11 Bagian Ketujuh: KISAH TENTANG TAFSIR AYAT 32 S. FATHIR

Bagian ketujuh
KISAH TENTANG TAFSIR AYAT 32 S. FATHIR
Dalam kitab ‘Uyunul-Akhbar’ terdapat sebuah kisah tentang tafsir ayat 32 S. Fathir yang berbunyi sebagai berikut:
“Kemudian Kitab itu ‘Al-Qur’an’ Kami wariskan kepada orang-orang dari hamba Kami yang telah Kami pilih”.
Pada suatu hari Imam ‘Ali Ar-Ridha r.a. (seorang pemimpin terkemuka keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w.) menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Khalifah Al-Ma’mun di Marwa. Dalam pertemuan tersebut hadir pula sejumlah ulama dari Iraq dan Khurasan. Mereka diminta oleh Khalifah Al-Ma’mun supaya menafsirkan ayat 32 S. Fathir tersebut di atas. Atas permintaan Khalifah Al-Ma’mun para ulama dari kedua daerah itu menerangkan, bahwa yang dimaksud kalimat ‘orang-orang dari hamba Kami yang telah Kami sucikan’ ialah ummat Islam seluruhnya. Imam Ar-Ridha tidak sependapat dengan para ulama yang hadir, kemudian menguraikan tafsir ayat suci tersebut seperti di bawah ini:
“Yang dimaksud dengan kalimat tersebut…”, demikian kata Imam Ar-Ridha, ‘…ialah ‘Al-Itrah At-Thahirah’ (‘Keturunan suci Rasulullah s.a.w.’). Sebab, kalau yang dimaksud kalimat tersebut ‘seluruh ummat Islam’ tentu semuanya akan menjadi penghuni syurga, padahal Allah telah berfirman lebih lanjut dalam ayat tersebut:
“Di antara mereka itu ada yang berlaku dzalim terhadap dirinya sendiri, ada yang sedang-sedang saja (muqtashid) dan ada pula yang lebih mendahului berbuat kebajikan seizin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar”.
Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:
“Bagi mereka disediakan ‘syurga Adn’, mereka akan memasukinya dan di dalamnya mereka akan dihiasi dengan gelang-gelang emas…”
Jadi, yang mewarisi Kitab suci ialah Al-‘Itrah At-Thahirah ‘keluarga suci keturunan Rasulullah s.a.w.’, bukan orang-orang selain mereka. Merekalah yang dimaksud oleh ayat:
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”, dan mereka itu jugalah yang dimaksud oleh Rasulullah s.a.w. dengan sabdanya:
“Kutinggalkan kepada kalian dua bekal: Kitabullah dan itrahku, ahlulbaitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di haudh (syurga). Maka perhatikanlah bagaimana kalian akan meneruskan kepemimpinanku mengenai dua hal itu”.
Lebih jauh Imam Ar-Ridha menjelaskan:
“Mereka diharamkan menerima shadaqah (atau zakat), padahal orang-orang selain mereka tidak diharamkan. Kalian tentu telah mengetahui bahwa baik hak waris maupun kesucian berada di tangan orang-orang pilihan yang hidup di atas hidayat Ilahi, bukan di tangan orang-orang lainnya. Allah s.w.t. juga telah berfirman:
“…Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, kemudian kepada keturunan dua orang Nabi itu kami berikan kenabian dan Kitab suci. Namun di antara mereka itu ada yang mengikuti hidayat dan banyak pula yang fasik”. – S. Al-Hadid: 26.
Jadi jelaslah, bahawa warisan atas kenabian dan Kitab suci, diberikan Allah kepada orang-orang yang memperoleh hidayat, bukan kepada orang-orang fasik. Selain itu Allah juga telah menganugerahkan kelebihan dan keutamaan kepada keluarga suci jauh lebih banyak daripada yang dianugerahkan kepada orang lain. Allah berfirman:
“…Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi semua ummat dalam zamannya masing-masing, yaitu suatu keturunan yang sebagiannya berasal dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” – S. Aali Imran: 34.
“Apakah mereka itu dengki kepada orang-orang itu kerana kurnia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguhlah bahwa Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim dan kepadanya telah Kami berikan kerajaan yang besar” (yakni kenabian turun temurun). (S. An-Nisa: 54)
Kemudian kepada seluruh kaum beriman Allah s.w.t. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri dari kalian”. – S. An-Nisa: 59.
Yakni orang-orang yang hidup dikurniai hikmah kenabian dan Kitab suci, yaitu orang-orang yang menjadi sasaran kedengkian dan irihati mereka yang tidak beriman.
Mengenai keturunan suci mereka (Al-Itrah At-Thahirah), Allah s.w.t. telah menjelaskan pengertiannya melalui firman-Nya:
“Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu (hai Muhammad) yang terdekat”. – S. Asy-Syu’ara: 214.
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”. – S. Al-Ahzab: 33.
