Sirah Nabawiyah 2: Perjalanan Rasulullah yang Pertama ke Syam

Perjalanan Rasulullah yang Pertama ke Syam dan Usahanya Mencari Rejeki

Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saw diajak pamannya Abu Thalib pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil dan ahli tentang masalah-maslah kenasranian Kemudian Bahira melihat Nabi saw. Lalu ia mulai mengamati Nabi dan mengajak berbicara.

Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya; “Apa status anak ini di sisimu?“

Abu Thalib menjawab; “Anakku ( Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan panggilan anak karena kecintaannya yang mendalam).

“ Bahira bertanya kepadanya ; “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.“

Abu Thalib berkata ;“ Dia adalah anak saudaraku.“

Bahira bertanya ;“Apa yang dilakukan ayahnya ?

“ Abu Thalib menjawab;“ Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.

“ Bahira berkata; “Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.

“ Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawanya kembali ke Mekkah.

Memasuki masa remaja, Rasulullah saw mulai berusaha mencari rejeki dengan menggembalakan kambing.

Rasulullah saw pernah bertutur tentang dirinya; “Aku dulu mengembalakan kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.“

Selama masa mudanya, Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah saw tentang dirinya :

“Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah, kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah swt. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Mekkah;

“Tolong awasi kambingku, karena aku akan masuk ke kota Mekkah untuk bergadang sebagaimana para pemuda.

“ Kawan tersebut berkata; “Lakukanlah.“

Lalu aku keluar. Ketika aku sampai pada rumah pertama di Mekkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata; “Apa ini ?

“ Mereka berkata; “Pesta“.

Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangun kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya padaku , dan aku pun mengabarkan. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Mekkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan.“

[Disalin dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]

Sumber: https://abizakii.wordpress.com/2010/07/23/sirah-nabawiyah2-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s