Renungan 4: Cinta Semilir Angin

Sepenggal syair “Sebelum Cahaya” oleh Letto:

Ingatkan engkau kepada angin yang berhembus mesra, yang kan membelaimu, cinta ..

Sekilas syair lagu itu adalah ungkapan cinta pada kekasih untuk kemesraannya, namun jika dicermati nuansa religinya tak kalah pamor. Jika dimaknai syair ini adalah bahasa ingatan Tuhan pada hamba-Nya akan terasa mendalam. Bagaimana Tuhan telah mencukupi dan menyiapkan segala kebutuhan pada manusia hamba-Nya ini. Hal yang kelihatan sangat sepele yaitu udara atau angin semilir yang telah tersedia sebelum seorang manusia terbangun dari tidurnya untuk kebutuhan nafas tiap detik kehidupannya. Sebagian besar manusia hampir terlupa atau lalai akan nikmat yang kelihatan sepele ini namun luar biasa manfaatnya bagi manusia, bagaimana manusia bisa hidup tanpa bernafas, tanpa udara angin semilir yang setiap saat membelai manusia?

Sungguh cinta kasih Tuhan pada manusia begitu hebat begitu lembut, kelembutannya bahkan manusia terlalai kalau setiap saat mendapatkan cinta dari Tuhannya, memang godaan dunia yang memikat mata lahir, penglihatan manusia ini lebih banyak melalaikan manusia dari Tuhannya. Siapkah diri kita untuk mempertanggungjawabkan setiap tarikan dan hembusan nafas dari udara angin semilir yang setiap saat kita dapatkan.

C.I.N.T.A….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s