Kisah Karomah Sahabat: `Ashim bin Tsabit dan Khabib r.a.

Kisah keimanan kepada Rasul dikuatkan dengan bukti berupa MUKJIZAT, adakalanya mukjizat digunakan untuk menghadapi sihir seperti masa Nabi Musa AS, perjuangan Rasul SAW disambung oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan ulama-ulama terpilih. Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan ulama terpilih adalah Wali Allah yang dalam perjuangannya dikuatkan dengan karomah untuk meneguhkan keimanan.

Kisah 1
Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. Mereka berangkat, dan ketika tiba di daerah antara Asfan dan Mekkah, mereka teringat akan caci-maki suku Hudzail. Ternyata suku Hudzail membuntuti pasukan muslimin dari jarak dekat sejauh 100 lemparan anak panah. Suku Hudzail mengikuti jejak pasukan muslimin sampai kemudian berhasil menyusul mereka. Ashim dan pasukannya berada di Fad-Fad, sebuah tempat yang cukup tinggi. Namun suku Hudzail berhasil mengepung pasukan muslimin, dan mengadakan perjanjian, “Kalian harus berjanji bahwa jika kalian turun, maka kami tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.” Ashim menjawab, “Kami tidak akan turun untuk meminta perlindungan orang kafir. Ya Allah, kabarkanlah keadaan kami kepada Nabi-Mu!”

Suku Hudzail dengan liciknya memanah pasukan muslimin sehingga berhasil membunuh Ashim dan tujuh orang lainnya, yang tersisa adalah Khabib, Zaid bin Ditsnah, dan seorang lainnya. Akhirnya, tiga orang ini mau membuat perjanjian dan kesepakatan dengan suku Hudzail. Mereka turun, tetapi suku Hudzail melepaskan tali busur dengan bengis, lalu mengikat mereka. Ditsnah berkata, “Mereka melanggar perjanjian.” Ditsnah menolak tunduk kepada suku Hudzail, maka mereka menarik dan memaksanya untuk tunduk kepada mereka, tetapi ia tetap tidak mau, akhirnya suku Hudzail membunuhnya.

Suku Hudzail membawa Khabib dan Zaid lalu dijual sebagai budak di Mekkah. Keturunan Harits bin ‘Amir bin Naufal membeli Khabib, padahal Khabiblah yang membunuh Harits pada waktu perang Badar. Khabib menjadi tawanan mereka sampai ada kesepakatan mereka untuk membunuhnya.

Khabib meminjam pisau cukur dari salah seorang anak perempuan Harits, perempuan itu meminjamkannya. Perempuan itu berkata, “Aku lupa anakku ada di mana.” Khabib mencari anak itu sampai menemukannya, lalu memangku anak itu di atas pahanya. Ketika perempuan itu melihat Khabib, ia betul-betul kaget karena Khabib juga menggenggam pisau cukur. Khabib bertanya, “Apakah kau takut aku akan membunuhnya? Insya Allah aku tidak akan melakukannya.” Perempuan itu berkomentar, “Aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khabib. Aku pernah melihatnya makan anggur yang baru saja dipetik, padahal ketika itu di Mekkah tidak musim buah-buahan dan ia masih terikat rantai besi. Itu tak lain rezeki dari Allah.”

Ketika keturunan Harits membawa Khabib keluar dari Mekkah untuk dibunuh, Khabib meminta waktu untuk shalat dua rakaat. Ia melakukan shalat, lalu berdoa, “Ya Allah, lemparilah mereka terus menerus dengan kerikil, bunuhlah mereka semua, hingga tiada seorang pun yang tersisa.”

Dalam riwayat lain, Khabib mengucapkan doa, “Ya Allah, aku tidak menemukan utusan untuk mengabarkan keadaan kami kepada RasulMu. Sampaikan salamku untuknya!” Jibril kemudian menemui Nabi Saw untuk memberitahukan keadaan Khabib dan menyampaikan salamnya. Para sahabat melihat Rasulullah Saw yang saat itu sedang duduk berkata, “Salam kembali untuknya. Khabib telah dibunuh suku Quraisy.” (HR Al- Baihaqi dan Abu Na`im dari jalur Musa bin Uqbah, dari Ibn Syihab, dari `Urwah)

