah ta’ala yang Maha Agung. Begitulah peranan sholat yang khuyu’ dan dihayati.

Sumber: http://www.kawansejati.org/ilmu-dan-hikmah-1/ms-05-mengusahakan-khusyuk-dalam-solat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s