Kisah Nabi Muhammad SAW Memberikan Syafaat kepada Umatnya di Neraka Jahanam

Cinta dan sayang Nabi Muhammad SAW kepada ummatnya begitu sempurna, ketika Baginda wafat dan dibangkitkan di Hari Kiamat, Rasul SAW begitu mengkhawatirkan kondisi ummatnya, ummati…ummati…. Setelah wafat Baginda, secara fisik berpisah, namun secara rohani sangat dekat dengan ummatnya, banyak ummat yang diziarahi Baginda, dalam kondisi mimpi maupun terjaga (Yaqazah) (HR. Bukhari), ruh berjumpa dengan ruh. Pertalian cinta kasih inipun abadi sampai di Akhirat, ketika ummat Nabi SAW yang durhaka dihukum dalam neraka Jahanam, Baginda senantiasa siap untuk memberikan Syafaatnya, kisahnya terlukis indah dalam kitab Tanbihul Ghafilin sebagaimana berikut.

Ketika ummat Nabi yang durhaka itu digiring oleh Malaikat Malik, mereka selalu memanggil: “Wa Muhammad” tetapi setelah melihat muka Malaikat Malik mereka lupa akan nama Rasulullah SAW karena hebatnya Malaikat Malik, lalu ditanya: “Siapakah kamu?” Jawab mereka: “Kami ummat yang dituruni Al-Quran dan kami telah puasa bulan Ramadhan.” Lalu Malaikat Malik berkata: “Al-Quran tidak diturunkan kecuali kepada ummat Rasulullah SAW.” Maka ketika itu mereka menjerit: “Kami ummat Nabi Muhammad SAW” Maka Malaikat Malik bertanya: “Tidakkah telah ada larangan dalam Al-Quran dari maksiat terhadap Allah SWT.”

Dan ketika berada ditepi neraka Jahannam dan diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah, mereka berkata: “Ya Malik, apakah diizinkan saya menangis.” Maka diizinkan, lalu mereka menangis sampai habis airmata, kemudian menangis lagi dengan darah, sehingga Malaikat Malik berkata: “Alangkah baiknya menangis ini andaikata terjadi didunia karena  takut kepada Allah SWT, niscaya kamu tidak akan disentuh oleh api neraka pada hari ini, lalu Malaikat Malik berkata kepada Malaikat Zabaniyah: “Lemparkan mereka kedalam neraka.” dan bila telah dilempar mereka serentak menjerit: “Laa illaha illallah.” maka surutlah api neraka, Malaikat Malik berkata: “Hai api, sambarlah mereka.” Jawab api: “Bagaimana aku menyambar mereka, padahal mereka menyebut Laa illaha illallah.” Malaikat Malik berkata: “Demikianlah perintah Tuhan Rabbul arsy.” maka ditangkaplah mereka oleh api, ada yang hanya sampai tapak kaki, ada yang sampai kelutut, ada yang sampai kemuka. Malaikat Malik berkata: “jangan membakar muka mereka karena  mereka telah lama sujud kepada Allah SWT, juga jangan membakar hati mereka karena  mereka telah haus pada bulan Ramadhan.” Maka tinggal dalam neraka beberapa lama sambil menyebut: “Ya Arhamar Rahimin, Ya Hannan, Ya Mannan.”

Kemudian bila telah selesai hukuman mereka, maka Allah SWT memanggil Jibril dan bertanya: “Ya Jibril, bagaimanakah keadaan orang-orang yang maksiat dari ummat Nabi Muhammad SAW?” Jawab Jibril: “Ya Tuhan, Engkau lebih mengetahui.” Lalu diperintahkan: “Pergilah kau lihatkan keadaan mereka.” Maka pergilah Jibril a.s. kepada Malaikat Malik yang sedang duduk diatas mimbar ditengah-tengah Jahannam.

Ketika Malaikat Malik melihat Jibril segera ia bangun hormat dan berkata: “Ya Jibril, mengapakah kau datang kesini?” Jawab Jibril: “Bagaimanakah keadaan rombongan yang maksiat dari ummat Rasulullah SAW?” Jawab Malaikat Malik: “Sungguh ngeri keadaan mereka dan sempit tempat mereka, mereka telah terbakar badan dan daging mereka kecuali muka dan hati mereka masih berkilauan iman.”Jibril berkata: “Bukalah tutup mereka supaya saya dapat melhat mereka.” Maka Malaikat Malik menyuruh Malaikat Zabaniyah membuka tutup mereka dan ketika mereka melihat Jibril mereka mengerti bahwa ini bukan Malaikat yang menyiksa manusia, lalu mereka bertanya: “Siapakah hamba yang sangat bagus rupanya itu?” Jawab Malaikat Malik: “Itu Jibril yang biasa membawa wahyu kepada Nabi Muhammad SAW” Ketika mereka mendengar nama Nabi Muhammad SAW maka serentaklah mereka menjerit: “Ya Jibril, sampaikan salam kami kepada Nabi Muhammad SAW dan beritakan bahwa maksiat kamilah yang memisahkan kami dengannya serta sampaikan keadaan kami kepadanya.”

