Kisah Nabi Muhammad SAW: Menyongsong Kelahiran Baginda

Sejarah Bani Hasyim

Rangkaian tulisan mengenai kisah Nabi Muhammad saw di sini merupakan resume dari Buku “Catatan Sejarah Rasulullah saw, Menyingkap Keajaiban Pribadi dan Perjuangan Rasulullah saw serta Para Sahabat” susunan Ustad Nasaruddin Awang.

kisah Nabi Muhammad

 Sejarah Bani Hasyim

Sebelum Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Siti Hajar dan anak bayinya Ismail calon Nabi, berlaku peristiwa besar di Yaman. Bendungan besar yang dikenal dengan nama Sad Ma’rib jebol. Akhirnya penduduk Yaman berpindah bertebaran ke seluruh semananjung Arab mencari kehidupan baru. Bani Tsaqif pindah menempati Taif, Bani Aus dan Khazraj ke Madinah, Bani Ghasasinah ke Syam sedangkan Bani Manazirah ke perbatasan Irak.

Tidak lama setelah peristiwa Zam-zam, terjadi ketentuan Allah. Bani Jurhum dari Yaman yang sedang mencari tempat baru, berjalan melewati daerah yang berdekatan dengan lembah Mekah. Mereka merasa heran ketika melihat kawanan burung beterbangan di kawasan itu. Padahal mereka mengetahui di daerah itu tidak ada sumber air. Ketika diperiksa, ternyata ada air di situ. Tidak hanya air, mereka juga menemukan Siti Hajar dan bayinya ada di situ. Bani Jurhum yang terkenal bersifat baik tidak merampas sumber air zam-zam bahkan meminta izin pada Siti Hajar agar dibagi air. Malah mereka sanggup membayar sewa.

Setelah dewasa, Nabi Ismail as menikah dengan seorang wanita dari kalangan Bani Jurhum. Selanjutnya Mekah diperintah oleh anak keturunan Nabi Ismail. Sampai satu ketika Bani Khuza’ah merebut Mekah dari anak keturunan Nabi Ismail dan Bani Jurhum. Bani Jurhum pun diusir keluar Mekah. Bani Khuzaah yang dipimpin oleh Amru bin Luhayy kemudian membawa agama syirik masuk ke Mekah dan kemudian tersebar ke Seluruh Jazirah Arab.

foto lama kisah Nabi Muhammad

Amru bin Luhayy ini orang kaya dan dermawan. Dia menyediakan layanan dan keperluan orang yang menunaikan haji pada waktu itu. Dengan kekayaan dan pengaruhnya, dia telah mempengaruhi penduduk Mekah agar menuruti kata-katanya termasuk perintah agar menyembah berhala. Talbiah tauhid pun telah diubahnya menjadi talbiah syirik. Maka bermulalah penyembahan berhala di kalangan masyarakat Arab.

Walaupun Bani Jurhum diusir dari Mekah, tetapi ada juga yang tetap tinggal di Mekah. Mereka memang tidak ada daya dan upaya untuk merebut kembali Mekah, tetapi keinginan untuk merebut kembali Mekah tidak pernah padam walapun Bani Khuzaah sudah menguasai Mekah selama 500 tahun.

Setelah 500 tahun berlalu, ada anak keturunan Nabi Ismail yang pulang kembali ke Mekah. Ia bernama Qusay bin Qilab. Ia termasuk orang dikalangan cucu Fihr yang bergelar Quraisy.

 Bani Hasyim memerintah kembali Mekah

Qusay berhasil menikah dengan anak perempuan Hulali yang merupakan ketua Mekah dan ketua Bani Khuzaah waktu itu. Setelah Hulail mati, Qusay ingin mengembalikan Mekah kepada keturunan Nabi Ismail. Oleh karena itu, dia menyatakan diri sebagai Ketua Mekah. Maka terjadilah peperanan antara Quraisy yang dipimpin Qusay dari keturunan Nabi Ismail (penduduk asli Mekah dan pewaris telaga zam-zam) dengan Bani Khuzaah. Bani Khuzaah merasa berhak menguasai kota Mekah karena kota Mekah telah mereka kuasai lebih dari 500 tahun.

Setelah terjadi peperangan yang tidak berkesudahan. Kedua pihak setuju untuk mencari pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa mereka. Mereka sepakat memilih seorang ahli hikmah di kalangan bangsa Arab untuk menjadi Hakim. Hakim ini dikenal dengan nama Ya’mur bin Auf. Masing-masing bersumpah akan menerima apa saja keputusan Hakim. Ya’mur memanggil kedua belah pihak dan meminta mereka menjelaskan hujah masing-masing untuk membuktikan siapa yang berhak atas kota Mekah.

Bagi Qusay, Mekah adalah milik nenek moyangnya. Nabi Ismail adalah orang pertama yang tinggal di Mekah. Zam-zam tersingkap karena Nabi Ismail. Nabi Ismail pula yang telah membangun Kabah bersama Nabi Ibrahim. Bani Khuzaah walaupun sudah lama memerintah tapi sebenarnya mereka telah merebut kekuasaan secara paksa. Demikianlah hujah Qusay sedangkan Bani Khuzaah tidak memiliki hujah sekuat itu. Akhirnya, Ya’mur memutuskan bahwa semua dikembalikan kepada Qusay bin Kilab. Keistimewaan hak Siqayah , Rifadah, Hijabah, dan lain sebagainya menjadi hak Qusay bin Kilab. Setelah itu, Qusay memerintah Mekah dengan bijaksana dan adil. Kehidupan orang Mekah semakin makmur dan orang Mekah semakin sayang kepadanya. Beliau telah mencetuskan ide mendirikan Darul Nadwah. Darul Nadwah menjadi pusat pemerintahan Mekah, tempat musyawarah, bahkan pusat aktivitas social masyarakat. Nabi Muhammad saw dilahirkan dari keturunan Qusay bin Kilab ini.

