Kisah Karomah Habib Anis Solo

habib-anis

Jiwa berbisnis dan berdagang sudah menjadi jibillah para Sayyid, Sifat bawaan lahir para Sayyid. Hal seperti itu bukan sesuatu yang mengherankan, jika menilik datuk mereka, Sayyidil Wujud al Mushthafa SAW adalah seorang pedagang yang sangat sukses. Karena itulah sebagian Ulama berpendapat bahwa antara bertani dan berdagang itu lebih afdhal berdagang, karena dahulu Nabi SAW adalah seorang pedagang .

Dan berdagang kain adalah yang paling afdhal dari pada yang lain karena selain kain itulah yang nanti dapat menutupi aurat seseorang, juga karena dahulu Rasulullah SAW adalah pedagang kain juga. Maka jamak di temui para sayyid, merekapun pada berdagang kain, Jual gamis, Jual sarung. Bukan sekedar menjual barang, tetapi mereka menjual apa yang dijual Kakek mereka.

Cuma saya pernah ketemu Sayyid muda yang rada perlente, saat basa-basi soal pekerjaan, saya dengan sok tahu bertanya kepadanya : “ jual kain ya, Ndoro ? “
Dengan muka masam dia menjawab : “Kagak, Jual kain cuman Ta’ab doang . Faedahnya dikit …”
Saya balik bertanya : “ Lalu jual apaan ? “
Dia menjawab sambil nyodorin kartu nama : “ Ane nih, broker batu bara … “

Sebelah timur Zawiyyah, ada deretan Ruko-Ruko. Dahulu tahun 2000 ketika saya bermalam di zawiyyah, ruko-ruko itu belum jadi masih dalam proses pembangunan. Konon pembuatan ruko – ruko tersebut langsung atas ide dan perintah Habib Anis .

“ Beliau berpendapat bahwa jika Zawiyyah adalah tempat kami mencari rejeki bathin, maka ruko-ruko itu adalah tempat kami mencari rejeki-rejeki dhahir. “ Kata salah satu keponakan Habib Anis. Tampaknya Habib Anis tidak hanya memperhatikan urusan-urusan bathiniyyah orang-orang di sekitarnya, tetapi beliau juga tidak melupakan urusan-urusan lahiriyyah mereka.

Suatu karakter khusus bagi saya dalam mensifati para Auliyaillah yang jamak saya temukan di tanah jawa ini. Saya lihat makam-makam para Auliya besar di bumi Jawa Dwipa ini selalu dikelilingi para pedagang yang menjual aneka barang-barang serta suvenir untuk para pelancong dan peziarahnya. Namun, apa yang dilakukan Habib Anis lebih istemewa lantaran beliau lakukan semenjak beliau masih hidup di dunia.

Kita jika sampai di halaman Gedung Al Habasyi itu, di barat air mancur kecilnya, kita akan mendapati berderet toko-toko. Ada toko yang menjual gamiis, kain dan aneka minyak wangi, khas tokonya orang keturunan arab. Ada warung kecil menjual Bakso dan aneka makanan. Ada Butik dan apotik. Dan macam – macam toko pernak-pernik .

Semuanya memanjakan hasrat belanja kita, terutama untuk kaum Hawa dan para istri –istri. Suami keluar dari dalam Zawiyyah membawa keberkahan do’a. Istri keluar dari ruko membawa lembaran kwitansi dan nota .

Suatu malam saat saya bertandang ke kediaman salah satu keluarga Al Habasyi di jalan semanggi [ kalu tidak salah ]. Pada saat enak–enaknya berbicang dengan shahibul Bait, tiba-tiba datang anaknya yang masih seusia anak sekolahan, menghambur masuk dengan rona wajah yang berbinar – binar, sambil terus tersenyum dia bercerita kepada Abahnya :

“ Ajib, Bah tadi . “
“ Apaan? “ Tanya abahnya.
“ Habib Anis habis isyak tadi keluar, bawa kursi dan ikut ngobrol bareng kita orang di depan ruko. Orang–orang pada gembira, Bah. Meliahat Habib tampak ceria, ikut tertawa-tawa, setiap kita yang lewat bersalaman. Setiap kita yang datang beliau sapa… Ya kher lailah …”

“ Bahlul, ente. Ngapain kaga telepon Abah? “ Semprot bapaknya.
“ Ane liat habib begitu, Bah . Lupa semuanya. Lupa Abah lupa Ummi’. Wis pokoknya serasa ada di surga ..”

