JANGAN BANYAK TERTAWA (Tanbihul Ghafilin)

                        Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin Uyainah berkata: “Nabi Isa a.s. berkata kepada sahabat hawariyyin (yang setia): “Hai garam bumi kamu jangan merosak sebab segala sesuatu jika dirosak dapat diubati dengan garam dan bila garamnya yang rosak tidak dapat diubati dengan apapun, hai para hawariyyin, kamu jangan memungut upah dari orang yang kamu ajar kecuali sebagaimana kamu memberi kepadaku dan ketahuilah bahawa kamu mempunyai dua ciri kebolehan iaitu tertawa tanpa sebab yang mentertawakan dan tidur pagi tanpa bangun malam.”

                        Garam bumi para ulama yang selalu memberi petunjuk kepada manusia dan memperbaiki akhlak kelakuan manusia dan menunjukkan jalan yang diridhoi Allah s.w.t., maka apabila ulama telah meninggalkan tugasnya maka siapakah yang dapat ditiru oleh orang-orang yang bodoh. Kerana ulama sebagai waris Nabi seharusnya mereka mengikuti jejak Nabi, yakni tidak minta upah atas ajarannya, sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Qul la as’alukum alaihi ajra illal mawaddata filqurba.” (Yang bermaksud): “Katakanlah saya tidak minta daripadamu upah, hanya supaya kamu suka pada kaum kerabatku.” Sedang upah hanya dari Allah s.w.t. Yang dimaksudkan dengan tertawa ialah bergelak-gelak dan ini makruh kurang baik dan tidur pagi padahal tidak bangun malam tanda kurang sihat akal.

                        Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tidur waktu pagi itu tanda-tanda ahmaq (degil) dan tengah hari itu baik dan petang hari tanda kebodohan.”

                        Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Umar r.a. berkata: “Pada suatu hari Nabi Muhammad s.a.w. keluar kemasjid, tiba-tiba ada orang berbicara-bicara sambil tertawa, maka Nabi Muhammad s.a.w. berhenti didepan mereka dan memberi salam lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingati yang merosak kelazatan.” Sahabat bertanya: “Apakah yang merosakkan kelazatan itu?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Mati.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. keluar melihat orang-orang sedang tertawa gelak-gembira, maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda kepada mereka: “Ingatlah demi Allah yang jiwaku ditanganNya andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui nescaya kamu sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian dilai hari keluar pula dan melihat orang-orang sedang gelak ketawa sambil berbicara-bicara, maka Nabi Muhammad s.a.w. memberi salam dan berkata: “Sesungguhnya Islam ini pada mulanya asing dan akan kembali asing, maka untung bagi orang-orang yang asing pada hari kiamat.” Ditanya: “Siapakah orang-orang asing itu pada hari kiamat?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ialah mereka yang memperbaiki dimasa kerosakan manusia.” (Yakni jika manusia telah rosak moralnya (akhlak) maka mereka tetap memperbaiki akhlak mereka.)

                        Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ishaq bin Manshur berkata: “Ketika Khidzir akan berpisah dengan Nabi Musa a.s. maka berkata Nabi Musa a.s.: “Berilah nasihat kepadaku.” Khidzir berkata: “Ya Musa, jangan banyak bicara dan jangan berjalan tanpa kepentingan dan jangan tertawa tanpa sesuatu yang mentertawakan dan jangan menempelak orang yang salah dengan dosa kesalahannya dan menangislah atas dosa-dosamu sendiri, hai putera Imran.”

                        Ja’far bin Auf dari Mas’ud dari Auf bin Abdullah berkata: “Biasa Nabi Muhammad s.a.w. tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya.” (Yakni tidak suka melerek) Hadis ini menunjukkan bahawa senyum itu sunnat dan tertawa bergelak-gelak itu makruh. Maka seharusnya orang yang sihat akal jangan gelak-gelak tertawa sebab banyak yang bergelak didunia bererti akan banyak menangis diakhirat. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi):  “Fal yadh haku qalila wakyabku katsira.” (Yang bermaksud): “Hendaklah kamu sedikit ketawa dan banyak menangis setelah menerima pembalsan dari amal perbuatan mereka.”