“Barangsiapa yang membantahmu ‘hai Muhammad’ tentang kisah Isa setelah datang pengetahuan ‘yang meyakinkan kepadmu’, maka katakanlah kepada mereka: ‘Marilah kita panggil (kumpulkan) anak-anak kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah mohon supaya menimpakan laknat-Nya kepada orang-orang yang berdusta”. (S. Aali Imran: 61).
Kemudian Rasulullah s.a.w. menampilkan ‘Ali, Fatimah, Al-Hasan dam Al-Husein radhiyallahu ‘anhum. Dengan demikian Rasulullah s.a.w. mengertikan kalimat ‘diri-diri kami’ dengan ‘Ali r.a. Hal itu dipertegas lagi oleh sabda beliau ketika itu:
“Hendaknya Bani Wali’ah kaum Nasrani dan Najran mahu berhenti; jika tidak, maka akan kuutus kepada mereka seorang yang seperti diriku”.
Yang dimaksud dengan ‘seorang seperti diriku’ ialah ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah keistimewaan khusus yang tidak ada pada orang lain mana pun juga.
1. Perintah Rasulullah s.a.w. kepada para penghuni rumah dalam lingkungan masjid nabawiy supaya berpindah tempat tinggal, kecuali keluarga suci (Imam ‘Ali r.a. dan keluarganya), sehingga banyak orang bertanya, termasuk ‘Abbas paman Nabi: ‘Ya Rasulullah, kenapa anda membiarkan ‘Ali tinggal di tempat itu, sedangkan kami anda keluarkan’? Beliau menjawap: ‘Aku tidak membiarkan dia dan mengeluarkan kalian, tetapi Allah-lah yang membiarkan dia dan mengeluarkan kalian’
Mengenai hal itu terdapat keterangan yang jelas, yaitu pertanyaan Rasulullah s.a.w. kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a.:
“Kedudukanmu di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, tetapi tidak ada Nabi lagi sesudahku’.
Firman Allah s.w.t. kepada Musa a.s. sejalan dengan pertanyaan Rasulullah s.a.w. kepada ‘Ali r.a., yaitu firman-Nya:
“Dan telah Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Hendaklah kalian berdua mengambil beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu, dan jadikanlah rumah-rumah kalian itu tempat beribadah”. (S. Yunus: 87).
Dalam ayat-ayat tersebut di atas tampak jelas kedudukan Harun di sisi Musa dan kedudukan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. di sisi Muhammad Rasulullah s.a.w. Bersamaan dengan itu beliau s.a.w. sendiri telah menegaskan:
“Masjid ini – yakni yang boleh bertempat tinggal di lingkungan masjid nabawiy – tidak halal kecuali bagi Muhammad dan ahlulbaitnya”.
2. Allah telah berfirman:
“Dan berikanlah kepada kaum kerabat hak mereka”. (S. Al-Isra: 26).
Ayat tersebut merupakan kekhususan bagi ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah s.a.w. berkata kepada puterinya, Fatimah r.a.:
“Itulah sebidang tanah di Fadak, yang tidak tergarap baik dengan menggunakan tenaga unta ataupun kuda. Tanah itu khusus bagiku, bukan untuk kaum Muslimin. Atas perintah Allah tahah itu kuberikan kepadamu, maka ambillah untukmu dan anak-anakmu”.
Allah telah berfirman:
“Katakanlah (hai Muhammad); ‘Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da’wah Risalah) itu selain agar kalian berkasihsayang dalam kekeluargaan”. (S. Asy-Syura: 23).
Ayat tersebut juga khusus bagi ahlulbait Rasulullah s.a.w., bukan bagi orang lain. Berkasihsayang dengan ahlulbait beliau s.a.w. adalah kewajipan yang ditetapkan Allah s.w.t. bagi segenap kaum Mu’minin. Setiap orang beriman yang berkasihsayang dengan ahlulbait Rasulullah s.a.w. dengan setulus hati ia akan dimasukkan ke dalam syurga. Mengenai itu Allah telah berfirman:
“Dan mereka yang beriman serta berbuat kebajikan akan berada di dalam taman-taman syurga. Di sisi Tuhan mereka akan memperoleh apa yang mereka ingini. Yang demikian itu adalah kurnia amat besar. Dengan kurnia itulah Allah menggembirakan para hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebajikan. Katakanlah (hai Muhammad) ‘Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da’wah Risalah yang kusampaikan) itu selain agar kalian berkasihsayang di dalam kekeluargaan”. (S. Asy-Syura: 22-23).
Ayat tersebut memberi penafsiran yang jelas, akan tetapi banyak orang yang tidak memenuhi permintaan beliau itu.