kisah Nabi Muhammad

Setelah meninggalnya Qusay bin Kilab, semua kemuliaan Quraisy seperti Rifadah, Hiijabah, Sidanah, Siqayah, dam Darul Nadwah diwariskan kepada anak sulungnya, Abdul Dar. Setelah meninggalnya Abdul dar, perkara ini dibagi di pada anak-anak Qusay bin Kilab yang lain dan anak-anak Abdul dar. Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad saw) telah mewarisi Siqayah yaitu hak memberi minum kepada jamaah Haji. PAda waktu itu, zam-zam sudah tidak ada lagi sejak Mekah direbut oleh Bani Khuzaah dan sejak syirik masuk ke Mekah. Alllah telah menyelamatkan zam-zam dari kedurjanaan mereka. Oleh karena itu, Abdul Muthalib terpaksa mengambil air dari luar kota Mekah untuk minuman Jemaah Haji. Begitu pemurahnya orang Quraisy, mereka mencampurkan susu dan madu pada minuman yang mereka bagi kepada Jemaah Haji. Begitulah pemurahnya kakek Baginda Nabi Muhammad saw secara khusus dan bangsa Arab umumnya pada waktu itu.

****************************

Ditemukannya Kembali Zam-Zam

Kakek Nabi Muhammad saw

Qusay bin Kilab mempunyai anak bernama Abdul Manaf. Sedangkan Abdul Manaf mempunyai anak yang bernama Mutalib dan Hasyim. Kemudian Hasyim mempunyai anak bernama Syaibah. Syaibah ini adalah anak Hasyim dari istri yang bernama Ummu Hasyim. Ummu Hasyim merupakan seorang wanita bangsawan di kalangan kaumnya yang tinggal di luar Mekah.

Hasyim tidak panjang umur. Beliau meninggal ketika Syaibah masih kecil. Oleh Karena itu, Syaibah dibesarkan oleh oleh ibunya di kabilah ibunya yang berada di luar Mekah. Ketika Syaibah menginjak remaja, pamannya yang bernama Mutalib ingin mengajak Syaibah ke Mekah. Awalnya ibunya tidak setuju, tetapi karena Mutalib terus mendesak dengan alasan bahwa Syaibah merupakan keturunan Qusay bin Kilab. Keturunan Qusay bin Kilab merupakan calon pemimpin Mekah sehingga tidak sepatutnya tinggal di luar Mekah. Akhirnya, ibunya meminta Syaibah menentukan pilihan, apakah ingin tinggal bersama ibunya di kabilahnya atau ikut pamannya tinggal di Mekah. Syaibah pun memilih untuk ikut pamannya dan tinggal bersamanya tinggal di Mekah.

Dalam perjalanan menuju Mekah, Syaibah naik di atas tunggangan Mutalib dan duduk di belakang Mutalib. Ketika memasuki kota Mekah, banyak orang mengira Mutalib membawa seorang budak remaja di belakangnya. Masyarakat yang terbiasa dengan jual beli hamba sahaya pada waktu itu menyangka Mutalib membeli hamba baru. Dari situlah Syaibah ini mendapat gelar Abdul Mutalib yang bermakna “hamba Mutalib”. Nama gelar inilah yang kemudian masyur . Dialah Abdul Mutalib kakek dari Nabi Muhamad saw, yang mana nama aslinya adalah Syaibah.

Mimpi Abdul Mutalib

Abdul Mutalib kemudian mempunyai seorang anak bernama Harist. Setelah Harist menginjak dewasa, Abdul Mutalib mendapat mimpi yang aneh.

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Sayidina Ali, bahwa pada suatu malam, Abdul Mutalib telah didatangi seseorang yang memanggil namanya dan memerintahkannya untuk menggali at Thibah. Abdul Mutalib bertanya, apakah at Thibah itu? Belum sempat memberi jawaban, suara tersebut sudah menghilang. Pada malam kedua, Abdul Mutalib bermimpi lagi. Suara itu memerintahkan untuk menggali ar Barrah. Apakah al Barrah itu? Abdul MUtalib ingin mendapatkan penjelasan tetapi suara itu sudah hilang. Setelah mimpi kedua, Abdul Mutalib merasa ada sesuatu yang pentig yang hendak disampaikan kepadanya karena beliau tidak pernah mengalami mimpi seperti seperti itu sebelumnya. Malam ketiga beliau bermimpi lagi, kali ini suara itu memerintahkannya untuk menggali Al Madhmunah. Abdul Mutalib bertanya, apa itu al madhmunah? Tetapi suara itu hilang lagi. Semakin kuat keyakinan dan keinginan Abdul Mutalib untuk memahami suara itu. Beliau yakin ada sesuatu yang besar yang hendak disampaikan kepadanya melalui mimpi pada tiga malam berturut-turut. PAda malam ke empat, suara itu dating lagi sambal berkata, “galilah zam-zam.” Abdul Mutalib terus bertanya, “dimanakah zam-zam itu?” kali ini suara itu menjawab,

“Dia tidak akan kering selama-lamanya dan tidak akan berkurang, dia akan memberi minum kepada para jamaah haji tetamu Allah Yang Maha Agung, dia berada diantara perut dan darah, di tempat patukan gagak hitam yang ada bulu putih dan di tempat rumah semut.”

Hati Abdul Mutalib telah yakin bahwa beliau diperintahkan untuk menggali Zam-zam. Zam-zam memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Mekah apalagi pada Abdul Mutalib yang mewarisi hak Siqayah (hak memberi minum kepada Jemaah Haji). Mereka tidak tau dimana terkuburnya zam-zam itu. Tidak masuk akal pula untuk menggali di sekeliling Kabah untuk memcari zam-zam itu.

Menggali Kembali Sumur Zam-zam

Dengan berpandukan pada tanda-tanda yang didapat melalui mimpi tersebut, keesokan harinya Abdul MUtalib mengajak anaknya, yang bernama Harist, untuk membantunya menggali Zam-zam. Harist bertugas menjaga Abdul Mutalib sekiranya pemuka Qurays yang lain mencoba menghalanginya.