Kisah 2
Allah telah mengabulkan doa `Ashim sebelum ia dibunuh yang memohon kepada Allah untuk mengabarkan keadaan pasukannya kepada Rasulullah. Hari itu juga, di lain tempat Rasulullah Saw memberitahukan keadaan mereka kepada kaum muslimin. Suku Quraisy mendatangi jenazah Ashim untuk mengambil bagian tubuhnya yang mereka inginkan, karena ‘Ashim telah membunuh salah seorang pembesar suku Quraisy pada waktu perang Badar. Akan tetapi Allah mengirim sekawanan lebah untuk melindungi dan mengamankan jenazah `Ashim, sehingga suku Quraisy tidak bisa memotong sedikit pun bagian tubuh Ashim. (Riwayat Bukhari)

Riwayat lainnya menceritakan bahwa ketika suku Hudzail berhasil membunuh `Ashim bin Tsabit, mereka menginginkan kepalanya untuk dijual kepada Sullafah binti Sa’ad, karena ia pernah bernadzar sewaktu anak laki-laki satu-satunya terbunuh, bahwa jika ia bisa memenggal kepala `Ashim bin Tsabit, sungguh ia akan meminum arak dari tulang tengkorak kepala `Ashim. Akan tetapi sekawanan lebah yang dikirim Allah untuk melindungi jenazah Ashim membuat mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Karena sekawanan lebah itu menghalangi suku Hudzail mendekati jenazah `Ashim, mereka berkata, “Biarkan saja dulu sampai lebah itu pergi sehingga kita bisa mengambil jenazah Ashim.” Namun Allah memerintahkan lembah untuk menelan Ashim dan membuatnya lenyap. Ashim telah berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan menyentuh orang musyrik dan tidak akan disentuh oleh mereka selama hidupnya, maka Allah menjaga `Ashim agar tidak disentuh orang musyrik ketika wafat sebagaimana semasa hidupnya.” (Diceritakan oleh Al-Baihaqi dari jalur Ibnu Ishaq dari `Ashim bin `Umar bin Qatadah)

Kisah lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengutus Ashim bin Tsabit menemui orang-orang kafir. Kemudian mereka ingin memenggal kepalanya untuk diserahkan kepada Sullafah. Akan tetapi Allah mengutus sekawan lebah untuk menjaganya hingga mereka tidak bisa memenggal kepalanya. Adapun tentang Khabib disebutkan bahwa ia berdoa, “Ya Allah aku tidak mendapatkan seseorang untuk menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu, maka sampaikanlah salamku untuknya.” Saat itu juga di tempat yang lain, para sahabat melihat Rasulullah berkata, “Salam kembali untuknya.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa ya Nabi?” Beliau menjawab, “Untuk saudara kalian, Khabib, yang telah terbunuh.” (HR Baihaqi dan Abu Na’im dari Buraidah bin Salman Aslami)

Kisah 3
Amr bin Umayyah al. Dhamri bercerita, “Rasullah Saw menyuruhku mengambil jenazah Khabib sendirian. Aku menghampiri sepotong kayu yang digunakan orang-orang kafir untuk menyalib Khabib, setelah ia dibunuh. Aku menaiki kayu itu sambil mengedarkan pandangan karena takut ada musuh yang melihat. Aku melepaskan Khabib dan meletakkannya di atas tanah, lalu aku beranjak dari sana sedikit. Ketika aku menoleh lagi, jenazah Khabib sudah tidak ada, seolah-olah ditelan bumi. Hingga kini jenazah Khabib tidak diketahui keberadaannya.” (Riwayat Ibnu Ahi Syaibah dan Al- Baihaqi Ja’far bin `Amr bin Umayyah al-Dhamri)

Riwayat yang lain menceritakan bahwa Rasulullah Saw. menyuruh Migdaq dan Zubair untuk menurunkan Khabib dari kayu salib. Mereka berdua sampai di daerah Tan’im, dan menemukan di sekitar Khabib ada 40 orang sedang memanggang sate. Lalu mereka menurunkan Khabib, dan Zubair membawanya ke atas kudanya. Jenazah Khabib masih segar dan tidak berubah sedikit pun. Orang-orang musyik mengejar mereka berdua. Ketika mereka berhasil menyusul, Zubair melemparkan jenazah Khabib, dan tiba-tiba jenazahnya lenyap ditelan bumi. Oleh karena itu, Khabib disebut ‘orang yang tertelan bumi’. (Diriwayatkan oleh Abu Yusuf dalam kitab Al- Lathaif dari Al-Dhahhak)

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani.

Sumber: http://nusantara.mywapblog.com/kisah-karomah-ashim-bin-tsabit-dan-khabi.xhtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s