Terjemah Kitab Qotrul Ghoits (Cahaya Iman), Syaikh An-Nawawi Al-Jawwi

DAFTAR ISI

1. Pendahuluan
2. Daftar isi
3. Kata pengantar
4. Muqaddimatul Muallif
5. Apa yang berhubungan dengan hakikat iman?
6. Bagaimana beriman terhadap Allah?
7. Faidatun
8. Cara beriman terhadap para malaikat?
9. Tambihun
10. Cara beriman terhadap kitab-kitab?
11. Berapa kitab yang telah Allah turunkan?
12. Cara beriman terhadap para Nabi?
13. Berapa orang yang memilki syari’at?
14. Far’un
15. Berapa jumlah para Nabi?
16. Berapa jumlah para nabi yang menjadi Rasul?
17. Hafal nama dan hitungan para Rasul, syarat sah iman atau bukan?
18. Cara beriman terhadap hari akhir?
19. Cara beriman terhadap qadar baik dan buruknya dari Allah?
20. Iman bisa ber-juz-juz atau tidak?
21. Yang dimaksud dengan iman?
22. Shalat lima waktu, zakat, dan… Hakikat iman atau bukan?
23. Tambihun
24. Iman bersifat suci atau tidak?
25. Iman makhluk atau bukan?

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى سَيِّدِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلى اۤلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَََوْمِ الدِّيْنِ.

Puji syukur kehadirat Ilahi Rabby kami panjatkan. Sebab dengan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kami dapat menelaah kitab QATHRUL GHAITS serta menulis hasil penelaahan tadi dalam wujud terjemahan ini.

Kitab QATHRUL GHAITS yang didalamnya membahas tentang ilmu Tauhid ini adalah sangat penting sekali untuk dipelajari secara mendalam oleh segenap santri dan kaum Muslimin. Sebab, memahami kitab seperti ini merupakan sebagian tanda Muslim yang sejati, karena dia dapat mengerti serta memahami hakikat dirinya dan mengenal Tuhan yang menciptakannya, sehingga dia dapat menghambakan diri kepada Allah Swt. Secara haq tanpa ada keraguan sedikitpun dihatinya.

Kitab QATHRUL GHAITS ini tidak sama seperti kitab-kitab ilmu Tauhid lainnya, sebab kitab ini dalam segala tatarannya berbentuk tanya-jawab tentang masalah dasar-dasar akidah Islam, sehinnga sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti meski pun hanya disertai sebagian dari dalil naqli yang dapat menolak keraguan yang dicetuskan oleh filosofis baru, serta membetulkan kesalahan-kesalahan yang membahayakan terhadap akidah, dengan disertai keterangan yang menarik hati pembaca untuk mencintai agama yang jelas serta mengingat kembali pada ajaran nabi Muhammad saw. Semoga kitab ini dapat diajarkan diseluruh Pondok Pesantren dan sekolah, demi menjaga tegaknya akidah para santri dan para murid dalam mengikuti syariat nabi tercinta Muhammad saw.

Dan semoga kitab ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya bagi semua yang membacanya serta menjadi tambahan barokah dari Allah Swt. Amin ya Rabbal Alamin…

Kami selalu berharap kepada para pembaca untuk mengoreksi kembali serta membetulkan terhadap segala kekurangan dan kesalahan dari terjemahan yang diterjemah oleh anak didik kami yang masih mubtadi’ ini, guna terusnya menegakkan kalimatillah azza wa jalla.

HAMIDUDDIN S.Pd.I

SYEIKH MUHAMMAD AN-NAWAWI AL-JAWIE

MUQADDIMATUL MUALLIF

بسم الله الرحمن الرحيم

الحَمْدُ للهِِ الِّذِى هَدَانَا لِلإِسْلامِ وَالإِيْمَانِ وَخَصَّ بَعْضَ عِبَادِهِ بِالطَّاعَاتِ وَبَعْضَهُمْ بِالعِصْيَانِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى أَفْضَلِ الرُّسُلِ سَيِّدِ وَلَدِ اۤدَمَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاۤلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ عَدَدَ مَا جَرَى بِهِ َالَق.
اما بعد
Murtakibuddzunub Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi Asy-Syafi’i berkata: “Ini adalah kitab syarah dari permasalahan-permasalahan Syekh Al-Imam Abil Laits Al-Muhaddits Al-Mufassir yang dikenal dengan Imam Al-Huda Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim Al-Hanafi As-Samarqandi, kitab ini memperjelas makna-makna dan memperkaya dasar-dasar dari permasalahan-permasalahan tersebut. Saya memberi nama kitab ini “QATHRUL GHAITS FI SYARHI MASAILI ABIL LAITS”.
Hanya kepada Allah saya memohon semoga Ia memberikan manfaat sebab kitab ini kepada setiap orang yang mempelajarinya dengan hati yang salim serta menjadikannya yang ikhlas semata-mata mencari ridla Allah Al-Karim. Sesungguhnya Allah Dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang.

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ismul jalalah (الله) tidak mustaq dan tidak pula manqul. Al pada ismul jalalah adalah zaidah lazimah bukan litta’rif (untuk mema’rifat) tetapi Al tersebut memang sudah diletakkan demikian. Ismul jalalah adalah suatu asma yang mencakup pada asma-asma Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang agung. Lafadh Ar-Rahman artinya adalah Dzat yang banyak memberi rahmat dengan nikmat-nikmat yang agung, sedang lafadh Ar-Rahim artinya adalah Dzat yang banyak memberi rahmat dengan nikmat-nikmat yang kecil.
Adapun pengkhususan asma dengan asma-asma ini ialah agar orang yang arif tahu bahwa yang berhak untuk dimintai dalam semua masalah adalah Ia yang maha disembah yang hakiki, pemberi semua nikmat yang besar dan yang kecil.
Mushannif mendahului kitabnya ini dengan basmalah karena mengikuti kitab-kitab samawi dan mengamalkan hadits-hadist yang telah diriwayatkan. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Apabila seorang hamba menulis Bismillahhirahmanirrahim pada sebuah papan atau kitab, maka sesungguhnya para malaikat akan mencatat untuknya suatu pahala dan memohonkan ampunan untuknya selagi asma itu berada pada papan atau kitab tersebut”.
Segala puja-puji bagi Allah tuhan semesta alam pemilik semua makhluk, dan pahala yang mulia hanya bagi orang-orang yang bertaqwa, yakni balasan Allah terhadap meninggalkan kemaksiatan. Shalawat tambahan rahmat dari Allah yang disertai dengan penghormatan dan juga salam penghormatan dari Allah semoga selalu dihaturkan kepada Saiyidina Muhammad saw. Beliau adalah putra Abdillah, makhluk paling sempurna dalam penciptaan dan budi pekertinya yang diutus di Makkah dan diwafatkan di Madinah al-Musyarrafah, juga kepada keluarga-keluarga beliau, yaitu diantara ahlil iman yang telah membantu beliau serta kepada para sahabat beliau, mereka adalah orang-orang yang berkumpul dengan beliau semasa hidup dan setelah kenabian beliau serta beriman terhadap beliau. Para sahabat yang masih hidup setelah Rasulullah wafat berjumlah seratus duapuluh empat ribu sahabat radhiyallah anhum, sebanyak jumlah para Nabi dan sebanyak jumlah para wali dalam setiap tahun.

PERMASALAHAN I
APA YANG BERHUBUNGAN DENGAN HAKIKAT IMAN?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Apa sajakah yang berhubungan dengan hakikat iman yang disebut dengan tashdiq?
Maka hendaklah kamu berkata: Aku percaya, aku membenarkan dan aku mengakui terhadap Allah, terhadap para malaikat, kitab-kitab, para utusan, terhadap hari akhir dan qadar baik dan buruknya dari Allah. Ini seperti yang telah dikatakan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Umar dari hadits Jibril. Apabila kamu mengambil dari riwayat Imam Bukhari yang juga dari hadits Jibril, maka hendaklah kamu berkata: Aku percaya terhadap Allah, para malaikat, dan berjumpa dengan-Nya, terhadap para utusan, dan ba’ats (pembangkitan). Maksudnya, aku percaya terhadap adanya Allah, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, terhadap para malaikat, sesungguhnya mereka adalah para hamba yang dimuliakan, terhadap melihat Allah kelak dakhirat bagi orang mukmin, terhadap para utusan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang benar dalam setiap apa yang mereka sampaikan dari Allah, dan terhadap ba’ats dari kubur.
Sebagian ulama’ mengatakan, barang siapa yang dimasa kecilnya telah mempelajari “Aku percaya terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab, para utusan, hari akhir dan qadar baik dan buruknya dari Allah”, dan dia tahu bahwa itu yang disebut iman, hanya saja dia tidak bisa memperbaik tafsirannya, maka dia tidak dihukumi beriman. Sebagian ulama’ juga mengatakan, iman seseorang diwaktu ya’su, yaitu diwaktu sakaratil maut saat ia melihat tempatnya di surga dan neraka imannya tidak diterima. Sesungguhnya seorang hamba pada waktu itu akan melihat tempatnya, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nabi saw.:

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّه قَالَ أَنَّ العَبْدَ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَرَى مَوْضِعَََهُ فِى الْجَنَّةِ اَوْ فِى النَّارِ

“Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mati hingga ia melihat tempatnya di surga atau di neraka”.

Lain halnya dengan taubat orang yang sedang sakaratil maut, taubatnya diterima setelah imannya sah. Karena ada sebuah keterangan yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:

رُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ للهِ صَلَّى اللهُ عَلََيْهِ وَسَلَّمَ تُُُقْبَلُ تَوْبَةُ العَبْدِ المُؤْمِنِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ (اي مَََََا لَمْ تَبْلُغْ) رُوْحُهُ الحُلْقُومَ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda: Taubat seorang hamba yang beriman akan diterima selagi nyawanya belum sampai ke tenggorokan”.

Ketahuilah bahwasanya iman terhadap Allah ada tiga macam. Yaitu: Iman taqlidy, iman tahqiqy dan iman istidlaly.

Iman Taqlidy : Seseorang ber-i’tiqad (berkeyakinan) terhadap ke-esa-an Allah dengan cara mengikuti perkataan ulama’ tanpa mengetahui dalilnya. Iman seperti ini tidak akan terbebas dari keterombang-ambingan yang disebabkan oleh adanya sesuatu yang mendatangkan keraguan.

Iman Tahqiqy : Sebuah bisikan atau kata hati seseorang terhadap ke-esa-an Allah, dengan sekiranya seandainya penduduk alam berbeda dengannya dalam apa yang telah dibisikan hatinya, niscaya tidak akan terdapat kegoyahan dihatinya.

Iman Istidlaly : Seseorang menjadikan dalil atau petunjuk dari sesuatu yang diciptakan terhadap yang menciptakan, dari suatu bekas terhadap yang menjadikan bekas. Misalnya, adanya bekas pasti menunjukkan terhadap adanya yang membekaskan, adanya bangunan tentu menunjukkan adanya yang membangun, adanya suatu yang diciptakan pasti menandakan terhadap adanya yang menciptakan, dan adanya ba’roh (kotoran unta) tentu menunjukkan tehadap adanya ba’iir (unta), karena adanya bekas tanpa adanya yang membekaskan adalah mustahil.