Abdul Mutalib mencoba mencari tanda-tanda seperti yang di ilhamkan kepadanya. Tiba-tiba ada sekumpulan orang Arab datang dan menyembelih lembu di dekat berhala Isaf. Darah pun bercucuran ke tanah. LEmbu yang sudah disembelih itu tiba-tiba berdiri lagi dan jatuh di tempat yang lain. Menghadapi keadaan yang tidak diperkirakan sebelumnya tersebut, mereka terpaksa menyempurnakan menyembelih lembu tersebut di tempat tempat jatuhnya lembu. Lembu tersebut dikuliti dan dikeluarkan isi perutnya. Demikianlah berlakunya tanda pertama petunjuk lokasi sumur zam-zam.

Kawasan tersebut masih cukup luas. Kemudian beliau mencari tanda lain. Akhirnya beliau menemukan kawasan semut. Namun, kawasan tersebut juga masih cukup luas. Dalam kebingungan, tiba-tiba datanglah seekor gagak hitam yang ada bulu putihnya. Pahamlah Abdul Mutalib bahwa itulah al Ghurabul A’som. Gagak itu mematuk-matuk di tanah yang di dekat kawasan semut. Saat itulah beliau paham bahwa di situlah kawsan yang diisyaratkan dalam mimpinya.

Demikianlah Allah telah membuka rahasia Zam-zam yang telah hilang selama 500 tahun kepada Abdul Mutalib. Allah yang memberitahu isyarat-isyarat tersebut dan Allah juga yang mempersiapkannya.

Ketika Abdul Mutalib mulai menggali, gemparlah masyarakat Qurays. “Apa yang kamu gali, wahai abdul Mutalib? Kamu tidak boleh menggali di sini. Bukankah ini tepi Kabah. Ketika itu Abdul Mutalib membiarkan Harist yang menghadapi masyarakat Qurays. Beliau sendiri terus menggali dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.

Saat beliau merasakan ada sesuatu yang keras yag seolah-oleh merupakan penutup sumur Zam-zam, beliau tidak dapat mengawal perasaanya lantas beliau menjerit. Allahu Akbar, Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Mendengar takbir tersebut, sadarlah Bani Qurays bahwa Abdul Mutalib sudah menemukan apa yang beliau cari. Mereka bertanya: Apa yang kamu gali, wahai Abdul Mutalib? Kali ini barulah Abdul Mutalib menjawab, “sesunguhnya aku sedang menggali zam-zam”. Abdul Mutalib terus menggali sehingga zam-zam benar-benar terpancar kembali.

kisah nabi muhammad penemuan sumur zam-zam

Maka terkejutlah orang Qurays, mereka sangat gembira dengan peristiwa ajaib tersebut. Kemudian muncullah sifat tamak yang menguasai mereka. Mereka merasa berhak atas Zam-zam juga. Tanpa segan-segan mereka meminta Abdul Mutalib untuk menjadikan Zam-zam sebagai hak bersama. Memiliki sumur zam-zam merupakan satu kemuliaan besar. Namun, Abdul Mutalib tidak setuju. Beliau yang pertama kali menemukannya bahkan pada awalnya masyarakat Qurays lain hendak menghalanginya. Dan ketika sumur zam-zam sudah ditemukan kembali, dengan mudahnya mereka menginginkan hak dalam mengurus sumur zam-zam ini. Walaupun Abdul MUtalib tidak setuju, mereka tetap bersikeras dengan kemauan mereka. Perselisihan ini hampir mencetuskan perang di antara para pemuka Qurays dan Bani Abdul Mutalib. Akhirnya mereka setuju untuk mencari Hakim yang akan memutuskan perselisihan mereka. Mereka pun melantik Kahinah, seorang pendeta wanita yang di hormati dalam masyarakat arab ketika itu. PAda waktu itu, pendeta yang berasal dari Bani Saad ini sedang berada di Yathrib (Medinah). Ketika mereka bergerak sampai ke Yathrib, Kahinah rupanya sudah bermusafir ke Khaybar. Lantas mereka pun menyusul ke Khaybar.

Allah yang mendamaikan

Di tengah perjalanan menyusul Kahinah, mereka melewati padang pasir yagn seluas mata memandang. Di tengah padang pasir tersebut, rombongan Abdul Mutalib kehabisan perbekalan air. Mereka mencoba meminta air kepada pihak Qurays yang lain. Tapi malang, bekal air pihak Qurays pun tinggal sedikit. Untuk keperluan mereka sendiri pun tidak mencukupi.

Hal tersebut tidak membuat orang-orang Abdul Mutalib putus asa. Mereka terus mencari sumber air tapi tetap tidak menemukan sebarang petunjuk adanya sumber air. Setelah keletihan, mereka bertanya kepada Abdul Mutalib apa yang perlu dilakukan.

Kata abdul Mutalib: “sekarang setiap orang menggali kubur sendiri. Daripada kita semua mati tidak ada yang mengubur, biarlah satu orang saja yang tidak dikuburkan yaitu yang terakhir mati.”

Setelah kubur selesai digali, mereka hanya mampu duduk menunggu saat-saat kematian. Namun pikiran Abdul Mutalib masih memikirkan upaya terakhir bagaimana mencari sumber air. Abdul Mutalib mengerahkan orang-orangnya untuk mencari lagi. Ketika mereka sedang mecari-cari sesuatu yang tidak pasti, unta Abdul Mutalib bangun lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Maka dengan kuasa Allah, terpancarlah air dari situ. Akhirnya mereka dapat minum sepuasnya bahkan masih ada lebihan air.

Abdul Mutalib memanggil Bani Qurays yang lain untuk mengambil air dari situ. Melihat kejadian yang ajaib itu, pihak Qurays akur kepada Abdul Mutalib. Mereka berkata: “wahai Abdul Muthalib sesungguhnya yg memberi kamu minum ditengah padang pasir, Dialah yg telah mengaruniakan zam-zam pada kamu. Kami akur zam-zam adalah kepunyaan kamu”.

