Kisah Malaikat 2: Insan yang Terpuji

JIBRIL MEMBERI KEPUTUSAN TENTANG INSAN YANG TERPUJI

DIRIWAYATKAN bahawa Nabi SAW bersabda: “Apabila telah datang hari Kiamat, maka didatangkan empat golongan manusia di tepi pintu syurga, tanpa melalui hisab dan azab, mereka itu adalah:
Orang alim, yang mengamalkan ilmunya.
Orang haji, yang menunaikan ibadah hajinya tanpa merosak ibadah hajinya.
Orang yang mati syahid, yang terbunuh dalam peperangan.
Para dermawan, yang mengusahakan harta dari yang halal dan membelanjakannya di jalan Allah, tanpa rasa riyak. ”
Mereka saling berebut agar dapat masuk syurga lebih dahulu. Maka Allah SWT mengutus Jibril agar memberi keputusan bagi mereka. Pertama kali Jibril bertanya kepada yang mati syahid dengan pertanyaan: “Apa yang telah engkau perbuat di dunia sehingga engkau mahu masuk syurga yang paling awal?” Mereka menjawab: “Aku telah terbunuh dalam peperangan kerana mencari keredhaan Allah SWT.” Jibril berkata: “Dari siapakah engkau mendengar pahala orang yang mati syahid?” Mereka menjawab:”Dari para ulama.” Kata Jibril: “Jagalah sopan-santun, jangan engkau mendahului gurumu, yang telah mengajarmu!”

Kemudian Jibril mengarahkan pandangannya kepada mereka yang mengerjakan haji, seraya berkata seperti yang pertama. Demikian pula kepada si dermawan, juga bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kemudian orang yang alim itu berkata:”Tuhanku, tidaklah aku dapat menghasilkan ilmu kecuali berkat kedermawanan dan kebaikan orang yang dermawan.” Maka Allah SWT berfirman: “Benarlah kata si alim, hai Ridwan bukalah pintu syurga agar supaya si Dermawan itu masuk lebih dahulu, kemudian barulah orang-orang lain menyusul.” (Hadith Sahih)

Nabi SAW bersabda: “Keutamaan orang alim di atas orang ahli ibadah itu sepertiku di atas orang-orang yang paling rendah akhlaknya di antaramu.” (Hadith Sahih)

Dan demikian pula Allah SWT telah memberikan wahyuNya kepada Nabi Ibrahim as:”Aku Maha berilmu dan Aku suka kepada orang berilmu.” (Hadith Sahih)

Kata Al-Hasan Rahmatullahi alaihi: “Tinta para ulama itu ditimbang pada hari kiamat dengan darah orang yang mati syahid, maka tinta para ulama akan menjadi lebih berat daripada darah para syuhada.”

Demikian juga sabda Nabi SAW: “Jadilah engkau orang yang alim (berilmu), atau orang yang belajar atau orang yang mendengarkan pelajaran, dan janganlah menjadi orang yang keempat, maka rosaklah engkau.” Rasulullah ditanya “Amal apakah yang paling utama?” Jawab Rasulullah: “Ilmu tentang Allah.” Kerana amalan yang sedikit akan bernilai bila dengan ilmu, dan amal walaupun banyak tidak bernilai bila diiringi dengan kebodohan. Maka dari itu, dapat diketahui bahawa ilmu itu adalah sesuatu yang lebih mulia dibandingkan dengan ibadah, dan sudah seharusnya orang yang beribadah itu memiliki ilmu, kalau tidak maka amalannya adalah sia-sia saja laksana debu yang berterbangan. Nabi SAW bersabda: “Melihat kepada orang alim (berilmu) adalah ibadah (mendapat pahala).” (Hadith Sahih)

Dari Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah, para MalaikatNya, para penghuni langit dan bumi, sampai dengan semut di liangnya dan ikan di laut, semuanya berdoa (selawat) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (Hadith Sahih)

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan pada anak keturunan Adam lapan watak. Dari lapan itu empat watak bagi penghuni syurga: Wajah atau muka yang berseri-seri, ucapan yang fasih dan sopan, hati yang takwa kepada Allah, tangan yang dermawan. Dan yang empat watak lainnya untuk penghuni neraka: Wajah yang masam, ucapan yang kotor, hati yang keras, tangan yang kedekut. (Hadith Sahih)

Nabi SAW memberi amaran agar selalu berhati-hati terhadap tiga golongan manusia, mereka itu adalah:
Para ulama yang lalai
Para fakir miskin yang pura-pura kaya (kerana sombong atau untuk menipu)
Para ahli tasawuf yang bodoh.
Nabi menegaskan bahawa dasar-dasar tegaknya dunia ini ada empat:
Dengan ilmunya para ulama.
Dengan keadilan orang-orang yang memerintah.
Dengan kedermawanan orang yang kaya (mampu).
Dengan doanya orang-orang fakir.
Kalau seandainya tidak kerana ilmunya para ulama, nescaya rosaklah orang-orang yang bodoh. Kalau tidak kerana kedermawanan orang-orang kaya atau orang yang mampu, nescaya lenyaplah orang-orang fakir kelaparan kalau sekiranya tidak ada doanya orang-orang yang fakir miskin nescaya binasalah orang-orang kaya. Kalau sekiranya tidak kerana keadilan orang-orang yang memerintah, nescaya orang akan saling bermusuhan sesamanya, sebagaimana serigala yang kuat memakan kambing yang lemah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s