PERMASALAHAN II
BAGAIMANA IMAN TERHADAP ALLAH?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana kamu beriman terhadap Allah ?”
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya Allah itu Dzat yang esa, yaitu yang sendiri pada sifat-sifat dan dzat-Nya tidak ada yang menyekutui-Nya, Dzat yang maha hidup dengan kehidupan yang qadim yang ada pada dzat-Nya bukan dengan nyawa, Dzat yang maha tahu dengan pengetahuan yang qadim yang ada pada dzat-Nya, yang mengetahui benar terhadap yang wajib, jaiz dan yang mustahil, Dzat yang maha kuasa dengan kekuasaan yang qadim yang ada pada dzat-Nya, bukan dengan penelitian juga bukan dengan perantara, yang mana ajzu (ketidak berdayaan) tidak akan terjadi pada kekuasaan-Nya yang mencakup terhadap semua sesuatu yang mumkin, Dzat yang maha berkehendak dengan kehendak yang qadim yang ada pada dzat-Nya yang mencakup terhadap semua sesuatu yang mumkin, Dzat yang maha mendengar yang mengetahui semua yang didengar dengan pendengaran yang qadim yang ada pada dzat-Nya, Dzat yang maha melihat, yang mengetahui terhadap semua yang dilihat ketika adanya sesuatu tersebut dengan penglihatan yang qadim yang ada pada dzat-Nya, Dzat yang maha berfirman dengan firman yang qadim yang ada pada dzat-Nya tanpa huruf dan tanpa suara, maka ‘adam (ketiadaan) tidak mengawali dan tidak akan terjadi pada kalam (firman) Allah yang berhubungan dengan yang wajib, seperti firman Allah swt.:
       
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku”

Dengan yang mustahil, seperti firman Allah:
    
“Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”.

dan dengan yang jaiz, seperti firman Allah:
   .
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”

Menurut pendapat yang shahih, madlulul al-fadh (yang ditunjukkan oleh lafadh-lafadh) yang kita baca semuanya berhubungan dengan kalam Allah yang qadim, seperti yang telah dikatakan oleh Ibnu Qasim dan mufakat sekelompok Ulama’ Mutaakhkhirin.
Apabila kamu ditanya tentang Al-Quran, apakah ia qadim atau hadits ? Maka sebaiknya kamu meminta penjelasan terlebih dahulu kepada orang yang bertanya, apabila ia berkata padamu, bahwa yang saya maksud adalah yang ada pada dzat Allah yang mana apa yang ada pada kita semua telah menunjukkannya, maka katakanlah, ia qadim disebabkan sifat qidamnya Dzat, karena qidam adalah termasuk dari sebagian sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Dan apabila ia berkata, bahwa yang saya maksud adalah sesuatu yang berada di antara dua buah pinggir, yaitu yang berupa tulisan-tulisan, maka katakanlah padanya, bahwa ia hadits disebabkan sifat hudutsnya tulisan-tulisan.
Demikian juga tentang lafadh-lafadh, maka apabila orang yang bertanya berkata padamu, bahwa yang saya maksud adalah ditinjau dari segi madlul (yang ditunjukkan), maka katakanlah, bahwasanya sesuatu (lafadh) yang menunjukkan terhadap dzat Allah, suatu sifat dari beberapa sifat-Nya atau suatu hikayat milik-Nya adalah qadim. Dan sesuatu yang menunjukkan terhadap benda-benda yang baru (hawadits) atau sifat-sifatnya, misalnya dzat-dzat makhluk atau sifat-sifatnya, seperti kebodohan dan pengetahuan kita, semua itu adalah hadits (baru), begitu juga dengan hikayat-hikayat hawadits.
Lafadh-lafadh tersebut dinamakan Kalamullah, karena ia-lah yang menunjukkan terhadap Kalamullah, dan sesungguhnya makna Kalamullah hanya akan dapat dipahami dengan melalui lafadh-lafadh tersebut.
Kalamullah, apabila diungkapkan dengan menggunakan bahasa arab maka dinamakan Al-Quran, apabila dengan bahasa Ibriyyah, yaitu bahasa orang yahudi, dinamakan Taurat, dan apabila dengan bahasa Suryaniyyah maka dinamakan Injil dan Zabur. Adapun perbedaan ibarat (ungkapan) tidaklah menjadi penentu terhadap adanya perbedaan kalam, sebagaimana Allah disebut dengan beberapa ibarot yang berbeda-beda, padahal sesungguhnya dzat Allah adalah esa.
Allah adalah Dzat yang maha kekal pada dzat-Nya yang agung yang kekal adanya, tidak akan menerima fana’ (rusak/binasa), Dzat yang maha memberi rizki yang menciptakan banyak-banyak rizki, atau Dzat yang banyak memberi rizki serta menyampaikannya pada para makhluk. Yang dinamakan rizki tidaklah hanya tertuju pada makanan dan minuman saja, akan tetapi pada setiap apa yang bisa diambil manfaatnya oleh semua hewan, yaitu yang berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Termasuk dari nikmat yang paling agung adalah taufiq untuk bertaat. Rizki ada dua macam: Rizki yang bersifat dhahir, yaitu yang berupa makanan-makanan pokok dan makanan-makan lainya, itu semua milik badan, dan rizki yang bersifat bathin, yaitu yang berupa ilmu pengetahuan dan terbukanya pengetahuan terhadap Allah, itu semua milik hati dan asrar. Ketahuilah bahwasannya Allah memberikan rizki kepada semua makhluk-makhluk-Nya, dan diantara beberapa sebab dilapangkannya rizki adalah banyak bershalat.
Firman Allah:
              
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.
Banyak bershalawat pada nabi Muhammad saw. dan membaca istighfar.
Allah adalah Dzat yang maha disembah. Sebagian dari yang menunjukkan terhadap hal itu adalah perkataanmu: رَبَُّنَا اللهُ (“Tuhan kami hanyalah Allah”) Dzat yang yang maha memiliki.
Firman Allah:
  
“Tuhan langit dan bumi”
Tidak ada syabih (sekutu) yang serupa bagi-Nya dalam masalah ketuhanan, tidak ada nadhir (sekutu) yang menyerupai dan tidak ada mumatsil (sekutu) yang menyamai bagi-Nya. Adapun perbedaan antara kata syabih, nadhir dan mumatsil ialah:
Nadhir : Sesuatu yang menyamai walau hanya dalam satu sisi.
Syabih : Sesuatu yang menyamai dalam banyak sisi.
Mumatsil : Sesuatu yang menyamai dalam semua sisi.
Al-Barawi mengatakan, mambahas tentang dzat dan sifat-sifat Allah hukumnya tidak boleh لانَّ تَرْكَ الادْرَاكِ ادْرَاكٌ (meninggalkan untuk mengetahui adalah mengetahui) dan membahas masalah dzat Allah hukumnya syirik. Adapun semua sesuatu yang terbersit dihatimu, yaitu yang berupa sifat-sifat hawadits, maka sesungguhnya Allah tidaklah seperti itu.

FAIDATUN

Barang siapa meninggalkan empat kata, maka imannya sempurna, yaitu: dimana, bagaimana, kapan dan berapa. Maka jika ada seseorang berkata kepadamu: “Dimana Allah?” Jawabnya adalah: Allah tidak berada disuatu tempat, dan zaman (waktu) tidak mengiringi-Nya. Apabila ia berkata: “Bagaimana Allah?” Maka katakanlah padanya, tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya. Apabila ia berkata: “Kapan Allah?” Katakanlah, pertama tanpa ada permulaan, terakhir tanpa ada kesudahan. Dan apabila ia berkata: “Berapa Allah?” Maka katakanlah padanya, Allah esa (tunggal) bukan dari yang sedikit.
Firman Allah:
   
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.

PERMASALAHAN III
CARA BERIMAN TERHADAP PARA MALAIKAT?
Jika ditanyakan kepadamu: ” Bagaimana cara kamu beriman terhadap para malaikat?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya para malaikat itu bermacam-macam dalam masalah keadaan, pekerjaan, dan bentuk rupa mereka. Sebagian dari mereka adalah sebagaimana berikut:

Hamalatul Arsyi (para pemanggu Arsy) Mereka adalah tingkatan tertinggi dari para malaikat dan yang pertama diciptakan. Mereka di dunia ada empat dan di akhirat ada delapan dalam bentuk rupa aw’al (jenis kambing yang bertanduk dua), jarak antara kuku kaki hingga lutut mereka adalah tujuh puluh tahun perjalanan burung yang cepat. Adapun sifat Arsy telah disebutkan, bahwasanya Arsy adalah sebuah permata hijau, dan ia termasuk makhluk paling agung dalam penciptaanya dari sekian banyak makhluk Allah, yang setiap harinya dipakaikan seribu warna dari cahaya yang tidak ada seorangpun makhluk dari sekian banyak makhluk Allah mampu unutk menatapnya, adapun keberadaan benda-benda yang ada kesemuanya di Arsy adalah ibarat sebutir pasir yang berada dipadang pasir, juga telah disebutkan, bahwasanya Arsy adalah kiblat para penduduk langit sebagaimana Ka’bah menjadi kiblat para penduduk bumi.

Hafun (yang menglilingi) Wahab bin Munabbih mengatakan, disekitar Arsy terdapat tujuh puluh ribu sof yang terdiri dari para malaikat. Satu sof berada dibelakang sof yang lain, yang mengelilingi Arsy . Mereka-mereka (yang berada di sof pertama) berangkat, dan yang lain juga berangkat (yang berada di sof sesudahnya). Apabila mereka-mereka bertemu satu sama lain, maka mereka bertahlil dan yang lian bertakbir. Dari belakang tujuh puluh ribu sof tadi terdapat tujuh puluh ribu sof malaikat yang mengangkat tangannya sampai keleher dan meletakkanya diatas leher mereka, ketika mereka mendengar takbir dan tahlil para malaikat tadi, maka mereka melantangkan suaranya seraya berkata:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ مَا اَعَْظَمَكَ وَمَا اَحْلَمَكَ اَنْتَ اللهُ لا اِلَهَ غَيْرُكَ اَنْتَ الاكْبَرُوَالخَلْقُ كُلُّهُمْ لَكَ رَاجِعُونَ

Dari tujuh puluh ribu sof ini, dibelakangnya terdapat seratus ribu sof para malaikat yang meletakkan tangan sebelah kanan diatas sebelah kiri, tidak satupun dari mereka kecuali bertasbih dengan bacaan tasbih yang tidak dibaca oleh yang lain. Jarak anatara dua sayap satu dari mereka adalah perjalanan delapan ratus tahun, sedang jarak dari daun telinga hingga pundaknya adalah perjalanan empat ratus tahun.
Allah menghijab dari para malaikat yang berada disekitar Arsy dengan tujuh puluh hijab dari cahaya, tujuh puluh hijab dari kegelapan, tujuh puluh hijab dari mutiara putih, tujuh puluh hijab dari Yaqut merah (rubi), tujuh puluh hijab dari Zabarjad hijau, tujuh puluh hijab dari salju, tujuh puluh hijab dari air, tujuh puluh hijab dari bebatuan es dan dengan hijab-hijab yang tidak akan mengetahuinya kecuali Allah.

Ruhaniyyun (para kejiwaan) Telah dikatakan bahwasannya keberadaan mereka di Ardlul Baidla’ (bumi yang putih) adalah ibarat sebuah batu marmer yang mana lebar bumi tersebut adalah empat puluh hari perjalanan matahari dan panjangnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Mereka memliki penikam dengan bertasbih dan bertahlil, kalau saja seandainya suara dari salah satu mereka diperdengarkan niscaya penduduk muka bumi pastilah binasa dari kengerian suaranya, dan ujung mereka sampai ke Hamaltul Arsy.

Karubiyyun (dengan di baca fathah huruf kafnya dan dibaca tahfif huruf Ra’-nya كَرُوبِيُّوْن ) Mereka adalah para pemimpin malaikat dan merekalah para malaikat yang berada disekitar Arsy.