Peristiwa tesebut telah meyakinkan mereka bahwa itu adalah tanda dari Allah untuk memberitahu mereka bahwa Zam-zam adalah milik Abdul Mutalib. Sejak saat itu, keistimewaan Siqayah (memberi minum kepada Jemaah haji) dan Zam-zam menjadi milik Abdul Mutalib dan keturunannya.

kisah nabi muhammad

*******************************************

Baginda Adalah Anak Dari Dua Orang Yang Akan Disembelih

Nazar Abdul Mutalib

Ketika peristiwa menggali kembali sumur zam-zam, Abdul Mutalib hanya mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Harist. Harist inilah yang menjaga Abdul Mutalib dari gangguan orang Qurays yang menghalanginya menggali kembali sumur zam-zam. Beliau merasa dirinya lemah tidak seperti orang lain yang memiliki banyak anak lelaki. Apalagi ada yang berani berkata: “Wahai Abdul Mutalib, apakah kamu berani menyanggah kami sedangkan kamu sendiri tidak mempunyai anak lelaki yang dapat menjaga kamu”.

Setelah pihak Qurays mengakui bahwa beliau menguasai sumur zam-zam, maka beliau pun bernazar. Jika Allah memberikan karunia berupa 10 orang anak lelaki kepadanya maka beliau akan korbankan salah seorang dari mereka. Allah mengabulkan doa Abdul Mutalib.

Abdul Mutalib mendapat sepuluh orang anak lelaki. Anak yang ke sepuluh adalah Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad saw. KEtika Abdullah sudah dewasa, Abdullah menjadi anak yang paling disayanginya. Ketika itu, apabila Abdul Mutalib bertawaf di Kabah, beliau akan diiringin oleh ke sepuluh anak-nya yang gagah-gagah. Beliau bersyukur kepada Allah atas karunia itu. Sampailah pada waktunya untuk menunaikan nazarnya dulu.

Untuk melaksanakan nazar itu, beliau telah merujuk kepada pendeta Kabah yang memintanya membuat undian siapakah anaknya yang akan dikorbankan. Dalam hati, Abdul Mutalib berdoa, semoga undian tidak jatuh kepada Abdullah. Namun, undian jatuh kepada Abdullah. Sungguh sedih hatinya. Walaupun hatinya berat dan iba, Abdul Mutalib nekat melaksanakan nazarnya karena orang seperti dia tiak mungkin mungkir dari menunaikan nazar.

Akhirnya beliau membawa Abdullah ke Kabah untuk disembelih. Apabila kaum Qurays melihat Abdul Mutalib ingin menyembelih anaknya, mereka segera menghalanginya. Namun, Abdul Mutalib tetap bersikeras untuk menunaikan nazarnya sehingga terjadi keributan di situ. Dalam keadaan Tarik menarik antara Abdul Mutalib dan kaum Qurays, terlukalah kepala Abdullah. Oleh karena itu, Abdullah dikenal dengan gelar Al Asyaj yang bermakna “Yang Berparut di kepala”.

Kaum Qurays terus membujuk Abdul Mutalib. Mereka berkata: “ wahai Abdul Mutalib, bukankah engkau ketua Mekah? Kalau engkau sembelih anakmu, nanti pengorbanan ini akanmenjadi Sunnah kepada seluruh Arab. Siapa saja yang mendapat sepuluh anak lelaki wajib mengorbankan salah satunya. Bukankah perbuatan ini sesuatu yang berat dan menghilangkan kebahagiaan. Kalaulah setiap ketua keluarga terpaksa menyembelih anak sendiri, hilanglah kebahagiaan dalam keluarga. Tolong jangan memulai wahai Abdul Mutalib, nanti akan menjadi Sunnah” Tetapi apa daya Abdul Mutalib sudah bernazar dan dia mesti menunaikan nazarnya tersebut.

Diganti dengan Unta

ayah nabi muhammad

Menimbang pendapat kaum Qurays, Abdul Mutalib akhirnya setuju untuk meminta pendapat pendeta Bani Saad. Pendeta ini bertanya berapa nilai Diat (ganti rugi kepada orang yang dibunuh) seorang lelaki meredeka dalam masyarakat Qurays. Mereka berkata “ sepuluh ekor unta betina”. Pendeta itu berkata, “kalau begitu buatlah undian antara Abdullah dan 10 ekor. Jika undian masih jatuh pada Abdullah, tambahkan lagi 10 ekor unta sehingga undian jatuh pada unta”. Undian baru jatuh kepada unta setelah undian ke 10 yang berarti jumlah unta yang harus dikorbankan sejumlah 100 ekor. Untuk memastikannya lagi, Abdul Mutalib minta diulang lagi undian tersebut hingga 3 kali. Maka Abdul Mutalib pun menyembelih 100 ekor unta sebagai ganti anak kesayangannya. Sebab itulah Baginda Nabi Muhammad saw menyebutkan:

sejarah nabi muhammad“aku ini adalah anak dari dua orang yang akan disembelih”

Dua orang yang dimaksud analah Nabi Ismail dan yang kedua adalah Abdullah. Karena pada dua orang ini ada janji Allah akan lahir penghulu para Nabi dan Rasul, maka Allah menyelamatkan keduanya dari disembelih.

Demikianlah, apabila suatu perkara atau seorang manusia hendak dinaikkan derajatnya oleh Allah, walau apapun yang menimpanya, pasti Allah akan selamatkan pada akhirnya. Demikianlah sunnatullah, sedangkan sunnatullah itu tidak akan berubah.