Abahnya cuman nyengir akhirnya. Tampak saya fahami, perbuatan ‘kecil’ yang keluar dari seorang yang ‘besar‘ seperti habib Anis nilainya tinggi dan tidak terkira. Habib Anis keluar, ikut nimbrung semenit dua menit, jagongan ke luar adalah amaliyyah Mudaroh. Nyenengke orang. Kelihatannya sepele. Tetapi barang sepele itu yang melakukan orang seperti beliau jadi terasa luar biasa (idkholul surur)

Entah ini hadits atau atsar : “ tidurnya seorang Alim itu lebih baik daripada seribu rakaat shalatnya seorang awam.” artinya tidurnya orang aaliim mereka hatinya tidak tidur tetapi hatinya terus berdzikir mengingat Allah, dan shalatnya orang awam walau 1000 rakaat hatinya mengembara entah kemana/lalai mengingat Allah

Habib Anis dahulu saat – saat awal masih sempat mempunyai peternakan kambing dan toko Batik di Pasar Klewer. Punya pabrik Batik sendiri malahan. Yang mengurusi pembukuannya adalah adik beliau, Habib Ali bin Alwi. Dua kakak adik ini dalam beberapa waktu lamanya masih sering keluar masuk Pasar. Namun semenjak kegiatan Dakwah telah begitu dalam menarik masuk kedalam kehidupan mereka berdua, maka sudah tidak ada banyak waktu lagi buat berdagang .

Namun rejeki bagi orang-orang yang mulia seperti beliau ini tidak pernah berhenti, meski sudah tidak mempunyai pabrik serta toko lagi. Karena orang-orang yang ‘melayani’ Allah Ta’ala dengan ibadah dan Dakwah, maka Allah akan perintahkan dunia untuk melayaninya. Ada saja rejeki yang datang, bahkan jauh lebih banyak dibanding yang di hasilkan dari berjualan kain di Pasar .

Habib Anis merenovasi Masjid, membuat Zawiyyah, rumah serta toko-toko di depan itu, semua dari kantong pribadi beliau sendiri.Tidak meminta-minta dari para pengusaha atau membuat proposal bantuan kepada para penguasa pemerintah.

Pernah suatu ketika, datang seorang pengusaha sukses menemui Habib Anis dan membawa satu buntalan besar berisi uang, masih baru dan masih ada label  jumlah uangnya dari Bank tertentu, hanya Allah yang mengetahui berapa banyaknya. Saat menerima segepok uang itu Habib Anis hanya tersenyum.

“ Terimakasih..” Kata beliau sambil memerintahkan keponakannya membawa uang – uang tersebut kedalam kamar beliau. Oleh keponakan beliau itu buntalan uang di letakkan samping pintu kamar. Setengah hari kemudian, saat sesudah jama’ah shalat di Masjid tampak si pengusaha memandangi lama jendela masjid serta kusen-kusennya. Tiba–tiba di hadapan Habib Anis ia berkata :

“ Habib, alangkah bagusnya jika jendela serta kusen-kusennya diganti yang baru … Yang begini …Yang begini … “

Mendengar ucapannya tersebut, Habib memerintahkan keponakannya untuk mengambil kembali buntalan uang dari dalam kamar. Pemuda itu menyaksikan uang-uang itu masih tetap pada tempatnya semula. Tampak Habib Anis seharian di dalam kamar sama sekali tidak menyentuhnya, membukanya apalagi menghitung berapa jumlahnya. Begitu uang sudah ada di hadapan pengusaha tersebut, beliau menyerahkannya kembali kepada si pengusaha sembari berkata :

“Ana bikin masjid ini dari kantong ana sendiri. Apakah antum kira dengan memberi uang, antum bisa mengatur–atur pekerjaan ana? Ini uang ana kembalikan. “

Si pengusaha sontak menangis dan dengan nada menyesal dia meminta maaf atas kelancangan dirinya dan meminta dengan sangat agar Habib sudi menerima kembali shadaqahnya. Tetapi Habib tetap menolak .

Soal rejeki Habib Anis sering memberi nasehat untuk banyak – banyak membagi rejeki kepada sesama. Bersedekah sesuai dengan kemampuannya. Beliau sendiri terkenal seorang yang dermawan, terutama saat – saat bulan Ramadhan dan Lebaran. Para tukang becak dan tetangga-tetangga beliau tahu benar tentang hal ini .

Dan memang bersedekah itu selalu saja membawa berkah. Tidak ada ceritanya seorang yang gemar bersedekah hidupnya morat-marit . Justru yang ada hidup tambah berkah . Dan rejeki malah selalu bertambah dan melimpah ruah .