Safarah (para duta) Yaitu yang menjadi perantara antara Allah dan semua para Nabi-Nya juga para Sholihin, yang menyampaikan risalah (pesan) Allah kepada mereka dengan melalui wahyu, ilham dan mimpi yang baik, atau yang menjadi perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Mereka menyanpaikan kabar-kabar penciptaan-Nya kepada mereka. Adapun kata safarah disini adalah jamak dari kata safiir سَفِيْر) ) dengan makna utusan, bukan bentuk jamak dari kata saafir سَافِر) ) dengan makna sekretaris, karena sebenarnya Musannif telah mentafsirkan kata safarah dengan mereka para malaikat yang empat. Yaitu: Jibril, Mikail, Israfil dan Azrail (dengan dibaca fathah huruf ‘Ain-nya).
Jibril adalah malaikat yang turun kepada semua para Nabi, Mikail adalah yang menjadi wakil (staf) perhujanan, Israfil yang menjadi wakil peniupan sangkakala, yang mana sangkakala tersebut akan ditiup maka semua makhluk akan mati dan ditiup lagi untuk menghidupkan para makhluk tersebut, lalu nyawa-nyawa akan dikembalikan pada jasadnya, Azrail menjadi wakil pencabutan nyawa. Apabila ajal seorang telah tiba maka Allah memerintahkan untuk mencabut nyawanya. Malaikat maut memiliki beberapa asisten yang terdiri dari beberapa malaikat, yang mana malaikat maut akan menyuruh mereka terhadap pencabutan nyawa tersebut, lalu apabila nyawa telah sampai ketenggorokan maka malaikat maut mengambil alih pengambilan nyawa itu dengan dirinya sendiri.
Keluarnya nyawa adalah dari yafukh (ubun-ubun) sebagaimana masuknya kedalam badan. Adapun terbukanya mulut orang yang sakaratul maut (naza’) ketika nyawa keluar, maka disebutkan, karena saking mengerikan/menakutkannya apa yang ia lihat. Yang disebut yafukh ialah suatu tempat yang bergerak yang berada dikepala bayi.

Hafadhah (para penjaga) Muhammad Khalil mengatakan, telah diceritakan, bahwasannya Utsman bin Affan ra. bertanya pada Nabi saw.: berapa jumlah para malaikat yang ada pada manusia?. Rasullah saw. Menjawab: dua puluh malaikat, sebagian dari mereka adalah satu malaikat dari sebelah kananmu terhadap kebaikan-kebaikanmu, dia adalah yang menjadi pemimpin terhadap yang sebelah kirimu, jika kamu melakukan keburukan maka malaikat sebelah kiri berkata pada yang dari sebelah kanan: “Apakah akan aku tulis?” Yang dari sebelah kanan menjawab: “Jangan, siapa tahu ia akan bertaubat”, lalu yang sebelah kiri bertanya lagi, “Apabila tidak bertaubat?” Yang dari sebelah kanan menjawab, “Iya, tulislah, semoga Allah menyenangkan pada kita dari itu”. Nama malaikat sebelah kananmu adalah Raqib dialah yang menulis amal kebaikan dan yang sebelah kiri adalah Atid dialah yang menulis amal keburukan, dua malaikat yang berada dihadapan dan yang berada di belakangmu, satu malaikat yang memegang terhadap nashiyah-mu (kenig), apabila kamu tawadu’ terhadap Allah maka ia akan mengangkatmu, dan jika kamu sombong terhadap Allah maka ia akan menghancurkanmu, dua malaikat pada kedua bibirmu, mereka tidak mengingatkan padamu kecuali untuk bershalawat pada nabi Muhammad saw., satu malaikat pada mulutmu yang tidak akan membiarkan ular atau serangga masuk kedalam mulutmu, dan dua malaikat pada kedua belah matamu. Disebutkan bahwa nama mereka adalah Syawiyyah ((شَوِيَّة. Mereka inilah sepuluh malaikat yang ada pada diri manusia, lalu malaikat malam akan turun menggantikan malaikat siang, dan mereka-mereka inilah (malaikat malam dan malaikat siang) dua puluh malaikat yang berada pada diri manusia.
Katabah (para sekretaris) Merekalah para malaikat yang menghapus dari lauhul mahfudh, mereka adalah para malaikat yang mulia yang menjadi sekretaris. Sebagian dari mereka ada yang memiliki beberapa sayap, yaitu: Tiap-tiap satu dari mereka ada yang memiliki dua sayap-dua sayap, ada yang memiliki tiga sayap-tiga sayap, dan sebagian yang lain ada yang memiliki empat sayap-empat sayap, dan Allah akan menambahkan dalam penciptaan sayap-sayap pada selain bagian-bagian tadi,menurut kehendak dan kebijaksanaannya.

TAMBIHUN

Perkataan Mushannif pada kata hamalah, safarah, hafadhah dan katabah, dengan dibaca fathah ketiga hurufnya adalah bentuk jamak dari kata haamil, safiir, haafidh dan kaatib.
Semua para malaikat adalah makhluk. Yaitu yang tercipta dengan penciptaan Allah terhadap mereka sebagaimana makhluk lainnya, yang menyembah Allah. Mereka tidak akan berkata sesuatu hingga Allah mengatakannya, sebagaimana hamba sahaya yang terpelajar, tidak disifati dengan laki-laki dan tidak juga perempuan. Barang siapa yang ber-i’tiqad terhadap ke-perempuan atau kebancian mereka maka orang tersebut kafir, dan barang siapa yang ber-i’tiqad terhadap ke-lelakiannya maka orang tersebut fasiq. Mereka tidak memiliki syahwat, yaitu keinginan nafsu, dan tidak juga nafsu. Nafsu terbagi menjadi tujuh tingkatan, sebagaimana berikut:

Ammarah : Tempatnya di As-Shadr (dada), dan pasukannya adalah: bakhil (kikir), hirshu (cinta dunia), hasad, kebodohan, takabur, syahwat, ghosab (menggunakan milik orang lain tanpa idzin).
Lawwamah : Tempatnya di Al-Qalbu (hati), adapun hati letaknya dibawah buah dada sebelah kiri perkiraan dua bentang jari tangan. Pasukannya adalah: mencela, prasangka, memaksa, ujub, ghibah (bergunjing), riya’, sewenang-wenang, berbohong, lalai.

Mulhimah : Tempatnya di Ar-Ruh, adapun ruh letaknya dibawah buah dada sebelah kanan perkiraan dua bentang jari tangan. Pasukannya adalah: dermawan, kerelaan, tawadu’, taubat, sabar, lapang dada.

Muthmainnah : Tempanya di As-Sirru, yang mana letaknya disebelah buah dada sebelah kiri perkiraan dua bentang jari tangan hingga ke arah dada. Pasukannya adalah: kemurahan hati, tawkkal, ibadah, bersyukur, ridla’, khasyyah.

Rodliyah : Tempatnya di Sirrus Sirri, mungkin yang dimaksud oleh mushannif dengan kata Sirrus Sirri adalah Qalab (dengan dibaca fathah huruf lam-nya), yaitu seluruh jasad. Pasukannya adalah: kemurahan hati, zuhud, ikhlas, wara’, riyadlah, kepercayaan.

Mardliyyah : Tempatnya di Al-Khafi yang terletak di sebelah buah dada sebelah kanan perkiraan dua bentang jari tangan hingga kepertengahan dada. Pasukannya adalah: baik budi pekerti, meninggalkan yang selain Allah, halus/ramah terhadap manusia, membawa mereka pada kebaikan, memaafkan kesalahan, cinta dan condong kepada mereka guna mengeluarkan mereka dari kegelapan watak dan jiwa mereka menuju jiwa yang terang.

Kamilah : Tempatnya di Al-akhfa, yaitu pertengahan dada. Pasukannya adalah: ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.
Selain dari tidak memiliki nafsu, para malaikat juga tidak memiliki bapak dan ibu, karena sesungguhnya mereka adalah jasad yang berupa cahaya, yaitu kebanyakan dari mereka diciptakan dari cahaya. Namun kadang ada juga sebagin dari mereka yang diciptakan dari tetesan-tetesan yang menetes dari malaikat Jibril setelah ia mandi dari sebuah sungai yang berada dibawah Arsy. Para malaikat bisa berubah-rubah wujud/bentuk yang berbeda-beda, mereka juga tidak makan, minum dan tidak tidur. Adapun dalil yang mununjukkan akan hal itu adalah firman Allah:
  •  
“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya”.

Sedang tidur adalah suatu kelelahan/kelesuan yang akan menimpa pada manusia dan tidak menghilangkan akal mereka. Para malaikat tidak akan pernah maksiat atau menentang terhadap Allah, terhadap apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka, mereka akan selalu mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan.
Firman Allah:
      
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”.

Yaitu yang berupa ketaatan dan peraturan.
Fiman Allah:
   
“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan”

Yakni, para malaikat adalah para hamba dari sekian banyak hamba Allah yang dimuliakan dengan kesucian dari dosa-dosa, yang tidak akan mendahului terhadap izin Allah dengan sebuah perkataan. Mereka hanya akan mengerjakan terhadap perintah Allah apabila Allah telah memerintahkannya, karena sesungguhnya mereka berada dipuncak pengawasan (muraqabah) Allah swt. maka mereka menyatukan antara perkataan dan perbuatan dalam bertaat, dan itulah puncak dari ketaatan.

PERMASALAHAN IV
CARA BERIMAN TERHADAP KITAB-KITAB?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap kitab-kitab?”.
Maka hendakalah kamu berkata: Sesungguhnya Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada para Nabi-Nya dan kitab-kitab tersebut yang diturunkan pada para utusan di dalam Alwah atau terhadap perkataan malaikat bukanlah makhluk. Yaitu, kitab-kitab yang diturunkan dari penyusunan Allah, bukan dari penyusunan makhluk adalah qadim dari segi dilalah-nya terhadap makna yang qadim, tanpa adanya tanaqud, yaitu perbedaan dalam makna kalimat. tanaqud adalah di sebabkan adanya sebagian kalimat pada suatu tempat yang menuntut terhadap pembatalan sebagian kalimat pada tempat yang lain
             
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Maksudnya, apakah kalian tidak berpikir pada Al-Quran, kalau seandainya ia adalah dari perkataan manusia niscaya mereka telah menemukan padanya tanaqud dalam makna-maknanya dan tabayun dalam susunannya, di sebabkan adanya sebagian kabar-kabarnya yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan adanya sebagian susunan lashih dan sebagian lagi kaikan, yaitu, seandainya Al-Quran adalah dari selain Allah, pastilah akan terdapat perbedaan yang banyak didalamnya disamping dari yang sedikit. Akan tetapi Al-Quran adalah dari Allah, maka tidak akan terdapat perbedaan didalamnya, tidak bayak tidak pula sedikit.
Barang siapa yang ragu dalam masalah kitab-kitab yang diturunkan kepada para utusan dengan tidak mempercayai terhadap sesuatu dari kitab-kitab tersebut, dari suatu ayat dan kalimat maka orang tersebut kafir.