                        Alhasan Albashri berkata: “Sungguh ajaib seseorang dapat tertawa pada hal dibelakangnya ada api neraka dan orang yang bersuka-suka sedang dibelakangnya maut.”

                        Alhasan Albashri bertemu dengan pemuda yang sedang tertawa, lalu ditanya: “Hai anak, apakah engkau sedah menyeberang shirath?” Jawabnya: “Belum.” “Apakah engkau pasti engkau akan masuk syurga atau neraka?” Jawabnya: “Belum.” “Lalu kerana apa engkau tertawa sedemikian itu?” Maka sejak itu pemuda itu tidak tertawa lagi. Nasihat Alhasan meresap benar dalam hatiya sehingga ia bertaubat daripada tertawaan. Demikianlah nasihat dari ulama yang mengamalkan benar ilmunya, sangat berguna ilmunya dan berkesan nasihat-nasihatnya, adapun ulama-ulama sekarang kerana mereka sendiri tidak menjalankan ilmunya maka ajarannya kurang berkesan.

                        Ibn Abbas r.a. berkata: “Siapa yang tertawa ketika berbuat dosa maka ia akan menangis ketika akan masuk neraka.” Orang yang lebih banyak ketawa didunia merekalah yang lebih banyak menangis diakhirat, dan orang yang banyak menangis didunia merekalah yang banyak tertawa diakhirat.

                        Yahya bin Mu’aadz Arrazi berkata: “Empat macam yang menghilangkan tertawanya orang mukmin dan kesenangannya iaitu:

  • Memikirkan akhirat

  • Kesibukan pencarian keperluan hidup

  • Kerisauan memikirkan dosa

  • Tibanya musibah bala

                        Maka seharusnya seorang mukmin sibuk memikirkan semua itu supaya tidak banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu bukan sifat orang mukmin, bahkan Allah s.w.t. telah mencela orang-orang yang tertawaan didalam ayat (Yang berbunyi): “Afa min hadzal haditsi ta’jabun, watadh hukuna wala takbun, wa antum saamiduun.” (Yang bermaksud): “Apakah kerana keterangan ajaran ini kamu ajaib, dan tertawa dan tidak menangis, padahal kamu sedang lalai.”

                        Dan Allah s.w.t. memuji orang-orang yang menangis didalam ayat (Yang berbunyi): “Wa yakhirruna lil adzqaani yabkuun.” (Yang bermaksud): “Dan mereka menundukkan dagunya sambil menangis.”

                        Maka selayaknya tiap orang memikirkan lima macam iaitu:

  • Memikirkan dosa-dosanya yang lalu, sebab ia telah berbuat dosa-dosa itu tetapi tidak mengetahui apakah dimaafkan atau tidak.

  • Dia telah berbuat amal kebaikan tetapi belum mengetahui apakah diterima atau tidak

  • Dia telah mengetahui apa yang telah lalu dari masa hidupnya dan belum mengtahui bagaimana kesudahannya

  • Dia telah mengetahui bahawa Allah s.w.t. membuat tempat maka ditempat yang mana ia akan masuk

  • Dia tidak mengetahui apakah Allah s.w.t. ridho kepadanya atau murka

    Maka siapa yang tidak memperhatikan lima macam ini dimasa hidup, ia akan menerima lima macam sesudah mati iaitu:

  • Menyesal terhadap apa yang ia tinggalkan kepada ahli waris yang akan menjadi musuhnya

  • Menyesal kerana menunda-nunda amal kebaikan sehingga sedikit amal kebaikannya

  • Menyesal kerana melihat dosa-dosa yang amat banyak sehingga minta izin kembali untuk taubat dan tidak diizinkan

  • Menyesal kerana banyak yang menuntutnya dan tidak dibayar tuntutan itu kecuali dengan amal

  • Allah s.w.t. murka kepadanya dan tidak ada jalan untuk minta ridhoNya        

                        Abu Dzar r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, nescaya kamu banyak menangis dan sedikit tertawa, dan andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kamu akan keluar kedataran tinggi menjerit-jerit kepada Tuhan menangis dan andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui nescaya tidak dapat bersuka-suka pada isterimu dan tidak tenang ditempat tidurmu. Dan saya ingin andaikan ketika Allah s.w.t. menjadikan aku dijadikan pohon yang ditebang orang.”