Nabi Muhammad saw dari nasab yang mulia

Nasab Nabi Muhammad saw adalah nasab yang paling mulia. Baginda Nabi Muhammad berasal dari kabilah yang paling mulia dalam bangsa Arab, bangsa yang Allah pilih untuk menegakkan Islam. Allah juga telah memberikan keistimewaan yang cukup besar pada Bahasa Arab menjadi Bahasa Al Quran. Imam Tirmizi meriwayatkan:

“Rasulullah saw naik ke atas mimbar dan bertanya, ‘siapakah saya?’ Para Sahabat menjawab, ‘Kamu Rasulullah saw, keatas kamu kesejahteraan.’ Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib. Sesungguhnya Allah menjadikan makhlukNYA dan menjadikan mereka dua kelompok dan Allah menjadikan saya dari kelompok yang terbaik. Kemudian Allah menjadikan mereka berbagai kabilah dan Allah melahirkan saya dari kabilah yang paling baik. Kemudian Allah menjadikan mereka beberapa rumah dan Allah menjadikan saya dari rumah yang paling baik dan manusia yang paling baik.

*******************************************

Nabi Muhammad saw Lahir di Tahun Gajah

Kisah Ashabul Ukhdud

Ketika Yaman diperintah oleh keturunan Tabban yang bernama Zu Nuwas, ada seorang rahib Nasrani dari Syam meninggalkan Syam untuk berdakwah ke Afrika. Dalam perjalanan, dia diserang oleh perampok, dia ditangkap dan dijual kepada seorang lelaki dari Najran. Kemudian lelaki itu pindah ke Jazirah Arab. Nama rahib ini ialah Femeon. Karena Femeon telah menjadi hamba, disamping mengabdi dengan tuannya dia juga beribadah di waktu istirahat malah sangat kuat beribadah.

Pada satu malam majikannya masuk ke tempat Femeon dan dia melihat jasad Femeon bercahaya. Ketika ditanya, Femeon berpeluang untuk berdakwah kepada majikannya tentang agama Nasrani. Orang Najran ketika itu menyembah pohon.

Femeon bertanya, “Bagaimana kalau Tuhan aku dapat mengalahkan tuhan kamu, apakah kamu mau menyembah Tuhan aku?”

Orang Najran itu menjawab, “Kalau memang Tuhan kamu dapat mengalahkan tuhan aku, aku masuk agama kamu.”

Lalu berkumpullah orang-orang di pohon yang menjadi sembahan penduduk Najran itu. Femeon datang ke situ, dia bersembahyang dan berdoa kepada Allah agar Allah memberi hidayah kepada penduduk Najran sehingga menerima agama Tuhan. Akhirnya Allah datangkan petir membakar pohon itu. Dengan peristiwa itu, semua penduduk Najran telah memeluk agama Nasrani.

Setelah itu ada seorang lelaki dari Najran bernama Abdullah bin Tsabit dan beberapa orang pendeta Nasrani Najran pindah ke Yaman. Mereka beribadah dengan sembunyi-sembunyi di Yaman karena takut kepada penduduk Yahudi. Yaman ketika itu masih diperintah oleh Tubba’ yang bernama Zu Nuwas.

Zu Nuwas sedang mencari pengganti ahli sihirnya yang sudah tua. Dia memilih seorang remaja yang paling cerdik di negerinya untuk mewarisi ilmu sihir dari tukang sihirnya. Setiap hari Remaja pilihan raja itu pergi belajar sihir kepada tukang sihir raja yang tinggal di sebuah bukit. Di dalam perjalanan menuju ke tempat gurunya itu, dia melinyasi tempat salah seorang Pendeta dari Najran tadi. Karena sering lewat kawasan itu, dia dapat mendengar rintihan Rahib ini dalam ibadahnya. Dia pun jatuh hati mendengar rintihan dan doa Pendeta itu. Akhirnya Remaja itu belajar dengan Rahib itu.

Pada waktu itu dia masih belajar ilmu sihir dari tukang sihir raja. Kebenaran yang telah meresap dalam jiwanya telah menjadikan dia benci kepada sihir. Akhirnya dia tidak lagi pergi belajar dengan tukang sihir raja tetapi hanya pergi belajar dengan Pendeta.

Mengetahui hal itu, Tukang sihir melaporkan kepada Raja lalu Remaja itu ditangkap, diazab dan dipaksa keluar dari agama kebenaran yang dipelajarinya dari Pendeta. Remaja itu tetap dengan pendiriannya walaupun Tubba’ Zu Nuwas akan membunuhnya.

Untuk membunuhnya, pengawal raja diperintah untuk mencampakkannya ke tengah laut. Namun, ketika sampai di tengah laut, datang badai yang membuat sampan yang dinaiki terbalik. Semua pengawal raja mati tetapi Remaja itu pulang menghadap raja dengan selamat. Demikian Maha Berkuasanya Tuhan menyelamatkan hambanya yang sedang memperjuangkan kebenaran dari-Nya.

Tubba’ Zu Nuwas masih tidak puas, lalu dia memerintahkan supaya Remaja itu dicampakkan dari atas gunung. Seluruh rakyat jelata dipanggil untuk menyaksikan hukuman ini. Apabila remaja ini hendak dicampakkan dari atas gunung berlakulah gempa bumi yang amat dahsyat sehingga seluruh tentara raja yang membawanya jatuh dari atas gunung tetapi Remaja itu tetap selamat dengan izin Allah.

Remaja itu akhirnya membongkar rahasia jika Tubba’ ingin membunuhnya. Remaja itu berkata, agar dikumpulkan khalayak ramai. Tubba’ perlu mengikat Sang Remaja di sebatang pokok dan dipanah dengan anak panah kepunyaan Sang Remaja dengan menyebut, “Dengan nama Allah, Tuhan remaja ini.” Jika Tubba’ melaksanakannya barulah dia akan dapat membunuh Remaja itu.

Tubba Zu Nuwas pun langsung melaksanakannya seperti yang telah diberitahu maka maka barulah Tubba berhasil membunuh Remaja itu. Namun semua rakyat yang menyaksikan peristiwa ini berkata, “Lihatlah! Tubba Zu Nuwas dengan kekuasaan dan kegagahannya tidak dapat membunuh remaja ini melainkan dengan menyebut “Dengan nama Allah, Tuhan remaja ini!” Bagi mereka, peristiwa itu ternyata membuktikan kebenaran agama Remaja itu, lalu Allah mencampakkan keimanan ke dalam hati 20 ribu rakyat Yaman ketika itu. Berimanlah mereka dengan agama kebenaran.