PERMASALAHAN V
BERAPA KITAB YANG TELAH ALLAH TURUNKAN?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Berapa kitab yang telah Allah turunkan kepada para nabi-Nya yang menjadi rasul?”. ( kata kam, dalam perkataan musannif di kitab ini adalah isim istifham pada kedudukan nashab menjadi maf’ul yang di kedepankan, dan kata kitaban menjadi tamyiz.)
Maka hendakalah kamu berkata: Bahwa dalam satu riwayat, kitab-kitab tersebut berjumlah seratus empat kitab. Dari sebagian kitab-kitab tersebut, Allah telah menurunkan sepuluh kitab kepada Shafiullah Abil Basyar yaitu nabi Adam as., lima puluh kitab kepada nabi Syits as., kata Syits dibaca dengan menggunakan huruf tsa’ yang ditengahnya memakai huruf ya’, kata Syits kebanyakan dibaca dengan munsharif (dapat menerima tanwin), namun terkadang dibaca dengan ghairu munsharif (tidak dapat menerima tanwin), maknanya adalah Hibbatullah (tiupan Allah) Nabi Syits as. adalah putra kandung nabi Adam as. yang paling tampan, paling utama, paling mirip dan yang paling menyayanginya dari sekian banyak putra-putra nabi Adam as. Beliau hidup selama tujuh ratus dua belas tahun. Allah juga telah menurunkan dari sebagian kitab-kitab tersebut, tiga puluh kitab pada nabi Idris as. ayah nabi Nuh as. Nama nabi Idris adalah Akhnun dengan dibaca fathah huruf Hamzah-nya, atau Khanun dengan di baca fathah huruf Kha’-nya serta membuang huruf Hamzah-nya. Telah disebutkan, bahwa beliau diberi nama Idris karena banyaknya beliau mempelajari kitab-kitab. Beliau adalah orang pertama yang menulis dengan pena dan yang meneliti ilmu perbintangan dan ilmu hitung, juga orang pertama yang menjahit pakaian serta memakainya, yang mana orang-orang sebelum beliau memakai pakaian dari kulit, beliau jugalah orang pertama yang membuat persenjataan dan memerangi orang-orang kafir. Dari seratus empat kitab tersebut, Allah telah menurunkan Injil pada nabi Isa as. bin Maryam dan Taurat kepada nabi Musa as. bin Imran. Sebagian ulama’ mengatakan, Taurat dan Injil adalah dua nama dari bahasa Ibrani, dikatakan juga bahwa keduanya dari bahasa Suryani seperti Zabur, juga dikatakan oleh ulama’ bahwa kitab Taurat diberi nama dengan Taurat, karena sebenarnya di dalam kitab Taurat terdapat nur yang mana akan dikeluarkannya dari kesesatan menuju petunjuk sebab nur tersebut, sebagaimana akan dikeluarkannya dari kegelapan menuju keterang-benderangan sebab api. Dikatakan juga, kitab Injil diberi nama Injil karena didalamnya terdapat kelapangan yang tidak terdapat pada kitab Taurat, sebab didalamnya telah dihalalkan beberapa perkara yang diharamkan dalam kitab Taurat. Juga dikatakan, bahwasannya kitab Injil diberi nama tersebut karena kitab Injil telah mengembangkan ringkasan nur kitab Taurat. Allah telah menurunkan Zabur kepada nabi Daud as. Beliau adalah sebagian dari pengikut nabi Musa as., Allah juga telah menurunkan Al-Quran dengan jelas dan dipisah-pisah dalam dua puluh tiga tahun setelah Al-Quran ditulis dalam beberapa mushhaf, Al-Quran diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar di Baitil Izzah, yaitu suatu tempat yang berada dilangit dunia. Al-Quran diberi nama Al-Furqan karena ia membedakan antara yang hak dan yang bathil juga dikarenakan adanya Al-Quran yang jelas dan terpisah-pisah dalam beberapa tahun, dan ia diberi nama Al-Quran karena sebenarnya ia berada diposisi Taurat, Injil dan Zabur dalam banyaknya bacaannya, dan Al-Quran tersebut diturunkan kepada nabi Muhammad Al-Mustafa Al-Mukhtar saw. Bin Abdillah bin Abdil Muttalib bin Hasyim ban Abdil Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Mudlar bin Kinanah bin Huzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mushir bin Nizar bin Mu’id bin Adnan yaitu dari keturunan nabi Isma’il as. bin Ibrahim as. Ini (jumlah kitab yang diturunkan Allah) seperti yang telah di riwayatkan dari Ubay bin Ka’ab:

رُوِيَ عَنْ اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ اَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ أَنْزَلَ اللهُ تَعَلَى مِنْ كِتَابٍ فَقَالَ مِائَةٌ وَأَرْبَعَةُكُتُبٍ مِنْهَا عَلَى آدَمَ عَشْرُ صُحُفٍ وَعَلَى شِيْثَ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَعَلَى اَخْنُونَ وَهُوَ إِدْرِيْسُ ثَلاثُونَ صَحِيفَةً وَعَلَى إِبْرٰهِمَ عَشْرُ صَحَائِفَ وَالتَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيْلُ وَالزَّبُورُ وَالفُرْقَانُ

“Dari Ubay bin Ka’ab, bahwasannya beliau bertanya kepada Rasulullah saw.: Berapa jumlah dari kitab yang telah Allah turunkan? Rasul menjawab: seratus empat kitab, sebagian darinya adalah sepluh mushaf kepada Adam, lima puluh mushaf kepada Syits, tiga puluh mushaf kepada Akhnun beliau adalah Idris, sepuluh mushaf kepada Ibrahim, Injil, Taurat, Zabur dan Al-Furqan”.

Sebagai mana yang telah dikatakan oleh Imam Syarbini dalam kitab tafsirnya. Adapun yang benar ialah tidak membatasi terhadap kitab-kitab dengan hitungan/jumlah tertentu, karena banyak perbedaan riwayat, akan tetapi yang wajib adalah, sesorang harus ber-i’tiqad bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan beberapa kitab dari langit, dan mengetahui terhadap kitab-kitab yang empat.

PERMASALAHAN VI
CARA BERIMAN TERHADAP PARA NABI?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap para Nabi?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Yang pertama dari para Nabi adalah nabi Adam as. Nama beliau adalah Syarif, nama kunyah-nya (nama julukan yang memakai kata depan abu atau ummu) Abul Basyar dan nama laqab-nya (nama julukan yang bersifat memuji atau mencela) Shafiullah, dan yang paling utama dari para nabi adalah Sayyidina Muhammad saw. Tidak akan ada Nabi sesudahnya shalawatullah alaihim ajma’in. Mereka semua adalah orang-orang yang menyampaikan kabar tentang perkara-perkara yang ghaib seperti hari kiamat dan keadaan-keadaannya. Yaitu: pembangkitan dari kubur, pembangkitan setelah hari Kiamat, berkumpul dipadang mahsyar, penghitungan, pembalasan, telaga, syafaat, timbangan, shirath, surga, neraka dan lain sebagainya. Mereka adalah orang–orang yang memberi nasehat, yaitu orang-orang yang memurnikan amal dari noda-noda kerusakan, mereka tidak akan menipu kaumnya, mereka orang-orang yang jujur dalam semua kabar dan ajakannya, yang menyuruh pada ketaatan-ketaatan kepada Allah, mencegah dari berbagai kemaksiatan, mereka orang-orang yang diberi kepercayaan oleh Allah terhadap wahyunya yang khafi yang tidak akan keluar kecuali dari lisan para utusan. Wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada para nabi-Nya dengan cara yang dikehendakinya, dengan tulisan, mengutus malaikat, mimpi, ilham atau tanpa perantara, sebagaimana yang telah terjadi pada nabi kita diwaktu malam isra’, yaitu wahyu tentang kewajiban shalat tanpa adanya perantara, mereka semua adalah orang-orang yang di-makshum dari segala zilal (kesalahan-kesalahan) yaitu kesalahan-kesalahan kecil, (kata zilal, dengan dibaca kasrah huruf Zai-nya adalah jama’ dari kata zallatun seperti yang telah dikatakan Muhammad Jauhari dalam kitab Syarhu Al-Jazariyah. Adapun kata zalal dengan dibaca fathah huruf Zai-nya adalah bentuk mashdar dari lafadh zalla-yazallu, zalla-yazillu dari bab alima dan dlaraba sepeti yang terdapat didalam kamus dan kitab Al-Misbah) Mereka juga di-ma’shum dari dosa-dosa besar. Maksudnya, sesungguhnya Allah telah menjaga bathin (rohani) dan dlahir (jasmani) mereka dari terlibat atas sesuatu yang dilarang-Nya, meskipun berupa larangan makruh tanzih, dan walaupun waktu dimasa kecil, sebagaimana yang telah dikatakan Ahmad Dardiri. Adapun pendapat Jumhur, dan ini adalah pendapat yang shohih ialah, sesungguhnya mereka di-ma’shum dari segala dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil sebelum kenabian dan sesudahnya. Ke-ma’shum-an mereka adalah wajib seperti yang dikatakan Ahmad Baily. Mencintai mereka dengan hati adalah syarat sahnya iman, dan membenci mereka adalah kufur.

PERMASALAHAN VII
BERAPA ORANG YANG MEMILIKI SYARIAT?

Jika ditanyakan kepadamu: “Berapa jumlah dari orang-orang yang memiliki syariat?”.
Maka hendaklah berkata: Enam orang, yaitu: Adam as. Nuh as. Umur beliau seribu empat ratus lima puluh tahun, Ibrahim as., Musa as., Isa as. dan Muhammad saw.

FAR’UN

Ibnu Abbas dan Qatadah berkata: Para Ulul Azmi, yaitu orang-orang yang tabah dan giat dalam menjalani beberapa perkara berjumlah lima orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai syariat. Yaitu: Muhammad saw., Ibrahim as., Musa as., Isa as. dan Nuh as. Sebagian ulama’ telah menyusunnya dalam satu bait dengan bahar Thawil:

مُحَمَّدُ اِبْرَاهِيمُ مُوسَى كَلِيمُهُ # وَعِيسَى وَنُوحٌ هُمْ اُولُو الْعَزْمِ فَاعْلَم

Muqatal berkata: Bahwa Ulul Azmi berjumlah enam orang, yaitu: Nuh as. yang telah sabar terhadap celaan kaumnya, Ibrahim as. yang terlah sabar terhadap api, Ishaq as. yang telah sabar terhadap penyembelihan, Ya’qub as., yang telah sabar tidak memiki putra serta hilangnya penglihatan, Yusuf as. yang telah sabar dipenjara dan Ayyub as. yang telah sabar terhadap penyakit.
Semua syariat, hukum-hukumnya di-mansyukh oleh syariat Sayyidina Muhammad saw. apabila syariat tersebut tidak sesuai dengan syariatnya. Terdapat dari sebagian syariat nabi Adam as. mengawinkan saudara dari saudarinya yang bukan saudara kembarannya, dan ulama’ telah mufakat atas keharaman tersebut setelah nabi Adam, seperti yang dikatakan Jauhari. Adapun dalil tentang mansyukh tersebut adalah firman Allah:
       
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya,

PERMASALAHAN VIII
BERAPA JUMLAH PARA NABI?

Jika ditanyakan kepadamu: “Berapa banyaknya jumlah para nabi?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Bahwasanya jumlah para nabi dalam suatu riwayat berjumlah seratus dua puluh empat nabi. Ahmad Dardiri mengatakan, yang lebih baik adalah tidak membatasi mereka-mereka dalam jumlah hitungan tertentu, karena dengan adanya pembatasan dalam menyebutkan hitungan, maka tidak menutup kemungkinan akan adanya seseorang yang tidak termasuk dari para nabi masuk dalam hitungan tersebut, dikarenakan bisa saja penyebutan jumlah hitungan tadi lebih banyak dari yang sebenarnya, dan seseorang yang termasuk dari para nabi tidak masuk dalam hitungan, dikarenakan jumlah hitungan tersebut lebih sedikit dari yang sebenarnya. Adapun hadits yang telah diriwayatkan; “Bahwasanya Nabi saw. telah ditanya tentang jumlah mereka, beliau menjawab: Seratus dua puluh empat ribu”, dan dalam suatu riwayat: “Dua ratus dua puluh empat ribu”, hadits ini adalah hadits Ahad yang tidak menunjukkan terhadap kepastian, sedang tidak ada pelajaran dengan suatu keraguan didalam bab i’tiqad.

PERMASALAN IX
BERAPA JUMLAH PARA NABI YANG MENJADI RASUL?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Berapa banyaknya para nabi yang menjadi rasul?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Bahwa dalam satu riwayat mereka berjumlah tiga ratus tiga belas utusan, sebanyak jumlah Ahli Badar (orang yang ikut dalam perang badar), dalam satu riwayat tiga ratus empat belas, sebanyak jumlah tentara Thalut yang telah sabar bersamanya dalam memerangi tentara Jalut, dan dalam satu riwayat lain mereka berjumlah tiga ratus lima belas utusan. Telah diceritakan, bahwasanya Allah telah mengutus delapan ribu nabi, empat ribu dari Bani Israil, dan empat ribu dari manusia lainnya. Perbedaan antara Nabi dan Rasul ialah:
Rasul: Orang yang diperintah untuk menyampaikan beberapa hukum kepada orang yang dikirimi hukum.
Nabi: Orang yang tidak diperintah untuk menyampaikan perkara tersebut, akan tetapi diprintah untuk menyampaikan bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang nabi, supaya dirinya terhormat.