                        Yunus meriwayatkan dari Alhasan Albashri berkata: “Seorang mukmin tiap pagi dan petang ia sedih memikirkan hari kemudian.” Dan Alhasan sendiri selalu tampak bagaikan orang baru menguburkan ibunya. Al-auza’i ketika menafsirkan ayat (Yang berbunyi): “Maa lihaadzal kitabi la yughaadiru soghirotan walaa kabiratan illa ahshaha.” (Yang bermaksud): “Mengapakah suratan amal ini tidak meninggalkan yang kecil maupun yang besar melainkan dicatatnya?.” Tafsiran yang kecil itu senyum dan yang besar itu gelak ketawa.

                        Abdullah bin Amar bin Al-ash r.a. berkata: “Andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui tentu kamu sedikit tertawa dan banyak menangis, dan nadaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui nescaya akan sujud salah satu kamu hingga putus punggungnya dan akan menjerit sehabis suaranya, menangislah kamu kepada Allah s.w.t. jika tidak dapat menangis maka tangis-tangiskanlah sehingga menyerupai orang-orang yang menangis.”

                        Sufyan bin Muhammad bin Ajlan menerangkan hadis yang menerangkan: “Tiap mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga iaitu:

  • Mata yang pernah menangis kerana takut kepada Allah s.w.t.

  • Mata yang dipejamkan dari apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t.

  • Mata yang jaga malam dalam jihad fisabilillah

                        Abu Hanifah berkata: “Saya pernah tertawa satu kali dan saya sangat menyesal atas kejadian itu, iaitu ketika saya berdebat dengan Amr bin Ubaid Alqadari (Orang bermadzhab qodariyah yang tidak percaya pada takdir Allah s.w.t. yang sudah selesai), ketika saya merasa menang lalu tertawa, maka ia berkata: “Engkau bicara tentang ilmu dan tertawa, maka saya tidak akan berkata-kata kepadamu untuk selamanya” maka saya sangat menyesal, sebab andaikan saya tidak tertawa nescaya akan dapat menundukkannya kefahamanku sehingga menjadi kebaikan bagi ilmu.”

                        Muhammad bin Abdullah Al-abid berkata: “Siapa yang meninggalkan penglihatan yang tidak perlu, ia mendapat taufiq untuk khusyu’ dan siapa meninggalkan sombong diberi taufiq untuk bertawadhuk dan siapa yang meninggalkan bicara yang tidak penting maka ia mendapat hikmat dan siapa yang meninggalkan makanan yang berlebihan maka diberi taufiq untuk merasakan lazatnya ibadat, dan siapa yang meninggalkan senda gurau diberi wibawa dan keindahan, dan siapa yang meninggalkan tertawa maka ia berwibawa dan hebat, dan siapa yang tidak menginginkan kekayaan orang maka dicinta, dan siapa yang tidak menyelidiki hal orang, maka ia diberi taufiq untuk menyelidiki kesalahan diri sendiri, dan siapa yang meninggalkan ragu terhadap sifat-sifat Allah s.w.t. maka selamat dari nifaq.”

                        Nabi Muhammad s.a.w. bersabda mengenai firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Wa kaana tahtahu kanzullalhumma.” Dibawahnya ada lembaran mas yang tertulis lima garis iaitu:

  • Saya hairan pada orang yang yakin akan mati, bagaimana ia dapat bergembira

  • Saya hairan terhadap orang yang yakin adanya neraka, bagaimana ia dapat tertawa

  • Saya hairan pada orang yang yakin pada takdir, bagaimana ia susah (berdukacita)

  • Saya hairan pada orang yang yakin pada perubahan dunia, bagaimana ia merasa senang

  • Laa ilaha illallah, Muhammad rasulullah

                        Tsabit Albunani berkata: “Diceritakan bahawa tertawanya seorang mukmin itu kerana lupa kepada urusan akhirat, andaikan ia tidak lupa maka tidak akan ketawa.”