Tubba Zu Nuwas benar-benar murka. Dia memerintahkan tentaranya menggali sebuah lubang yang besar dikenali sebagai Ukhdud dan dipenuhi dengan kayu bakar di dalamnya kemudian dinyalakan api yang besar. Sesiapa yang tidak mau murtad dari agama kebenaran akan dicampakkan ke dalam api itu. Al-Quran telah merekam peristiwa tragis ini dalam surah al-Buruj:

“Demi langit yang mempunyai tempat peredaran bintang-bintang. Dan Hari (Pembalasan) yang dijanjikan. Dan makhluk-makhluk yang hadir menyaksikan hari itu, serta segala keadaan yang disaksikan. Celakalah kaum yang menggali parit. (Parit) api yang penuh dengan bahan bakaran. (Mereka dilaknat) ketika mereka duduk di sekelilingnya. Sambil mereka melihat apa yang mereka lakukan kepada orang yang beriman. Dan mereka tidak marah dan menyiksa orang yang beriman itu melainkan karena orang itu beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji” (Surah al-Buruj: 1-8)

kisah ashabul ukhdud

Hadis juga menceritakan sebuah kisah yang menyayat hati tatkala seorang ibu dengan bayinya yang masih menyusu hendak dicampakkan ke dalam api. Si ibu merasa takut dan ragu-ragu. Hatinya bagai disayat-sayat untuk membawa si kecil bersamanya masuk ke dalam api. Allah memperlihatkan kebesaran-Nya. Bayi itu tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, janganlah takut, masuk saja ke dalam api itu. Sesungguhnya ibu sedang menuju ke syurga!”

Walaupun baru sebentar beriman namun kebenaran itu telah meresapi seluruh jiwa dan raga rakyat jelata Yaman. Mereka tidak berganjak sedikit pun walaupun akan dibakar dalam api yang menyala. Sungguh ajaib sebuah keyakinan apalagi ia adalah kebenaran. Sebanyak 20 ribu orang rakyat jelata telah syahid dibakar oleh Tubba Zu Nuwas.

Dengan kehendak Allah, ada seorang lelaki yang berhasil selamat, namanya Daus bin Tsa’labah. Dia berhasil melarikan diri kepada Qaisar Rom yang juga beragama Nasrani. Menyalalah api kemarahan Qaisar apabila mendengar perbuatan Zu Nuwas membakar penganut Nasrani di Yaman. Qaisar mengirim wakilnya kepada Najasyi Raja Habsyah yang juga beragama Nasrani karena lokasinya paling dekat dengan Yaman. Qaisar Rom memerintahkan supaya Najasi mengirim tentara memerangi Tubba’ Zu Nuwas.

Najasi yang juga marah, langsung mempersiapkan tentara sebanyak 70 ribu orang. Satu jumlah tentara yang sangat besar ketika itu malah belum pernah berlaku sebelumnya di Jazirah Arab. Tentara ini diketuai oleh seorang panglima yang bernama Aryath. Aryath dibantu oleh seorang lagi panglima Najasyi yang gagah bernama Abrahah.

Kisah Abrahah Menjadi Gubernur Yaman

Tentara Aryath telah berhasil mengalahkan tentara Tubba Zu Nuwas. Zu Nuwas melarikan diri ke laut dan akhirnya bunuh diri. Dengan itu Habsyah telah menguasai Yaman dan Najasi melantik Aryath menjadi Gubernur di Yaman. Malang, apabila Aryath menjadi Gubernur, dia bukan saja dzalim pada rakyat Yaman malah pada tentaranya sendiri. Akhirnya sebagian tentara ada yang tidak tahan lagi dengan sikap Aryath. Tentara yang tidak tahan dengan sikap aryarth dipimpin oleh Abrahah

Tentara Habsyah pecah menjadi dua kelompok. Ada yang setia menyokong Aryath dan ada yang mendukung Abrahah. Abrahah tidak ingin terjadi peperangan di kalangan sesama tentara Habsyah. Oleh karena itu, Dia telah menantang Aryath untuk bertarung satu lawan satu. Siapa yang menang dialah yang akan memerintah Yaman. Dalam pertarungan itu, Abrahah telah berhasil membunuh Aryath tetapi sebelum terbunuh Aryath sempat melibaskan pedangnya sehingga hidung Abrahah cacat. Sejak itulah Abarahah ini mendapat gelar ‘Abrahah al-Asyram’ iaitu Abrahah yang cacat hidungnya. Lalu Abrahah melantik dirinya sebagai Gubernur Yaman.

Mendengar berita ini, Najasi marah kepada Abrahah karena berani membunuh Gubernur yang dilantiknya. Najasi bersumpah akan memimpin sendiri tentaranya ke Yaman dan tidak akan kembali ke Hasyah sebelum dia dapat menginjak-injak tanah Yaman dan membotaki kepala Abrahah sebagai satu tanda penghinaan kepada Abrahah. Abrahah ketakutan karena telah durhaka kepada Najasi. Namun dengan kepintarannya dia mengirim utusannya mengadap Najasyi membawa rambutnya dan tanah Yaman. Sehelai surat ditulis kepada kepada Najasyi. “Wahai Tuanku Najasyi, ini Abrahah sudah menyempurnakan sumpah Tuanku. Ini rambut Abrahah dan ini tanah Yaman untuk Tuanku pijak-pijak. Abrahah tetap taat setia dan tunduk kepada Tuanku Najasyi.” Dengan peristiwa itu Najasyi telah membatalkan niatnya memerangi Abrahah. Demikianlah penyelesaian masalah antara Abrahah dengan Najasyi

Tentara Gajah Abrahah

Walaupun Najasyi telah memaafkannya, Abrahah masih belum puas. Dia ingin menebus kesalahannya terhadap Najasyi. Kemudian dia membangun sebuah gereja terbesar di Yaman. Abrahah menamakannya al-Qulais. Setelah itu. itu dia mengirim berita kepada Najasyi bahwa dia telah membangun sebuah gereja yang terbesar di Yaman dan dia akan memerintahkan semua kabilah Arab supaya datang berhaji ke Yaman. Selanjutnya Abrahah mengirim utusannya kepada seluruh kabilah Arab supaya datang berhaji di al-Qulais.