PERMASALAHAN X
HAFAL NAMA DAN HITUNGAN PARA RASUL, JADI SYARAT SAHNYA IMAN ATAU TIDAK?

Jika ditanyakan padamu: “Menaghafal nama-nama dan jumlah hitungan mereka (para rasul) menjadi syarat sahnya iman terhadap kita semua atau tidak?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Bahwa menghafal nama-nama dan jumlah hitungan tersebut tidaklah menjadi syarat sahnya iman bagi kita semua.
Firman Allah dalam surat Ghafir:

      •    •    
“Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu”.

Maksudnya, “Sesungguhnya kami telah mengutus para utusan dengan jumalah yang banyak dari sebelum kamu kepada umat-umat mereka untuk menyampaikan dari kami pada apa yang telah kami perintahkan kepada mereka, wahai asrafal khalqi, diantara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu kisah-kisah mereka, dan diantara mereka ada pula yang tidak kami ceritakan kisah-kisahnya dan kami tidak menyebutkan nama-nama mereka kepadamu, walaupun kami mempunyai ilmu dan kekuasaan yang sempurna”.
Apabila telah menjadi ketetapan bahwasannya para rasul tidak wajib bagi kita mengetahui jumlah hitungannya beserta jumlahnya yang sedikit, maka terlebih lagi mengetahui jumlah hitungan para nabi yang selain rasul beserta banyaknya jumalah mereka, akan tetapi wajib iman terhadap adanya mereka secara tafshil dalam apa yang telah diketahui seperti tersebut. Mereka adalah dua puluh lima Rasul yang terdapat dalam Al-Quran. Yaitu: Muhammad saw., Adam as., Nuh as., Idris as., Hud as., Shalih as., Yasa’ as., Dzulkifli as, Ilyas as., Yunus as., Ayyub as., Ibrahim as., Ismail as., Ishaq as., Ya’qub as., Yusuf as., Luth as., Daud as., Sulaiman as., Syu’aib as., Musa as., Harun as., Zakariyya as., Yahya as. dan Isa as.
Yang dimaksud iman kepada mereka secara tafshil, yaitu seandainya disampaikan kepadanya seorang dari mereka maka ia tidak memungkiri terhadap kenabian dan kerasulannya, walaupun ia tidak hafal pada nama-nama mereka, karena menghafal hukumnya tidak wajib. Barang siapa yang mengingkari terhadap kenabian atau kerasulan seorang dari mereka maka orang tersebut kafir. Akan tetapi orang awam tidak dihiukumi kafir, kecuali ia ingkar setelah ia belajar, dan juga wajib iman secara ijmal kepada selain mereka (25 utusan yang telah disebutkan) yaitu dengan cara membenarkan terhadap adanya, kenabian dan kerasulan mereka, dan membenarkan bahwasanya Allah memiliki para rasul dan para nabi. Barang siapa yang tidak iman terhadap mereka sebagaimana tersebut maka imannya tidak sah dan orang tersebut adalah kafir.
Adapun mereka yang di-khilafi (masih terjadi perbedaan pendapat ulama’) dalam kenabiannya ada tiga, Dzul Qarnain, ‘Uzai, dan Luqman. Dan juga di-hilafi tentang Khidlir. Disebutkan, bahwasannya beliau adalah nabi dan juga rasul, disebutkan, beliau adalah hanya seorang nabi, dan juga disebutkan bahwa beliau adalah seorang wali, dan beliau kekal hingga saat ini, beliau telah diberi ilmu syari’at dan hakikat, dan berkumpul bersama nabi Ilyas setiap satu tahun di Makkah, keduanya meminum dari sumur zam-zam dengan satu kali minum hingga tahun yang akan datang, makanan mereka adalah karafsun (sejenis tanaman sayuran: celery-ing.). Nabi Ilyas adalah yang menjadi wakil terhadap daratan dan Khidlir yang menjadi wakil terhadap lautan. Seperti inilah yang telah dikatakan Isa Albarowi, Ahmad Al-Baili dan Syekh Yusuf Al-Sumbulawini.

PERMASALAHAN XI
CARA BERIMAN TERHADAP HARI AKHIR?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu iman terhadap adanya hari akhir?”. Permulaannya adalah dari tiupan sangkakala yang kedua, tiupan itu adalah tiupan pembangkitan, diberi nama hari akhir karena hari itu adalah hari terakhir dari kehidupan dunia, dan juga dinamakan Kiamat, karena pembangkitan manusia pada hari itu dari kuburnya.
Maka hendaklah kamu barkata: Sesungguhnya Allah swt. akan mematikan para makhluk yang berupa hayawanat yang mempunyai ruh, kesemuanya.
Firman Allah:

    
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”.

Kematian tidak akan terjadi kecuali dengan Ajal, yaitu waktu yang mana Allah telah menetapakan di Azal akan akhir kehidupan sesuatu, maka sesuatu tidak akan mati tanpa Ajal baik secara dibunuh atau lainnya.
Firman Allah:

         
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”.

Yaitu, sesuatu tidak akan mati kecuali dengan ketetapan dan kehendak Allah, atau dengan izin-Nya kepada malaikat maut dalam mencabut nyawanya. Allah telah menetapkan kematian itu dengan ketetapan yang telah ditentukan waktunya, yang tidak akan didahulukan dan tidak pula diakhirkan.
Kecuali (dari yang tidak akan dimatikan) orang yang berada di surga dan neraka, kemudian Allah akan menghidupkan mayit dengan mengembalikan ruh pada semua badan guna pertanyaan dua malaikat Mungkar dan Nakir, setelah pertanyaan tersebut Allah megeluarkan ruh dari mayit tersebut, dan Allah akan meng-adzab orang yang dikehendaki untuk diadzab-Nya, dengan menciptakan pada si mayit suatu bentuk kehidupan dengan disebabkan berhubungannya ruh dengan jasad, sebagaimana berhubungannya sinar matahari dengan bumi, dengan ukuran sakit yang dirasakan, maka tersiksalah ruh bersama jasad meskipun ia berada di luar jasad.
Adapun orang kafir adzabnya kekal sampai hari kiamat, dan adzab akan diangkat dari orang mukmin pada hari Jum’at dan bulan Ramadlan karena penghormatan pada nabi Muhammad saw., jika orang mukmin tersebut mati pada hari atau malam jum’at maka adzabnya hanya seketika (satu saat) begitu juga dengan kesempitan kubur, lalu akan dihentikan dan tiadak akan terulang kembali sampai hari kiamat. Allah akan menghidupkan mereka setelah binasanya mereka dengan mengembalikan ruh-ruh pada jasad-jasadnya.
Allah berfirman:

     
“Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati”

Kehidupan tersebut dengan tiupan pembangkitan setelah kematian mereka, dengan tiupan yang mengagetkan/mencengangkan, jarak antara kedua tiupan tersebut adalah empat puluh tahun.
Firman Allah:

                      
“Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”.

Setelah kehidupan tersebut mereka akan digiring dalam keadaan tidak memakai alas kaki dan telanjang bulat ke padang mahsyar, yaitu Ardlun Baidla’ (bumi yang putih) yang tidak sedikitpun kamu melihat padanya tempat yang rendah dan tempat yang tinggi, dan Allah akan menggumpulkan mereka unuk pertanggung jawaban dan hisab (perhitungan). Firman Allah:
    
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan”.

Dan Allah akan menghisab (membuat perhitungan) mereka.
Firman Allah:
  
“Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”

Diantara mereka ada yang dimintai perhitungan dengan berat secara terbuka (didepan umum) karena kehinaannya, dialah orang yang pada hari itu diberi kitab amal yang telah ditulis malaikat Hafadhah selama masa hidupnya dari belakang punggungnya, orang tersebut adalah orang kafir atau orang munafik yang tangan kanannya dibelenggukan pada leher dan tangan kirinya diletakkan dibelakang punggungnya, dengan tangan kiri itulah ia akan mengambil kitab amalnya. Diantaranya lagi terdapat orang yang Allah tidak membuat perhitungan padanya dihadapan para malaikat dan yang lainnya, dengan menutupi terhadap orang tersebut, akan tetapi Allah membuat perhitungan padanya secara langsung, dan Allah akan mmperlihatkan amalnya pada orang tersebut dengan berfirman: ”Ini amal-amalmu yang telah kamu kerjakan di dunia, dan Aku telah menutupinya atasmu, dan hari ini Aku telah mengampunimu”, dialah orang yang pada hari itu diberi kitab amal dari depan, orang tersebut adalah orang mukmin yang taat.
Adapun kitab amal diciptakan setelah pemiliknya mati yang berada disebuah lemari dibawah Arsy, apabila mereka telah berada di Mauqif (tempat menunggu) maka Allah mengutus angin lalu angin tersebut menerbangkannya, tiap-tiap lembaran akan menempel pada leher pemiliknya yan tidak akan luput pada pemiliknya, kemudian malaikat mengambil lembaran-lembaran tersebut dari leher-leher pemiliknya dan menyerahkannya pada tangan-tangan mereka lalu mereka mengambilnya.
Orang pertama yang mengambil kitab dengan tangan kanannya adalah Umar bin Khattab, beliau memiliki sinar seperti sinar matahari, adapun Abu Bakar, beliau adalah pemimpin tujuh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, mereka-mereka tidak usah mengambil lembaran-lembarannya. Setelah Umar, Abu Salmah Abdullah bin Abdil Asad Al-Makhzumi, dan orang pertama yang mengambil kitab dengan tangan kirinya adalah saudara beliau yaitu Al-Aswad bin Abdil Asad. Setelah hamba mengambil kitabnya, mereka akan mendapatkan huruf-hurufnya terang (bercahaya) atau gelap sesuai menurut amal baik atau buruk, dan tulisan pertama pada lembaran tersebut adalah:
      
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.

Apabila hamba tersebut telah membacanya, maka wajah mereka akan berubah menjadi putih jika ia orang mukmin, dan akan menjadi hitam jika ia orang kafir.
Firman Allah:
     
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram”.

Sesungguhnya telah terdapat dalam hadits, bahwasanya yang pertama kali dimintai perhitungan oleh Allah adalah Lauhul Mahfudh, dengan sekiranya diberikan pengetahuan, akal, dan suara padanya, lalu Allah memanggilnya dan gemetarlah otot-ototnya, lalu Allah bertanya: “Apakah kamu telah menyampaikan apa yang ada pada kamu kepada Israfil?”, ia menjawab: “Aku telah menyampaikannya”, kemudian Allah memanggil Israfil dan gemetarlah otot-ototnya karena takut kepada Allah, lalu Allah bertanya: “Apa yang telah kamu perbuat pada apa yang telah diceritakan oleh Lauhul Mahfudh padamu?”, Israfil menjawab: “Aku menyampaikannya kepada Jibril”, kemudian Allah memanggil Jibril dan gemetarlah otot-ototnya, lalu Allah bertanya kepadanya: “Apa yang telah kamu perbuat pada apa yang telah Israfil ceritakan padamu?”, Jibril menjawab: “Aku menyampaikannya kepada para utusan”, kemudian Allah memanggil para utusan seraya bertanya: “Apa yang telah kamu perbuat pada apa yang telah Jibri ceritakan padamu?”, mereka menjawab: “Kami menyampaikannya pada manusia”, lalu manusia ditanya tentang umur mereka, terhadap apa mereka menghabiskan/mempergunakannya?, tentang masa mudanya, terhadap apa mereka menggunakannya?, tentang harta-hartanya, dari mana mereka mendapatkan dan terhadap apa merka menafaqahkannya?, dan tentang ilmunya, apa yang telah mereka perbuat dengannya?.
Firman Allah:

      .      • 
“Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami), # Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”.

