Nabi SAW Menziarahi Orang Tuanya

Ziarah Ke Makam Ibunda Nabi

Di dalam kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)” diterangkan  yang artinya sebagai berikt :

“Dari Abu Hurairah beliau berkata: Nabi saw berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya.


Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i “.

Maksud hadits tersebut di atas sebagai berikut:

“Ketika Nabi Muhammad saw menziarahi ibunya yang bernama Sayyidah Aminah binti Wahab, beliau menangis karena ibunya tidak beragama Islam dan tidak mendapat kesenangan di dalamnya, dan Allah tidak mengidzinkan Nabi saw memintakan ampunan untuk ibunya. Karena, permintaan ampunan itu syaratnya harus beragama Islam. Sedangkan ibunda Nabi saw wafat dalam keadaan menganut agama kaumnya sebelum Nabi saw. Hal ini bukan berarti ibunda Nabi saw tidak masuk surga, karena ibunda Nabi termasuk ahli fatrah (masa kekosongan atau vakum antara dua kenabian).

Menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga).

Firman Allah swt: و ما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

Bahkan berlaku dan absah menurut ahli mukasyafah bahwa Allah ta’ala menghidupkan kembali kedua orangtua Nabi saw setelah beliau diangkat jadi Rasul. Kemudian, mereka beriman kepada Nabi saw. Oleh karena itu, sudah pasti mereka termasuk ahli surga”.

قبر السيدة آمنة بنت وهب ..
At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul

Nabi ke Makam Ayahnya

Pada usia 6 tahun Rasulullah saw diajak oleh ibunda Siti Aminah untuk menziarahi makam ayahnya, Ayahnya meninggal pada saat Beliau masih di dalam kandungan. Siti Aminah dan Muhammd saw serta di temani budak warisan dari ayahnya yang bernama Ummu Aiman. Setelah meminta izin ke kakek tercintanya Abdul Mutholib maka mereka bertiga berangkat ke Madinah dan sampai di Madinah Muhammad adalah seorang anak yang supel, sopan, dan pandai bergaul dengan teman teman –yang notabenenya adalah teman—barunya.

Pada suatu hari, saat beliau bermain ke suatu tempat ada seorang yang Yahudi yang mengetahui ada stempel kenabian di dalam kepribadiannya, sehingga menyebar berita tentang kedatangan Muhammad saw. Berita demi berita berkembang dan berita itu terdengan oleh Ummu Aiman, segera Ummu Aiman melaporkannya ke Siti Aminah. Karena Siti Aminah khawatir apabila terjadi hal hal yang tidak di inginkan maka Muhammad diajak untuk kembali ke Mekkah, demi sang buah hati yang sebenarnya adalah calon pemimpin ummat dan jadi teladan seluruh ummat di dunia ini.

Ditengah perjalanan ayah bunda tercinta yaitu Siti Aminah sakit dan meninggal dunia, kemudian di makamkan di Abwa’. Kemudian Muhammad melanjutkan perjalanan menuju Mekah dengan ditemani dan Ummu Aiman. Sesampainya di Mekah, Muhammd saw diserahkan ke kakeknya Abdul Mutholib dan kini status Muhammad menjadi yatim-piatu yang diasuh oleh kakeknya seorang tokoh Quraisy terkemuka pada masa itu.

Abdul Mutholib mempunyai 12 anak, akan tetapi yang masih hidup pada saat kelahiran Muhammad hanya ada empat yaitu Hamzah, Abbas, Abu Lahab dan Abu Tholib. Hamzah dan Abbas mengimani kerasulan Muhammad saw pada saat mendapat wahyu di gua hiro, sedangkan Abu Tholib dan Abu Lahab, menurut sejarawan keduanya belum beriman dengan kerasulan Muhammd saw sampai akhir hayatnya, meskipun Abu Thalib mendukung dengan gerakan dakwah yang dibangun oleh Rasulullah saw. Berbeda dengan pamannya yang bernama Abu Lahab yang menentang keras terhadap dakwah Rasulullah hingga Allah mengabadikan namanya di dalam al Qur’an yaitu surat al Lahab.

Sepeninggal Abdul mutholib Muhammad ikut pamannya yaitu Abu tholib hingga Abu Tholib meninggal dunia dan berbondong bondong orang orang mekah mulai masuk Islam

Nabi di tanya tentang orang tuanya

Pada suatu hari seseorang bertanya kepada القاضي ابو بكر ابن العربي ada seseorang lelaki yang mengatakan
Ayah nabi di dalam neraka…
Beliau menjawab lelaki itu ملعون dilaknat oleh allah
Kerna Allah berfirman ;

إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله ف الدنيا والآخرة و أعد لهم عذابا مهينا

Artinya: orang orang yang menyakiti Allah dan RasulNya meng laknat oleh Allah di dalam dunia dan akhirat
Dan Allah berjanji kepada mereka akan azab yg hina..