Apabila berita ini sampai kepada Ahlun Nasi, satu kabilah Arab yang terkenal karena sangat membesarkan Ka’bah, salah seorang dari mereka telah datang ke al-Qulais lalu membuang air besar di situ dan kotorannya di sapu ke seluruh dinding al-Qulais.

Ketika Abrahah mengetahui bahwa orang yang membuat angkara ini adalah dari Ahlun Nasi’, Abrahah sangat marah marah dan berazam membalas dendam. Tanpa membuang waktu, dia mempersiapkan tentaranya termasuk Tentara Gajah yang sangat disegani. Dia bertekad meruntuhkan Ka’bah. Dia juga membawa gajahnya yang paling besar yang diberi nama Mahmud.

tahun kelahiran Nabi Muhammad

Apabila tentara Abrahah sampai diperbatasan Mekah, mereka merampas binatang ternak penduduk Mekah. Mereka turut merampas dua ratus ekor unta milik Abdul Mutalib. Untuk mengambil untanya, Abdul Mutalib yang merupakan Ketua Mekah, datang menghadap Abrahah. Ketika menyambut kedatangan Abdul Mutalib, Abrahah turun dari kursi khususnya untuk duduk di bawah bersama Abdul Mutalib.

Keterampilan Abdul Mutalib sudah menjelaskan kehebatan dan ketokohannya. Abrahah menghormatinya. Abdul Mutalib meminta Abrahah mengembalikan binatang ternaknya dan binatang ternak penduduk Mekah yang telah dirampas oleh tentara Abrahah. Abrahah terkejut mendengar permintaan itu karena Abrahah menyangka Abdul Mutalib akan membujuknya supaya jangan mengganggu Ka’bah. Namun Abdul Mutalib mempunyai alasan sendiri. Abdul Mutalib menegaskan, “Wahai Abrahah, aku ini tuan dari unta-unta ini sebab itulah aku minta dikembalikan unta-unta ini. Sementara Ka’bah itu juga ada Tuan yang menjaganya. Sekiranya Ka’bah itu Rumah Allah, pasti Allah yang menjaganya.” Demikianlah keyakinan Abdul Mutalib terhadap Tuhannya.

Mendengarkan penjelasan Abdul Mutalib itu, Abrahah mengembalikan semua binatang ternak yang dirampas dan berjanji tidak akan mengganggu penduduk Mekah. Misinya adalah ingin meruntuhkan Ka’bah. Hasil pertemuan dengan Abrahah, Abdul Mutalib berhasil membawa pulang binatang ternak penduduk Mekah. Dia mengajak seluruh penduduk Mekah berlindung ke bukit yang dekat dengan Kabah. Dari atas bukit itulah penduduk Mekah dengan hati yang iba dan cemas hanya mampu memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Abrahah terhadap Ka’bah.

Pada hari yang telah takdirkan oleh Allah, Abrahah menggerakkan Tentara Gajahnya menuju ke arah Ka’bah untuk meruntuhkan Kabah. Allah telah memperlihatkan kebesaran-Nya. Gajah tidak mau bergerak ke arah Ka’bah walaupun dipukul beberapa kali. Bila diarahkan ke arah lain, gajah segera bergerak tetapi bila diarahkan kembali ke arah Ka’bah, gajah tidak mahu bergerak. Ketika itu juga kelihatan awan hitam di langit, awan itu semakin dekat dan rupa-rupanya adalah sekumpulan burung. Burung-burung itu rupanya adalah tentara Tuhan yang bernama Ababil. Setiap Ababil membawa tiga biji batu kecil. Apabila tentara Abrahah bergerak ke arah Ka’bah, burung-burung ini melepaskan batu-batu kecil ini ke atas tentara Abrahah. Allah memperlihatkan lagi kebesaran-Nya. Begitu batu-batu kecil ini mengenai tentara Abrahah, daging mereka mula berguguran dan menjadi cair. Banyak tentara Abrahah yang mati. Melihatkan hal itu Abrahah berusaha untuk lari menyelamatkan dirinya tapi malang batu itu mengenai badannya. Akhirnya Abrahah dan semua tentaranya terbunuh. Allah telah menceritakan pada kita umat akhir zaman peristiwa ini dalam al-Quran:

“Tidakkah engkau mengetahui bagaimana Tuhanmu telah melakukan kepada angkatan Tentara (yang dipimpin oleh pembawa) Gajah, (yang hendak meruntuhkan Kabah)? Bukankah Tuhanmu telah menjadikan rancangan jahat mereka dalam keadaan yang rugi dan memusnahkan mereka? Dan Ia telah mengirim kepada mereka (rombongan) burung berpasukan. Yang melontar mereka dengan batu-batu dari sejenis tanah yang dibakar. Lalu Ia menjadikan mereka hancur berkecai seperti daun-daun kayu yang dimakan ulat.” (Surah al-Fil: 1-5)

Maha Besar Tuhan, Maha Besar Tuhan. Peristiwa ini telah menambah penghormatan masyarakat Arab kepada Kabah terutama bangsa Quraisy dan penduduk Mekah. Mereka telah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka tahun itu dinamakan Tahun Gajah. Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun ini. Yaitu pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah.

*******************************************

Kelahiran Nabi Muhammad saw Yang Penuh Keajaiban

Apabila telah sampai waktunya bagi Abdullah untuk menikah, Abdul Mutalib menjodohkannya dengan Siti Aminah binti Abdul Wahab. Siti Aminah juga dari keturunan Bani Abdul Manaf. Nasab Rasulullah baik dari ayah ataupun ibu bertemu pada anak-anak Qusay bin Kilab. Semua adalah keturunan Nabi Ismail. Demikianlah, dari sudut nasab, Nabi Muhammad adalah orang yang paling mulia.