Dan firman Allah:
 •  .   
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, # tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”

Kemudian Allah mendirikan Mizan (timbangan / neraca), maka semua pandangan menatap pada kitab-kitab, apakah kitab-kitab tersebut terkumpul pada sebelah kanan atau pada sebelah kiri, lalu pada Lisanul Mizan (arah pengukur timbangan), apakah ia condong kesebelah keburukan atau kebaikan.
Allah menghukumi diantara mereka dengan adil, dan yang pertama diputus/diadili di mauqif adalah masalah shalat, setelah itu gugatan dari pembunuhan jiwa tanpa haq, kemudian mereka digiring ke Shirat, yaitu jembatan yang memanjang diatas tengah neraka yang terlatak diantara Mauqif dan surga, sedang neraka berada diantara keduanya, lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang ibarat silet. Orang-orang yang beruntung menjalaninya ibarat kedipan mata, kemudian seperti kilat, seperti burung, dan keledai, kemudian orang yang menjalaninya dengan lari-lari kecil, lalu dengan berjalan, dengan merangkak dan dengan merayap/beringsut. Mereka semua berbeda-beda sebagaimana halnya orang-orang yang celaka, maka diantara mereka ada yang gagal pada langkah yang pertama, dialah orang yang terakhir keluar dari neraka, dan diantaranya lagi terdapat orang yang gagal pada langkah yang terakhir, dialah orang yang pertama keluar dari neraka, perjalanan tersebut berbeda-beda sesuai berdasarkan perbedaan amal kebaikan dan rasa penghormatan terhadap Allah apabila hal itu terbersit pada hati. Orang pertama yang masuk ke neraka adalah Qabil yang telah membunuh saudaranya yaitu Habil tanpa haq, karena dialah orang pertama yang memperlihatkan hal ini, dia adalah yang pertama masuk ke neraka dari bangsa manusia. Adapun Iblis dia adalah yang pertama masuk ke neraka dari bangsa jin.
Adapun yang selain dari para malaikat, jin dan manusia mereka semua mati, akan tetapi tidak satupun dari para malaikat mati sebelum tiupan pertama, tetapi mereka akan mati pada saat tiupan itu kecuali Hamalatul Arsy dan para malaikat yang empat, mereka akan mati setelah tiupan pertama dan hidup kembali sebelum tiupan ke dua, dan yang mati terkhir adalah malaikat maut, seperti inilah yang telah dikatakan oleh Syarqawi. Telah dikatakan, bahwasanya Hamalatul Arsy tidak akan mati karena mereka semua diciptakan untuk selamanya.
Adapun orang yang fasiq, yaitu orang yang yang mengerjakan dosa besar atau yang selalu menetapkan dosa kecil, dan ketaatan mereka tidak melebihi terhadap kemaksiatannya, maka mereka tidak akan kekal di neraka setelah hisab, yaitu setelah selesai ukuran dosanya, karena perbuatan tersebut tidak mengeluarkannya dari keimanan, kecuali ia ber-i’tiqad terhadap halalnya kemaksiatan baik besar maupun kecil, karena sesungguhnya yang dinamakan iman menurut golongan Asy’ary dan Maturidzy adalah tashdiq bil qalbi (membenarkan dengan hati) saja, adapun iqrar dari orang yang mampu adalah syarat untuk memenuhi hukum-hukum duniawi yang mana termasuk dari keseluruhannya adalah wajibnya ber-i’tiqad bahwa mereka tidak akan kekal di neraka. Jika iman adalah tashdiq, maka seorang hamba wajib tidak keluar dari bersifat terhadap itu, kecuali terhadap apa yang bertentangan dengannya yang berupa kekufuran, yaitu tidak adanya tashdiq (membenarkan) pada apa yang telah diketahui secara pasti dari apa yang telah dibawa Rasul saw., atau meniggalkan syaratnya, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat beserta adanya kemampuan untuk itu. Sebagaimana bahwa orang mukmin yang berbuat maksiat tidak akan kekal di neraka, maka seperti itu juga wajib i’tiqad bahwa syafaat tidak akan sampai pada orang-orang kafir.
Firman Allah:
   
“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”

Para rasul memiliki syafaat-syafaat yang tidak terbatas, dan paling agungnya syafaat yang diberikan oleh para rasul adalah syafaat untuk pembebasan makhluk dari ketakutan yang sangat dan kekhawatiran, syafaat ini disebut dengan Syafaat Udhma, karena merata pada semua makhluk, dan juga disebut dengan Maqamul Mahmud, karena orang-orang terdahulu dan terakhir memuji kepada nabi Muhammad saw. Pada syafaat tersebut, kemudian syafaat untuk memasukkan satu kaum kesurga tanpa hisab, dan ini termasuk keistimewaan nabi Muhammad saw. Sebagaimana syafaat yang sebelumnya,. lalu syafaat untuk orang yang berhak masuk keneraka tidak masuk keneraka, syafaat untuk mengeluarkan orang yang dimasukkan ke neraka, yaitu orang-orang yang bertauhid, dan ini tidak hanya tentu pada nabi Muhammad saw., tetapi para nabi, malaikat dan manusia bersekutu dengan dalam syafaat ini, syafaat untuk meringankan adzab bagi orang yang berhak kekal di neraka pada sebagian waktu, seperti Abu Thalib, syafaat untuk anak-anak – yang mati pada waktu kecil – orang musyrik untuk masuk ke surga, syafaat nabi Muhammad saw. Bagi orang yang mati di Madinah,-la’allahu-bagi orang yang sabar terhadap kesulitan-kesulitan Madinah dan bagi orang yang berziarah pada beliau setelah wafatnya, syafaat untuk orang yang menjawab muaddzin (orang yang adzan) serta memohonkan derajat untuk beliau, syafaat untuk orang yang bershalawat pada malam dan siang hari Jum’at, syafaat untuk orang yang hafal empat puluh hadits dalam masalah agama dan mengamalkannya, syafaat untuk orang yang berpuasa bulan Sya’ban dikarenakan beliau suka berpuasa pada bulan itu, dan syafaat untuk orang yang memuji dan memuja kepada Ahlil Bait.
Adapun orang mukmin, yaitu orang yang mati atas agma islam walaupun sebelumnya kafir, maka mereka semua di surga kekal. Tidak akan mungkin mereka-mereka masuk ke surga kemudian masuk ke neraka, karena orang yang masuk ke surga tidak akan pernah keluar.
Firman Allah:
       
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya”.

Masuk ke surga adakalanya tanpa masuk ke neraka terlebih dahulu, dan adakalanya masuk ke neraka terlebih dahulu sesuai dengan ukuran dosanya.
Orang kafir dari bangsa manusia dan jin, yaitu mereka-mereka yang mati atas kekufuran walaupun sepanjang umurnya mereka hidup dalam keimanan, mereka semua di neraka kekal, tidak henti-hentinya diadzab yang adakalanya dengan ular-ular, kalajengking-kalajengking, pukulan, atau dengan yang lainnya. Kesimpulannya adalah, bahwasanya manusia terbagi menjadi dua bagian, orang mukmin dan orang kafir, orang kafir kekal di neraka, dan orang mukmin terbagi menjadi dua bagian, yang taat dan yang maksiat, yang taat di surga, dan yang maksiat terbagi menjadi dua bagian, yang bertaubat dan yang tidak bertaubat, yang bertaubat masuk surga dan yang tidak bertaubat berada pada kehendak Allah, apabila Allah berkehendak maka Allah mengampuninya dan memasukkannya ke surga dengan keagungan dan kemuliaannya, dan itu disebabkan berkat iman dan taat, atau sebab sebagian kebaikan-kebaikan, juga apabila Allah berkehendak maka Allah mengadzabnya dengan ukuran dosanya baik kecil ataupun besar, dan kemudian terakhir Allah memasukkannya ke surga, maka orang tersebut tidak akan kekal di neraka.
Surga tidak akan rusak, surga ada tujuh: Firdaus, Adnin, Khuld, Na’im, Ma’wa, Darus Salam dan Darul Jalal, yang semuanya bersambung pada tempat pemilik wasilah yaitu nabi Muhammad saw. supaya ahli surga merasa nikmat dengan melihat beliau, karena sesungguhnya beliau nampak pada mereka dari tempat itu, beliau menyinari ahli surga sebagaimana matahari menyinari ahli bumi. Juga (yang tidak rusak) neraka, dan tigkatan-tingkatan neraka ada tujuh, paling atas adalah Jahannam ia untuk orang-orang mukmin yang maksiat, kemudian Ladha untuk orang yahudi, Khuthamah untuk orang-orang nashrani, Sa’ir untuk Shabi’in, mereka adalah suatu kelompok dari orang yahudi, Saqar untuk orang majasi, Jahim untuk penyembah berhala dan hawiyah untuk orang munafik. Demikian juga penghuni surga dan neraka semuanya tidak rusak, yaitu yang berupa Hurun ‘In, Wildan, lemari surga, malaikat adzab, ular dan kalajengking. Syarbini berkata menukil dari Imam Nanafi ada tujuh yang tidak akan rusak, Arsy, Kursi, Lauh, Qalam, surga dan neraka beserta penghuninya dan ruh.
Dikhilafi ulama’ dalam masalah penafsiran firman Allah:
     
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”

Apabila makna “Tiap-tiap sesuatu itu binasa” adalah adanya setiap sesuatu dapat binasa pada dzatnya, karena tiap-tiap yang selain Allah swt. adalah yang mumkin ada yang dapat menerima ketiadan, maka tujuh perkara tersebut termasuk pada makna ini, dan jika maknanya, setiap sesuatu itu binasa adalah adanya setiap sesuatu tersebut yang keluar dari yang bisa diambil kamanfaatannya disebabkan kematian atau terpisahnya ajza’ (anggota-anggota), maka tujuh perkara tersebut adalah termasuk yang dikecualikan dari yang binasa. Barang siapa yang ragu terhadap sesuatu dari apa-apa yang telah disebutkan ini maka orang tersebut kafir.

PERMASALAHAN XII
CARA BERIMAN TERHADAP QADAR BAIK DAN BURUKNYA DARI ALLAH?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap qadar baik dan buruknya dari Allah?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk-makhluk, telah memerintahkan terhadap ketaatan-ketaatan, melarang dari keburukan-keburukan, dan telah menciptakan Lauh (papan), yaitu lauh dari mutiara putih, panjangnya jarak antara langit dan bumi, lebarnya jarak antara masyriq dan magrib, kedua tepinya/pinggirnya adalah mutiara Yaqut dan ujungnya adalah Yaqut merah, asalnya berada di hijr malaikat, yaitu diawang-awang yang berada diatasnya langit. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa dibagian tengah lauh terdapat kalimat:

لا إِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ دِيْنُهُ الإسْلامُ وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَمَنْ أمَنَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَدَّقَ بِوَعِيدِهِ وَتَبِعَ رُسُلَهُ أدْخَلَهُ الجَنَّة

“Tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, islam agamanya, dan Muhammad hamba dan utusannya, barang siapa beriman terhadap Allah azza wa jalla, membenarkan terhadap janjinya dan mengikuti para rosunya maka Allah akan memasukkannya kesurga”.

