Sirah Nabawiyah 4: Membangun Ka’bah

Keikutasertaan Nabi saw Dalam Membangun Ka’bah

Ka’bah adalah “rumah“ yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi “perang berhala” dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang didirikan atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah swt :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Isma’il (seraya berdo’a) “Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ QS al-Baqarah : 127

Setelah itu Ka’bah mengalami beberapa kali serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Di antaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Mekkah beberapa tahun sebelum bi’tsah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini memaksa orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Ka’bah merupakan sisa atau peninggalan syari’at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab.

Rasulullah saw sebelum bi’tsah pernah ikut serta dalam pembangungan Ka’bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta secara aktif mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Rasulullah saw berusia 35 tahun, menurut riwayat yang paling shahih.

Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadits Jabir bin Abdullah r.a. ia berkata :

“Ketika Ka’bah dibangun, Nabi saw dan Abbas pergi mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw, “Singsingkan kainmu di atas lutut.“ Kemudian Nabi saw turun ke tanah, sedang kedua matanya melihat-lihat ke atas seraya berkata : “Mana kainku?“ Lalu Nabi saw mengikatkannya.

Nabi saw memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan dalam menyelesaikan tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan hajar aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Nabi saw, karena mereka semua mengenalnya sebagai al-amin (terpercaya) dan mencintainya.

[Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]

Sumber: https://abizakii.wordpress.com/2010/07/23/sirah-nabawiyah4-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s