Keluarga Siti Aminah tinggal di Yathrib (Madinah). Abdul Mutalib membawa anaknya Abdullah ke Yathrib dan menikahkannya di sana dengan Siti Aminah. Setelah beberapa bulan menikah, Siti Aminah mengandung. Mereka pun pulang kembali ke Mekah. Dalam perjalanan ke Mekah, ayah Nabi Muhammad telah kembali ke rahmatullah.

Sebelum Siti Aminah melahirkan Nabi Muhammad saw, beliau bermimpi melihat dirinya melahirkan seorang anak lelaki yang lahir bersama satu limpahan cahaya yang memenuhi bumi. Siti Aminah juga melihat dirinya berdoa kepada Tuhan, “Aku berlindung kepada Allah, Tuhan Yang Esa dengan anak ini dari semua orang yang dengki.”

Kelahiran Agung itu berlaku pada hari Senin 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah. Menurut ulama sejarah, hari itu 50 hari setelah peristiwa “Tentera Gajah” menyerbu Mekah.

Banyak peristiwa ajaib yang berlaku mengiringi kelahiran Nabi Muhammad saw. Peristiwa itu merupakan ‘buysro’ atau berita gembira dan tanda kebesaran Rasulullah.

Sayidina Hasan bin Tsabit penyair Baginda Rasulullah saw, menceritakan bahwa sewaktu kelahiran Nabi Muhammad, dia berada di Madinah, ketika itu umumya baru tujuh tahun. Dia berkata, “Pada hari itu aku berada dalam majelis orang Yahudi Madinah. Ketika itu seorang pendeta Yahudi memanjat ke atas atap rumahnya sambil menjerit kepada semua orang, “Bintang Ahmad telah muncul di langit!” Bintang ini hanya akan muncul bila Nabi terakhir dilahirkan. Demikianlah betapa Yahudi sangat menunggu-nunggu kelahiran ini. Sayangnya mereka tidak dipilih oleh Allah untuk menjadi pendukung Nabi ini malah sebaliknya mereka menjadi musuhnya.

Di antara keajaiban lain yang berlaku, Siti Aminah ketika mengandungkan Nabi Muhammad tidak sedikit pun merasa penat dan sakit. Bahkan Nabi Muhammad ketika keluar dari perut ibunya berada dalam keadaan sujud dan sudah berkhatan.

Begitu berita kelahiran ini sampai kepada Abdul Mutalib, kegembiraannya meluap-luap apalagi apabila mendengar berbagai keajaiban yang telah berlaku. Meluncur dari mulutnya bahwa anak ini akan mempunyai satu masa depan yang besar. Karena terlalu gembira, Abdul Mutalib segera membawa Nabi Muhammad saw ke dalam Ka’bah sambil hatinya tidak putus-putus bersyukur kepada Allah.

Di antara keajaiban lainnya, ketika kelahiran Nabi Muhammad, Iwan Kisra atau istana Raja Farsi telah terjadi gempa dasyat. Farsi adalah sebuah kuasa besar dunia waktu itu. Gempa itu telah meruntuhkan 14 tiang Iwan Kisra. Bersamaan dengan itu, padamlah api yang telah menjadi sembahan Majusi sejak beribu tahun dan tidak pernah padam sama sekali sebelumnya. Namun api itu telah padam pada hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Gempa juga telah menimbun sebuah danau besar yang dipanggil danau Sawah yang terletak berdekatan dengan istana Raja Farsi itu.

Apabila Kisra melihat berbagai kejadian pelik yang tidak pernah berlaku sebelum ini, dia merasa sangat takut. Lalu dia segera memanggil ahli nujum dan pendetanya yang dapat berkomunikasi dengan jin. Sebelum kelahiran Rasulullah para jin dapat naik ke langit dan mendengar berita apa yang akan berlaku di bumi. Merekalah yang memberitahu berita ini kepada pendeta dan ahli nujum. Maka para pendeta dan ahli nujum membuat ramalan mereka.

Firman Allah:

“Kami para jin sebelum ini mempunyai tempat untuk mendengar berita di langit, barangsiapa yang mencuri mendengar lagi sekarang akan dipanah.” (al-Jin: 9)

Ada di antara pendeta ini memberitahu Kisra, bahwa peristiwa ini disebabkan oleh kelahiran seorang Nabi. Kisra bertanya apa maksud runtuhnya 14 tiang istana Kisra, mereka berkata, “Kerajaan Farsi akan diperintahkan oleh 14 orang Kisra lagi dan selepas itu kerajaan Farsi akan jatuh.”

Mendengar tafsiran itu Kisra merasa sedikit lega karena masih ada 14 orang Kisra lagi akan memerintah Farsi. Kisra menyangka hal itu akan berlaku dalam satu tempo yang panjang dan dia tidak perlu risau sama sekali. Rupanya sangkaan Kisra meleset, setelah kematiannya, anak-anaknya bergaduh sesama mereka saling berebut kekuasaan kerajaan Farsi.

Dalam waktu empat tahun saja 10 orang Kisra telah memerintah Farsi. lnilah tanda kejatuhan kerajaan Farsi, iaitu kerajaan yang paling besar ketika itu. Begitulah keajaiban dan berita gembira yang berlaku ketika kelahiran Nabi Muhammad saw.

Adapun tentang nama Muhammad, pernah suatu ketika Abdul Mutalib bermusafir ke Syam bersama tiga orang sahabatnya. Mereka bertemu dengan pendeta Yahudi di Syam. Para pendeta bercerita kepada mereka bahwa di Mekah akan lahir seorang Nabi yang namanya Muhammad. Setelah itu mereka semua berazam untuk menamakan anak mereka Muhammad. Dari sinilah Abdul Mutalib menamakan cucu lelaki dari anak kesayangannya Muhammad. Sedangkan sebelum itu orang Arab tidak ada yang menggunakan nama Muhammad.

Sumber: http://globalikhwan.or.id/tag/kisah-nabi-muhammad/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s