Maka kembalilah Jibril menghadap kepada Allah SWT lalu ditanya: “Bagaimana kamu melihat ummat Muhammad?” Jawab Jibril: “Ya Tuhan, alangkah jeleknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka.” Lalu Allah SWT bertanya lagi: “Apakah mereka minta apa-apa kepadamu?” Jawab Jibril: “Ya, mereka minta disampaikan salam mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan diberitakan kepadanya keadaan mereka.”

Maka Allah SWT menyuruh Jibril menyampaikan semua pesanan itu kepada Nabi Muhammad SAW yang tinggal dalam kemah dari permata yang putih, mempunyai empat ribu buah pintu dan tiap-tiap pintu terdapat dua daun pintu dari emas, maka berkata Jibril: “Ya Muhammad, saya datang kepadamu dari rombongan orang-orang yang durhaka dari ummatmu yang masih tersiksa dalam neraka, mereka menyampaikan salam kepadamu dan mengeluh bahwa keadaan mereka sangat jelek dan sangat sempit tempat mereka.”

Maka pergilah Nabi Muhammad SAW kebawah Arsy dan bersujud dan memuji Allah SWT dengan ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seorang makhlukpun sehingga Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad SAW: “Angkatlah kepalamu dan mintalah niscaya akan diberikan, dan ajukan syafa’atmu pasti akan diterima.” Maka Nabi Muhammad SAW berkata: “Ya Tuhan, orang-orang yang durhaka dari ummatku telah terlaksana pada mereka hukumMu dan balasanMu, maka terimalah syafa’atku.” Allah SWT berfirman: “Aku terima syafa’atmu terhadap mereka, maka pergilah keneraka dan keluarkan daripadanya orang yang pernah mengucap Laa ilaha illallah.”

Maka pergilah Nabi Muhammad SAW keneraka dan ketika dilihat oleh Malaiakt Malik, maka segera ia bangkit hormat lalu ditanya: “Hai Malik, bagaimanakah keadaan ummatku yang durhaka?” Jawab Malaikat Malik: “Alangkah jeleknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka.” Maka diperintahkan membuka pintu dan angkat tutupnya, maka apabila orang-orang didalam neraka itu melihat Nabi Muhammad SAW maka mereka menjerit serentak: “Ya Nabi Muhammad SAW, api neraka telah membakar kulit kami.”

Maka dikeluarkan semuanya berupa arang, lalu dibawa mereka kesungai dimuka pintu syurga yang bernama Nahrulhayawan, dan disana mereka mandi kemudian keluar sebagai orang muda yang gagah, elok, cerah matanya sedangkan wajah mereka bagaikan bulan dan tertulis didahi mereka Aljahanamiyun atau orang-orang Jahannam yang telah dibebaskan oleh Allah SWT. Dari neraka kemudiannya mereka masuk kesyurga, maka apabila orang-orang kafir di neraka itu melihat kaum muslimin telah dilepaskan dari neraka, mereka berkata: “Aduh, sekiranya kami dahulu Islam tentu kami dapat keluar dari neraka.”

Semoga kisah ini dapat menambahkan kecintaan kita terhadap Junjungan Mulia Nabi Muhammad SAW. Di bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi ini, adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW, mengingat jasa-jasa Baginda, karena Baginda adalah nikmat terbesar bagi ummat ini, melalui jasanya ummat ini mendapatkan iman, Islam, dan lainnya. Bentuk rasa syukur terima kasih ini diantaranya dapat dengan memperbanyak ibadah, sholawat, sedekah, mempelajari sejarah, akhlaq, kehidupan Nabi dan lainnya. Kegiatan-kegiatan ibadah ini dirangkai para ulama menjadi Maulidurrasul sebagai sarana untuk meningkatkan kecintaan pada Nabi dan membalas cinta Nabi SAW kepada kita semua. Semoga upaya ini dapat melahirkan cinta yang sebenarnya, yang salah satu ciri cinta itu adalah ketika disebut nama Baginda akan terasa getarannya, bahkan dapat meneteskan airmata. Cinta kepada Nabi saw. pembeda keimanan di antara kaum beriman.”Tak seorang pun di antara kamu beriman, sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai anak-anaknya, orang tuanya, dan semua orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s