Abulhasan meriwayatkan sebuah Hadits yang didengar dari para orangtuanya dan berasal dari Amirul Mu’minin Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a.; bahwasanya pada suatu hari sejumlah Muhajirin dan kaum Anshar bersepakat datang menghadap Rasulullah s.a.w. Dalam pertemuan dengan beliau itu mereka berkata: ‘Ya Rasulullah, anda tentu memerlukan harta dan barang-barang untuk nafkah penghidupan anda sendiri dan untuk menjamu para utusan dari berbagai daerah yang datang menghadap anda. Ambillah harta dan kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kamahuan anda atau simpanlah jika anda hendak menyimpannya’. Pada saat itu turunlah malaikat Jibril, lalu berkata kepada Rasulullah s.a.w.: ‘Hai Muhammad, katakanlah: Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da’wah Risalah yang kusampaikan) itu selain agar kalian berkasihsayang dalam kekeluargaan’. Beberapa orang munafik yang ada di dalam rombongan mereka itu berkata di antara mereka sendiri: ‘Yang membuat Rasulullah tidak mahu menerima tawaran kami itu ialah kerana ia hendak mendesak kami supaya mencintai kaum kerabatnya setelah ia wafat. Itu adalah kebohongan yang sengaja dibuat-buat dalam pertemuan. Itu suatu kedustaan yang besar sekali’! Atas celotehan kaum munafik itu turunlah wahyu Ilahi:
“Bahkan mereka mengatakan: ‘Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kedustaan terhadap Allah!’ Jika Allah menghendaki nescaya Dia mengunci-mati hatimu. Allah (berkuasa) menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an). Sungguhlah, bahawa Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada (hati)”. (S. Asy-Syura: 24).
Setelah menerima wahyu tersebut Rasulullah s.a.w. mengutus seorang sahabat untuk menanyakan: Apakah benar ada orang yang berkata seperti itu?
Di antara rombongan yang pernah datang menghadap Rasulullah s.a.w. itu menjawap: Ada beberapa orang di antara kami yang berkata sekasar itu, dan kami sendiri sangat tidak menyukainya.
Utusan Rasulullah s.a.w. itu kemudian membacakan ayat tersebut di atas kepada mereka. Mereka menangis, kemudian turunlah firman Allah kepada Rasul-Nya:
“…Dialah Allah yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian perbuat”. (S. Asy-Syura: 25).
Demikian pula mengenai ketaatan, Allah telah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil-amri dari kalian”. (S. An-Nisa: 58).
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya tunduk kepada Allah”. (S. Al-Ma’idah: 55).
Jelaslah, bahwa ketaatan kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. sekaitan dengan ketaatan kepada beliau s.a.w. dan kepada Allah; dan kepemimpinan mereka pun sekaitan dengan kepemimpinan beliau s.a.w. dan dengan kepemimpinan Allah s.w.t. Demikian pula hak mereka untuk menerima bagian (4% = Khumusul-khumus) dari ghanimah dan jarahan perang sekaitan dengan hak beliau s.a.w. untuk menerima bagian itu. Di luar itu Allah s.w.t. mengharamkan Rasulullah dan para ahlulbaitnya menerima shadaqah atau zakat. Mengenai hal itu Allah telah berfirman:
“Sesungguhnyalah, bahwa shadaqah (atau zakat) hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang yang bekerja mengurus shadaqah (zakat), kaum muallaf (yang masih perlu dimantapkan (hatinya), untuk (memerdekakan) budak, untuk menolong orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh. (Semuanya itu) merupakan ketetapan yang diwajibkan Allah”. (S. At-Taubah: 60).
3. Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa dalam Al-Qur’anul-Karim Allah s.w.t. telah berfirman:
“Dan perintahkanlah keluargamu supaya menegakkan shalat dan hendaknya engkau bersabar dalam mengerjakannya”. (S. Tha Haa: 132).
Sebagai pelaksanaan perintah Allah itu Rasulullah s.a.w. sejak turunnya ayat tersebut, tiap hari selama sembilan bulan selalu singgah ke pintu rumah ‘Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma pada saat-saat beliau hendak menunaikan shalat fardhu di masjid beliau lima kali sehari. Dari pintu rumah puterinya itu beliau selalu mengingatkan: ‘As-Shalatu, yarhamukumullah!’ (‘Shalat …semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian’). Bila mendengar itu Abul-Hasan (Imam ‘Ali r.a.) selalu berucap: ‘Al-hamdu lillah yang mengkhususkan kemuliaan besar kepada kami”!
Demikianlah uraian Imam Ar-Ridha r.a. dalam menjelaskan dalil-dalil dan hujjah-hujjah mengenai makna ayat 32 S. Fathir, yang berbunyi:
“Kemudian Kitab itu (Al-Qur’an) Kami wariskan kepada orang-orang dari hamba Kami yang telah kami pilih”.
Dalam mengakhiri pertemuannya dengan para ulama itu Khalifah Al-Ma’mun berkata kepada Imam ‘Ali Ar-Ridha r.a.: ‘Semoga Allah membalas kalian, ahlulbait, dengan kebajikan sebesar-besarnya dari ummat ini!’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s