Allah juga telah menciptakan Qalam (pena), yaitu Qalam dari cahaya, panjangnya seperti jarak antara langit dan bumi. Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, yang pertama Allah ciptakan adalah Qalam, kemudian Allah berfirman padanya: “tulislah”, lalu ia menjawab: “apa yang akan hamba tulis?”, Allah berfirman: “apa yang ada dan apa yang ada hingga hari kiamat, yang berupa perbuatan, ajal, rizki atau keburukan”, maka ia menulis terhadap apa yang ada hingga hari kiamat. Mujahid telah meriwayatkan sebuah hadits, yang pertama Allah ciptakan adalah Qalam, ia menulis apa yang ada hingga hari kiamat. Dan semua apa yang akan terjadi pada manusia atas suatu perkara benar-benar telah ditetapkan dari-Nya, inilah yang dimaksud dengan perkataan Mushannif, Allah juga telah memerintahkan keduanya untuk menulis perbuatan-perbuatan para hamba.
Firman Allah:
 •   
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.

Maksudnya, sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu yang berupa apa-apa yang diciptakan yang kecil dan yang besar. Kami telah menciptakannya dengan qadla’, qadar, hukum, pengaturan yang telah ditentukan, nasib yang telah ditetapkan, kekuatan yang amat, dan pengetahuan yang sempurna pada waktu yang diketahui, dan tempat yang di tentukan, yang mana itu semua telah ditetapkan di Lauh sebelum terjadinya.
Firman Allah:
   
“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis”.

Yaitu, segala sesuatu yang kecil dan yang besar, yang berupa makhluk, perbuatan-perbuatan, dan ajal-ajalnya telah ditetapkan di Lauhul Mahfudh, dan yang berupa setan, menambah dan menguranginya. Telah diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw. telah bersabda:

رُوِيَ اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قَالَ كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الخَلا ئِقِ كُلِّهَا قَبْلَ اَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالارْضَ بِخَمْسِينَ اَلْفَ عَامٍ
“Diriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:Allah telah metapkan ketentuan-ketentuan para makhluk kesemuanya lima ratus tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”

Dan Beliau saw. juga telah bersabda:

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم لا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِاَرْبَعَةٍ يَشْهَدُ اَنْ لا اِلهَ الا اللهُ وَاَنِّى رَسُولُ اللهِ بَعَثَنِى بِالحَقِّ وَيُؤْمِنُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ المَوْتِ وَيُؤْمِنُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ
“Tidak disebut beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap empat perkara, bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah, bersaksi bahwa sesungguhnya aku utusan-Nya yang telah mengutusku dengan haq, beriman terhadap ba’ats setelah kematian, dan beriman terhadap qadar baik buruknya dari Allah”.

Ketaatan, yaitu sesuatu yang diberi pahala, adalah merupakan qadla’, qadar, iradah (kehandak), perintah, ridla’, mahabbah (kecintaan), petunjuk, dan penciptaan Allah. Sebagian ulama’ mengatakan, qadla’ adalah kehandak Allah yang azali, yang berkaitan dengan segala sesuatu terhadap suatu perkara, yang mana segala sesuatu tersebut berada pada suatu perkara tadi, sedang qadar adalah penciptaan Allah pada segala sesuatu sesuai dengan apa yang sesuai dengan ilmu Allah, maka qadla’ ibarat dasar dan qadar bangunannya, qadla’ ibarat mesin alat takaran dan qadar alat takarannya, qadla’ ibarat sesuatu yang disiapkan untuk membuat pakaian dan qadar pakaiannya, qadla’ ibarat ilustrasi pemahat terhadap suatu gambar yang ada di dalam hatinya dan qadar gambarnya.
Adapun kamaksiatan, yaitu sesuatu yang diberi siksa, adalah merupakan qadla’, qadar, dan iradah Allah, juga penciptaan dan penelantaran Allah, akan tetapi bukan perintah, ridla’, mahabbah, dan petunjuk Allah. Ketahuilah bahwasanya madlul (yang dimaksudkan ) perintah bukan madlul kehendak, terkadang perintah terlepas dari kehendak, sebagaimana jika seoarang anak hakim membunuh seorang laki-laki dengan sengaja, maka hakim tersebut akan memerintahkan terhadap membunuh anaknya, dan hakim tersebut bukanlah yang menginkan terhadap hal itu.
Makna ridla’ ialah menerima terhadap sesuatu dan memberikan pahala padanya, atau tidak menyiksa terhadapnya. Adapun perkara-perkara mubah (yang diperbolehkan) bukan perintah Allah, dan segala sesuatu yang Allah telah mengetahui bahwa sesuatu tersebut akan dijadikan telah Allah kehendaki, baik yang diperintahkan atau tidak. Ketahuilah pula, bahwasanya orang kafir diperintah untuk beramal sebagaimana ia di perintah untuk beriman, ini menurut Imam Syafi’i yang berbeda dengan Imam Hanafi, dimana beliau mengatakan, bahwa orang kafir tidak diperintah untuk beramal akan tetapi ia diperintah untuk beriman, dan dalilnya adalah firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
Dengan dasar bahwa tafsiran ayat ini menurutnya adalah :

يَااَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ اَطِيْعُوا, يَااَيُّهَا الكَافِرُوْنَ أَمِنُوْا,
Dan
يَااَيُّهَا المُنَافِقُونَ اَخْلِصُوا
Sesungguhnya manusia ada tiga bagian: Orang mukmin yang ikhlas dalam keimanannya, yaitu orang yang berikrar dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengamalkan dengan anggota tubuh, orang yang kafir yang ingkar dalam kekufurannya, yaitu orang yang tidak berikrar dengan lisan, dan tidak beriman dengan hatinya, dan orang munafik yang mencari muka dalam kemunafikannya, yaitu orang yang berikrar dengan lisan, tidak beriman dengan hatinya, dan yang mencari muka didepan orang-orang mukmin.
Mereka semua (para makhluk) akan diberi pahala atas ketaatan, dan akan diberi siksa atas kemaksiatan mereka. Pahala dan siksa tersebut dengan wa’d (janji memberi kebaikan) Allah dalam ketaatan, dan wa’id (janji memberi siksa) Allah dalam kemaksiatan, firman Allah:
•   .    . •    . •      •   . • •  . 
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya), dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”.

PERMASALAHAN XIII
IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?

Jika ditanyakan kepadamu: “Apakah iman terbagi-bagi, yakni, bisa menerima pembagian dengan menjadi juz-juz, atau tidak?” Perkataan Mushannif pada kata al-iman dengan dibaca mad huruf Hamzah-nya, karena asalnya adalah aal-iman dengan dua huruf Hamazah, lalu Hamzah yang ke dua diganti huruf Alif, maka terjadila mad yaitu Mad Lazim.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman tidak bisa terbagi-bagi, karena iman sesungguhnya adalah sebuah cahaya yang ada dihati, akal dan ruh anak cucu Adam, karena ia adalah hidayat Allah terhadap orang mukmin. Barang siapa yang ingkar terhadap sesuatu dari hal itu, maka orang tersebut kafir.

PERMASALAHAN XIV
APA YANG DIMAKSUD DENGAN IMAN?

Jika ditanyakan kepadamu: “Apa yang dimaksud dengan iman, yang mana ia adalah cahaya dan hidayat Allah swt.?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman adalah sebuah istilah dari tauhid (pengesaan), dan pengertian tauhid menurut ulama’ teologi adalah mengkhususkan pada yang disembah dengan beribadah, serta i’tiqad terhadap keesaan-Nya, dalam dzat, sifat dan af’al. Disebutkan, iman adalah i’tiqad terhadap apa yang wajib bagi Allah dan rasul-Nya, pada yang jaiz, dan yang mustahil. Adapun menurut ahli tashawwuf, iman adalah seseorang tidak melihat kecuali pada Allah, dengan artian, bahwa setiap perbuatan, gerak, dan diam yang terjadi di alam adalah dari Allah. Maha esa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, mereka tidak melihat sebuah perbuatan dimiliki yang selain Allah secara murni. Terkadang iman juga diartikan dengan tanda-tandanya, seperti sabda Nabi saw. kepada suatu golongan dari Arab yang mana mereka menghadap kepada Rasulullah saw.:

اَتَدْرُونَ مَا الإِيْمَانُ بِاللهِ تَعالى فَقَالُوا اَللهُ وَرَسُولُهُ اَعْلَمُ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم شَهَادَةُ اَنْ لا اِلهَ الا اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَاَنْ تُعْطُوا مِنَ المَغْنَمِ الخُمُسَ

“Apakah kalian tahu apa yang disebut iman terhadap Allah, maha esa Allah, mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya, lalu beliau bersabda: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa raomadlan, dan memberikan dari harta rampasan perang seperlimanya”.

PERMASALAHAN XV
SHALAT LIMA WAKTU, PUASA, ZAKAT, DAN…, TERMASUK DARI HAKIKAT IMAN ATAU BUKAN?

Jika ditanyakan kepadamu: “Shalat lima waktu, puasa ramadlan, zakat harta dan badan, cinta terhadap para malaikat, kitab-kitab samawi yang mana Allah telah menurunlkannya kepada sebagian para rasul, terhadap para rasul dan para Nabi alaihimus shalatu wassalam, terhadap qadar baik dan buruknya dari Allah, dan lainnya yang berupa perintah, larangan dan mengikuti sunnah nabi saw., apakah semua tersebut merupakan dari hakikat dan asal iman atau bukan?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Bukan. Yakni, semua itu bukan merupakan dari hakikat dan asal iman, akan tetapi itu semua cabang dari iman, karena iman adalah sebuah istilah dari tauhid (peng-esaan) sebagaimana didepan, dan yang selain itu adalah syarat dari beberapa syarat iman, dan cabang dari beberapa cabang iman, karena diantara syarat sahnya iman adalah cinta kepada Allah, para malaikat, para nabi, para aulia’, takut akan adzab Allah, mengharap rahmat-Nya, mengagungkan perintah dan larangan-Nya, dan benci terhadap musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang kafir.
Adapun shalat, puasa, zakat dan hajji, itu semua adalah syarat kesempurnaan, ini menurut qaul yang mukhtar menurut Ahli Sunnah. Barang siapa yang meninggalkannya dan i’tiqad akan wajibnya hal tersebut kepada dirinya, atau orang tadi meninggalkan salah satu diantaranya beserta i’tiqad, maka ia adalah orang mukmin yang sempurna dalam memenuhi hukum-hukum kemukminan di dunia dan di akhirat, karena tempat kembalinya adalah ke surga walaupun ia masuk ke neraka jika tidak memperoleh ampunan dari Allah Swt., dan ia juga disebut mukmin naqish (yang kurang) dari segi kelemahan imannya, sebab telah meninggalkan sebagian perintah. Dan jika ia meninggalkan karena menentang terhadap syara’ atau ragu terhadap kewajiban hal itu, maka ia kafir, berdasarkan ijma’ ulama’. Begitu juga apabila ia meninggalkan salah satu diantaranya beserta menentang atau ragu, karena semua itu dapat diketahui dari dalil-dalil agama secara pasti.
Ketahuilah, bahwasanya masalah-masalah dalam agama-secara garis besar-ada empat:
1. Shihhatul aqdi (sahnya ikatan) Yaitu dengan kamu beri’tiqad yang shahih/benar, yang lepas dari keraguan dan kerancuan dari kesesatan-kesesatan Ahlil Ahwa’ (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu/berbuat semaunya).
2. Shidqul qashdi (benarnya tujuan) Yaitu dengan kebenaran dalam tujuanmu. Sabda Nabi saw:
إِنَّمَا الاعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya semua pekerjaan bergantung pada niat”

3. Al-Wafa’ bil ‘ahdi (memenuhi terhadap janji) Yaitu apabila kamu berjanji maka penuhilah janji itu, agar tidak terdapat padamu suatu karakteristik dari kemunafikan, karena salah satu dari karakteristik kemunafikan ialah jika seseorang berjanji maka ia berkhianat.
4. Ijtinaabul haddi (menjauhi larangan) Yaitu dengan kamu menjauhi semua kemaksiatan.