Beliau cerita :

“ Dahulu, di bulan Ramadhan, ana ingin sekali bersedekah, tetapi saat itu ana tidak mempunyai apa-apa. Lalu datang seorang muhibbin memberi ana satu buah sarung BHS, sarung mahal. Ana pikir, mengapa tidak sarung ini saja yang saya sedekahkan?

Ahirnya sarung BHS itu ana sedekahkan, padahal sebenarnya ana ingin memakainya juga karena itu sarung yang bagus dan mahal harganya. Dan ajaibnya, begitu sarung selesai ana sedekahkan, satu dua jam kemudian datang seseorang menemui ana. Dia datang sambil memikul satu kardus, dan diluar masih banyak.

Dia bilang, Habib mohon diterima shadaqah dari saya untuk Habib. Seratus potong sarung BHS … Kata beliau “nampaknya Allah membalas sedekah ana jauh lebih banyak dari yang semestinya. “ Au kama qola al Habib Anis .

Dan memang secara hitungan matematisnya, Habib seharusnya hanya mendapat payback 10 buah sarung saja, karena satu buah kebaikan di lipatkan Allah balasannya 10 kali lipatan. Namun, jika bersedekah atas sesuatu barang yang di sukai oleh diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya berat melepaskannya, apalagi jika itu satu-satunya yang dimiliki, maka balasan Allah bisa jauh berlipat dari yang semestinya.

Pada saat usia sepuh beliau, tampaknya maqam dan kedudukan beliau sudah sejajar dengan para asalafnya. Dalam urusan duniawinya misalnya, beliau sudah tidak ada lagi taalluq dengan dunia dengan segala kemewahannya kecuali kepada Allah semata. Justru dunialah yang ‘kepincut’ untuk bisa berta’alluq dengan diri beliau sebagaimana kalam kakek beliau :

“ Allah berkata kepada dunia …Wahai dunia..Siapa gerangan yang berkhidmat kepada_Ku maka khidmatilah dia. Dan siapa gerangan yang berkhidmat kepadamu, maka perbudaklah dia … Man khodamani fakh dami hi … Waman khodamaka fastakhdami hi .”

Suatu saat Habib Anis bercakap – cakap dengan para tamu . Kemudian mengharuskan beliau untuk mengambil sejumlah uang untuk meminta seseorang membayar sesuatu . Beliau kemudian memanggil keponakan beliau .
“ Ambilkan ana uang yang ada di dalam almari .” Perintah beliau .

Keponakan itu masuk ke dalam kamar Habib Anis dan membuka almari beliau. Betapa kagetnya dirinya melihat almari itu penuh berisi tumpukan – tumpukan uang yang masih ada lebel Bank nya. Betapa tidak kaget, sedangkan beberapa menit sebelumnya dia ada di kamar itu, menyapu lantai dan membersihkan dalamnya. Dia pun ingat saat membersihkan almari, almari itu kosong tidak ada isinya. Apalagi berisi uang sebegitu banyaknya.

Dia ambil satu dua bendel uang dan dia serahkan kepada beliau, sambil tersenyum Habib Anis bertanya kepadanya : “ Hanya ini yang kamu ambil , Ya Fulan ? “
Keponakan Habib Anis itu pun tersenyum kecut diledekin Pamannya demikian. Habib kemudian menyerahkan sejumlah uang kepada seseorang dan tersisa hanya sedikit, lalu oleh Habib sisa uang tadi beliau masukkan ke dalam kantong baju sang keponakan .

Habib Anis kemudian berkata kepadanya : “ Tolong ane ambilkan kopyah putih yang ada di atas almari .. “

Keponakannya segera masuk ke dalam kamar, dia cari kopyah yang di maksud tetapi tidak ketemu. Apa di dalam lemarinya ya? Pikirnya. Maka dia kemudian membuka almari .

Betapa kagetnya dia, saat melihat dalamnya almari Al Habib Anis itu kosong tidak berisai apapun. Lantas kemana larinya gundukan – gundukan uang yang dia saksikan beberapa menit sebelumnya?

Tampaknya Habib Anis menyuruh dirinya mengambilkan sesuatu, namun sejatinya Habib Anis ingin menunjukkan kepadanya ‘sesuatu’ yang lain . Semoga Allah meninggikan derajat Baginda Habib Anis dalam barzakhnya , mengharumkan kubur beliau dengan misik-misik kemuliyaan . Dan tiada henti Allah memancarkan madad dan keberkahannya kepada kita sekalian.

Quulu jami’an AMIIIN …….

Sumber : Al-Ustadz Muhajir Madad Salim, Mkub, dosen Universitas Menyan Indonesia

http://www.sarkub.com/2015/berdagang-ala-habibana-anis-solo/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s