Dan tidak ada kepedihan yang lebih besar selain mengatakan ayahnya di dalam neraka
Bagai mana tidak padahal sungguh diriwayatkan oleh

 ابن منده وغيره عن أبي هريرة رضي الله عنه قال

Datang lah سبيعة بنت أبي لهب kepada Rasulullah saw lalu dia berkata

Ya rasul manusia berkata : bahwa sungguh engkau itu anak dari pada ahli neraka. Maka beliau berdiri
Dan beliau marah dan beliau berkata ;barang siapa yg menyakiti ku maka dia telah menyakiti Allah…

Imam Ath-Thobari menyebutkan hadits berikut yang telah ditakhrij oleh Abu Ali bin Syadzan dan juga terdapat dalam Musnad Al-Bazzar dari Ibu Abbas Ra, beliau berkata :
 
ﺩﺧﻞ ﻧﺎﺱ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﺶ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﻴﺔ ﺑﻨﺖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﻓﺠﻌﻠﻮﺍ ﻳﺘﻔﺎﺧﺮﻭﻥ
ﻭﻳﺬﻛﺮﻭﻥ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺻﻔﻴﺔ ﻣﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ
ﺗﻨﺒﺖ ﺍﻟﻨﺨﻠﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺸﺠﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﺍﻟﻜﺒﺎ ﻓﺬﻛﺮﺕ ﺫﻟﻚ ﺻﻔﻴﺔ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻐﻀﺐ ﻭﺃﻣﺮ ﺑﻼﻻ ﻓﻨﺎﺩﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻘﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺒﺮ
ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﻧﺎ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺃﻧﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺴﺒﻮﻧﻲ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ
ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﻗﺎﻝ ﻓﻤﺎ ﺑﺎﻝ ﺃﻗﻮﺍﻡ ﻳﻨﺰﻟﻮﻥ ﺃﺻﻠﻲ ﻓﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ
ﻷﻓﻀﻠﻬﻢ ﺃﺻﻼ ﻭﺧﻴﺮﻫﻢ ﻣﻮﺿﻌﺎ .
 

“ Beberapa orang dari Quraisy datang kepada Shofiyyah binti
Abdil Muththalib, lalu mereka saling membangga-banggakan
diri dan menyebutkan perihal jahiliyyah. Maka Shofiyyah
berkata “ Dari kalangan kami lahir Rasulullah Saw “,lalu mereka menjawab “ Kurma atau pohon tumbuh di tempat kotor “. Kemudian Shofiyyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw marah dan memerintahkan Bilal berseru pada orang-orang untuk berkumpul, lalu Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar dan bersabda “ Wahai manusia, siapakah aku ? mereka menjawab“ Engkau adalah utusan Allah. Kemudian Rasulullah bersabda lagi “ Sebutkanlah nasabku ! Mereka menjawab “ Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib “, maka Rasulullah Saw
bersabda “ Ada apa satu kaum merendahkan nenek moyangku,

Maka demi Allah sesungguhnya nenek moyangku seutama-utamanya nenek moyang dan sebaik-baik tempat (kelahiran).

kita jauhkan sifat “memvonis” yang dapat menjadikan kita “kufri” terhadap apa yang kita voniskan.
Di dalam alqur’anulkarim dijelaskan..
ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻣُﻌَﺬِّﺑِﻲﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﺒْﻌَﺚَ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ
“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus
seorang rasul.”
Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari
seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat. (ini
jawaban paling aman).

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

    Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya” [HR. Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i dalam Ash-Shughraa no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686].

     
     Hadits tsb(yang anda sampaikan) diriwayatkan oleh Hammad.
    Bagaimana status Hammad sebagai perawi hadits?
    Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
    “ ﺍِﻥَّ ﺍَﻋْﺮَﺍﺑِﻲﺍًّ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺮَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺍَﻳْﻦَ ﺍَﺑِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﻳْﻦَ ﺍَﺑُﻮْﻙَ ﻗَﺎﻝَ
    ﺣَﻴْﺜُﻤَﺎ ﻣَﺮَﺭْﺕَ ﺑِﻘَﺒْﺮِ ﻛَﺎﻓِﺮٍ ﻓَﺒَﺸِّّﺮْﻩُ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺭِ ”
    Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana
    ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun
    menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka
    berilah kabar gembira dengan neraka “
    Riwayat di atas TANPA menyebutkan ayah Nabi di neraka.
    Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari
    Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.
Semoga bermanfaat.
Sumber:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s