                        Yahya bin Mu’adz Arrazi berkata: “Carilah kesenangan yang tidak ada susahnya, dengan bersusah yang tidak ada senangnya.” Yakni kesenangan akhirat yang abadi tidak dapat dicapai tanpa mengendalikan hawa nafsu syahwat, sehingga terasa selalu susah kerana harus menelan liur, kerana menahan keinginan hawa nafsu syahwat.”

                        Tiga macam hal yang dapat mengeraskan hati iaitu:

  • Tertawa tanpa sesuatu yang mentertawakan (ajaib)

  • Makan tanpa rasa lapar

  • Bicara yang tidak penting (perlu)

                        Bahz bin Hakiem dari ayahnya dari neneknya berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Ancaman celaka bagi orang yang dusta untuk mentertawakan orang, ancaman bahaya baginya ancaman celaka baginya.”

                        Ibrahim Annakha’i berkata: “Adakalanya seorang melepas satu kalimat untuk mentertawakan orang-orang disekitarnya, maka Allah s.w.t. murka padanya lalu murka Allah s.w.t. itu merata kepada orang-orang yang disekitarnya. Dan adakalanya seorang berkata kalimat yang diridhoi Allah s.w.t., maka ia mendapat rahmat dan rahmat Allah s.w.t. itu merata kepada orang-orang yang disekitarnya.”

                        Watsilah bin Al-asqa’ dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Hai Abuhurairah, jadilah engkau seorang warak (menghindari semua yang haram dan syubhat) nescaya engkau menjadi sebaik-baik manusia ibadatnya, dan jadilah engkau orang yang qana’ah (teriman), nescaya menjadi manusia yang sangat bersyukur, dan sukailah untuk lain orang apa yang kau suka untuk dirimu sendiri nescaya engkau menjadi orang mukmin, dan perbaikilah ketetanggaan kepada tetanggamu nescaya engkau menjadi orang muslim dan kurangilah tertawa sebab banyak tertawa itu mematikan hati.”

                        Malik bin Dinar dari Al-ahnaf bin Qays berkata: “Umar berkata kepadaku: “Siapa yang banyak tertawa kurang wabawanya dan siapa yang suka bergurau diremehkan orang dan siapa yang membiasakan sesuatu terkenal dengan kebiasaannya itu dan siapa yang banyak bicara banyak salahnya dan siapa yang kurang waraknya (hati-hatinya) dan siapa yang kurang wara’nya mati hatinya dan siapa yang mati hatinya maka neraka lebih layak baginya.”

                        Abul Laits berkata: “Awaslah kamu dari tertawa bergelak kerana mengandungi lapan bahaya iaitu:

  • Tercela oleh ulama dan orang yang sopan sempurna akal

  • Memberanikan orang bodoh kepadanya

  • Jika engkau bodoh nescaya bertambah kebodohanmu dan bila engkau alim berkurang ilmumu sebab ada riwayat: Seorang alim jika tertawa bererti telah memuntahkan ilmunya.

  • Melupakan dosa-dosa yang lampau

  • Memberanikan berbuat dosa dimasa mendatang sebab bila tertawa gelak membekukan hatimu

  • Melupakan mati dan akhirat

  • Engkau menanggung dosa orang yang tertawa kerana tertawamu

  • Tertawa gelak-gelak itu menyebabkan banyak menangis diakhirat

                        Abu Dzar menafsirkan ayat (Yang berbunyi): “Fal yadh haku qalila, walyabku katsira, jazaaan bima kaanu yaksibun.” (Yang bermaksud): “Hendaklah mereka ketawa sedikit, sebab didunia ini sedikit dan mereka akan menangis banyak, kerana akhirat itu abadi sebagai pembalasan terhadap apa yang mereka perbuat.”

Sumber: http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/laranganketawa.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s