TAMBIHUN

Seandainya ditanyakan kepadamu: “Kekufuran adalah dengan qadla’ dan qadar Allah, ridla’ terhadap qadla’ dan qadar adalah wajib, dan ridla’ terhadap kekufuran adalah kufur, maka bagaimana bisa yang wajib berkumpul dengan kekufuran?” Maka katakanlah: Kekufuran adalah maqdliyyun (yang dilaksanakan) dan maqdurun (yang ditetapkan), bukan qadla’ dan qadar, dan ridla’ hanya wajib terhadap qadla’ dan qadar, tidak terhadap maqdliyyun dan maqdurun, lagi pula, sesuatu yang bertentangan dengan syara’ yang tidak disukai oleh seorang hamba, itu adalah dari segi dzatnya, adapun dari segi bahwa sesuatu tadi adalah maqdliyyun, maka seorang hamba tadi ridla’, dengan artian, ia tidak bertentangan dengan kehendak Allah, dan seorang hamba tidak diperintah untuk menyukainya walaupun dari segi sesuatu tadi adalah merupakan maqdliyyun. Akan tetapi ia diperintah meninggalkan dari bertentangan terhadap Allah, dan beri’tiqad terhadap kebijaksanaan/hikmah atas sesuatu tadi (maqdliyyun) dan keadilan terhadap Allah.

PERMASALAHAN XVI
IMAN, BERSIFAT SUCI ATAU TIDAK?

Jika ditanyakan kepadamu: “Iman bersifatkan suci apa tidak?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman bersifatkan suci, maka semua amal akan menjadi sah sebabnya, dan kufur bersiftkan kotor, atau najis.
Firman Allah:
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
“Sesungguhnya orangorang musyrik itu najis”

Yakni, najis dalam i’tiqad mereka bukan badannya, dan semua amal yang telah dikerjakan dengan anggota-anggota badan akan menjadi batal sebabnya. Akan tetapi jika orang kafir masuk islam, ia akan diberi pahala atas apa yang telah ia kerjakan, yang berupa ibadah yang tidak membutuhkan terhadap niat, seperti shadaqah, silaturrahmi, dan memerdekakan budak, amal-amal tersebut dihukumi sah mulai saat itu, seperti apa yang telah ditukil oleh Imam Wanaie dari Imam Nawawi. Dalil tentang hal tersebut adalah firman Allah:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum islam) maka
hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk oran-orang merugi”

Yakni, barang siapa yang murtad/keluar dari keimanan, sebenarnya amal shalih yang sebelumnya batal, maka semua itu sia-sia dan tidak diberi pahala walaupun ia masuk islam kembali, dan ia diakhirat termasuk orang-orang yang merugi apabila nantinya mati atas kekufuran. Yakni, barang siapa yang ingkar dengan kalimat tauhid, yaitu: “Bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah”, maka amal-amal shalihnya rusak. Adapun orang yang masuk islam sebelum mati, maka pahalahnya rusak tidak amalnya, maka tidak wajib baginya mengulangi hajji yang telah ia kerjakan dan shalat yang telah ia laksanakan sebelum ia murtad.

PERMASALAHAN XVII
IMAN, MAKHLUK ATAU BUKAN?

Jika ditanyakan kepadamu: “Apakah iman makhluk atau bukan?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman adalah hidayat dari Allah, membenarkan dengan hati terhadap apa yang telah dibawa olah Nabi saw. dari Allah, dan iqrar dengan kalimat syahadat dengan lisan. Hidayat adalah penciptaan Allah, dan ia qadim. Adapun tashdiq (membenarkan) dan iqrar keduanya adalah perbuatan hamba dan ia muhdats (yang diciptakan/baru, dengan dibaca fathah huruf Dal-nya), yaitu yang ada setelah tiada, dan tiap-tiap apa-apa yang datangnya dari yang qadim adalah qadim, sedang tiap-tiap apa yang datangnya dari yang muhdats adalah muhdats.
Syekh Abu Mu’in mengatakan, tidak boleh dikatakan bahwa iman adalah makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi boleh dikatakan bahwa iman dari hamba adalah iqrar dengan lisan serta membenarkan dengan hati, dan iman dari Allah adalah hidayat dan taufiq. Sebagian ulama’ mengatakan, tidak boleh mengatakan bahwa iman adalah sebuah nama hidayat dan taufiq, walaupun iman tidak akan ada kecuali dengan keduanya, karena seorang hamba adalah yang dipeintah terhadap iman, dan perintah hanya ada pada apa yang masuk dibawah kekuatan hamba, dan sesuatu yang seperti itu adalah makhluk. Bajuri mengatakan, yang tepat, iman adalah makhluk, karena iman adakalanya membenarkannya hati, atau membenarkannya hati serta iqrar dengan lisan, dan kedua-duanya adalah makhluk, dan apa yang telah dikatakan bahwa iman adalah qadim dengan mempertimbangkan terhadap hidayat, itu keluar dari hakikat iman, atas sesungguhnya hidayat adalah hadits (baru), Namun jika kita melihat terhadap bahwa iman adalah dengan qadla’ yang azali maka sah saja jika dikatakan bahwa iman adalah qadim.
Muhammad Khalil berkata, dengan menukil dari Syamsi Ar-Ramli, iman menurut Jumhurul Muhaqqiqin adalah membenarkannya hati terhadap apa yang telah diketahui secara pasti yang dibawa Rasulullah saw. dari Allah. Adapun iqrar dengan lisan, maka itu hanya merupakan syarat untuk memenuhi hukum-hukum dalam agama. Dikatakan, iman adalah iqrar dan membenarkan secara bersamaan, dikatakan juga, iman adalah iqrar dan amal-amal. Dan atas tiap-tiap qaul ini, semuanya adalah makhluk, karena hal tersebut adalah perbuatan hamba yang diciptakan.
Firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”
Adapun perkataan Abul Laits As-Samarqandi pada jawaban; “Apakah iman adalah makhluk atau bukan?” dengan jawaban; “Iman adalah iqrar dan hidayat. Iqrar adalah pekerjaan hamba dan ia makhluk, dan hidayat adalah penciptaan Allah dan ia bukan makhluk”, maka hal ini mendapat toleransi, karena hidayat Allah pada hamba adalah sebab keimanan, bukan juz (bagian) dari iman, dan yang ditanyakan adalah nafsul iman (dzat/esensi iman), bukan iman beserta sebabnya secara bersamaan.

“WAllahu A’lamu, wa shallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa alihi wa Shahbihi wa sallama, wal hamdulillahi Rabbil ‘alamina”
 

Keterangan Penulis:

Judul : Cahaya Iman (Terjemah Qathrul Ghaits Fi Syarhi Masaaili Abi Laits)
Pengantar : Ust. Hamiduddin S.Pd.I
Al-Mutarjim : Khoiruddin Ibnu Burdah ad-Dlo’ify
Sampul : Ad-Dlo’ify
Kategori : Ilmiyah
Bentuk : Buku Mini
Status : Sudah Dicetak
Hak Cetak : M2KD & Shohib Ghurfah al-Malikie

PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

فيا رب بالتوحيد وحد قلوبنا اليك المهيمن والغفور الرحيما

Hamdan wa syukron lillah yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya , termasuk juga nikmat kesempatan untuk menulis terjemahan ini. Shalatan wa tasliman ala Habibillah Muhammad ibni Abdillah, suri tauladan para hamba Allah yang telah membawa dan menyampaikan ayat-ayat-Nya dimuka bumi ini. Agar yang gelap menjadi terang, yang buta bisa melihat, yang tuli bisa mendengar, yang keras bisa lembut, yang sakit bisa sembuh dan yang lupa bisa ingat, dengan pancaran ruhaniyah, imaniyah yang dibawanya.

Berangkat dari memaksakan diri, berangkat dari keinginan hati dan dari keinginan seorang abdi untuk juga sama dengan yang lain, menjadi abdi yang berbakti, saya luangkan apa yang saya punya, pikiran, waktu dan tenaga untuk menerjemah kitab yang berjudul asli QATHRUL GHAITS ini. Walau dengan kemampuan yang sangat begitu minim dan pengetahuan yang sangat belum layak untuk menjadi seorang al-mutarjim, baik dari masalah gramatika dan pemahaman bahasa Arab serta mentranslitnya kedalam bahasa Indonesia. Ini semua tidak lain karena saya juga berharap menjadi seorang abdi yang baik dan berbakti, atau paling tidak saya sudah berkeinginan, mencoba dan berusaha, walau pun akhirnya terjemahan ini masih berserakan dengan kekurangan dan kesalahan.

Sadar akan hal ini, akan ke-serba kekurangan saya, saya mohon kepada siapa saja yang mebacanya untuk meneliti kembali terjemahan ini. Menambah yang kurang, mengurangi yang lebih dan membuang yang salah serta menggantinya dengan yang benar. Tidak ada lain kecuali untuk terwujudnya pengabdian seorang abdi yang baik berbakti pada Ilahi Rabby.

Akhirnya, meski hanya dengan berupa terjemahan yang sederhana dan “biasa-biasa” saja, saya tetap berharap pada Ilahi Rabby al-Mustajibud da’awati semoga terjemahan ini dapat bermanfaat fiddini, waddunya wal akhirah untuk saya khususnya dan muslimin umumnya walau tidak seperti kitab aslinya.

Amin Ya Rabb, Amin…

Khoiruddin Ibnu Burdah ad-Dlo’ify

الحمد الله ياربي

MATOR KASO’ON & PANGAPORAH ABDINAH:

Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pendiri Pesantren dan semua Masyaikh tanpa terkecuali “Nyo’on pangaporah se sobung betessah, abdinah bennyak kacangkolangan tor kasalaan. Mator kaso’on atas sadejeh epon se ampon eparengagih de’ abdinah, jazakumullah khairal jaza’ fiddini waddunya wal akhirah”.

Ketua Pembina M2KD RH. MOH. THOHIR ZAIN (RAUL) “Nyo’on pangaporah, abdinah gita’ bisa ngatoragih pangabdian se ce’ saenah. Mator kaso’on atas sadejeh bimbingan sareng didikan epon ajunan de’ abdinah, jazakallah khairan katsiran wa wahaba laka zaujatan jamilatan sholihatan”.

R. ARIF & R. SANUSI Tanah Wulan-Maisan Bondowoso “Mator kaso’on sareng nyo’onah pangaporah, abdinah ki’ paggun ta’ ejeb”

Semua para ASATIDZ, terkhusus UST. HAMIDUDDIN S.Pd.I yang telah sudih meluangkan waktu dan pikiran demi terbitnya terjemahan yang sederha serta masih jauh dari kesempurnaan ini. Semoga apa yang telah ajunan-ajunan berikan, sampaikan mendapatkan balasan baik dari-Nya. IA-lah satu-satunya Dzat yang bisa memberikan balasan terbaik. Semoga semuanya bisa bermanfaat untuk kita semua fiddini, waddunya wal akhirah. Amin…

Semua teman-teman M2KD yang tidak pernah bosan untuk terus “mengkompori” saya agar terus memaksakan diri untuk berpikir, belajar dan akhirnya menulis, walau sebenarnya saya tetap sadar punya apa saya, siapa saya dan seperti apa saya.
Terima kasih…Semoga apa yang sudah kita usahakan bersama tidak sia-sia, atau paling tidak kita bersama telah mencoba untuk melakukan kebaikan dan menjadi orang baik-baik.
Terima kasih…semua…

“Sangat sadar kalau al-mutarjim masih al-mubtadi’, pun masih penuh dengan dosa-dosa, maka sangat sadar juga akan kesalahan-kesalahan dan kekurangan yang begitu banyak dalam terjemahan ini.
Dari ini al-mutarjimul mubtadi’ berharap pada siapa saja yang membaca terjemahan ini untuk berkenan mengoreksi, menambah serta membetulkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan yang terdapat didalamnya, guna i’lai kalimatillah azza wa jalla fi hadzihid dunya”.

Al-Mutatjimul Mubtadi’.

 

Sumber: http://ad-dloifyal-malikie.blogspot.com/p/cahaya-iman.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s