Kisah Karomah Sahabat: Zaid bin Kharijah al-Anshari

Kisah keimanan kepada Rasul dikuatkan dengan bukti berupa MUKJIZAT, adakalanya mukjizat digunakan untuk menghadapi sihir seperti masa Nabi Musa AS, perjuangan Rasul SAW disambung oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan ulama-ulama terpilih. Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan ulama terpilih adalah Wali Allah yang dalam perjuangannya dikuatkan dengan karomah untuk meneguhkan keimanan.

Zaid bin Kharijah al-Anshari adalah keturunan Bani Harits bin Khazraj. Ia wafat pada masa ‘Utsman. Setelah jenazahnya dibungkus kain kafan, terdengar suara keras dari dalam dadanya, “Terpujilah Muhammad, terpujilah Muhammad dalam lauh mahfuzh. Benarlah Abu Bakar al- Shiddiq, benarlah Abu Bakar al-Shiddiq yang lemah jiwanya tetapi teguh menegakkan perintah Allah, dalam lauh mahfuzh. Benarlah `Umar bin Khattab, benarlah `Umar bin Khattab yang kuat lagi tepercaya dalam lauh mahfuzh. Benarlah `Utsman bin Affan, benarlah `Utsman bin Affan yang mengatur sistem mereka. Enam tahun setelah ini akan muncul berbagai fitnah, yang kuat memangsa yang lemah, tanda-tanda kiamat muncul, dan akan datang dari pasukan kalian, berita tentang sumur Aris (sebuah sumur di Madinah).” Kemudian ada seorang lakilaki dari Bani Khathmah meninggal. Jenazahnya dikafani dengan bajunya, lalu terdengar suara keras dari dalam dadanya, “Benarlah, benarlah apa yang telah dikatakan oleh Zaid dan Bani Harits bin Khazraj.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sa’id bin Musayyab)

Al-Baihaqi menjelaskan cerita tentang sumur Aris, “Nabi Saw membuat sebuah cincin kemudian memakainya, lalu cincin itu dipakai Abu Bakar, disusul `Umar, dan terakhir `Utsman, sampai kemudian cincin itu jatuh ke sumur Aris pada tahun keenam pemerintahan `Utsman. Sejak saat itu, kinerja Utsman berubah dan sebab-sebab fitnah muncul, seperti yang telah dikatakan jenazah Zaid bin Kharijah enam tahun sebelumnya.”

Riwayat ini dikutip dari kitab saya (penulis), Hujjatullah `ala al-‘Alamin. Dalam kisah itu, seolah- olah Kharijah bin Zaid melihat ruh Nabi Saw hadir di sampingnya. Ia hanya menyebutkan tiga khalifah setelah Rasulullah Saw. wafat dan memuji mereka, tetapi tidak menyebutkan Ali, karena ketika itu Ali belum menjabat khalifah. Kemudian aku mengecek hal tersebut dalam kitab Usud al- Ghabah karya Ibnu Atsir pada bab tentang biografi Kharijah bin Zaid al-Khazraji. Saya melihat ada perbedaan pendapat tentang tokoh dalam kisah ini, apakah Kharijah bin Zaid atau Zaid bin Kharijah. Di akhir pembahasannya, Ibnu Atsir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah Zaid bin Kharijah.

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani.

Sumber: http://nusantara.mywapblog.com/kisah-karomah-zaid-bin-kharijah-al-ansha.xhtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s