Yaqazah dan Mimpi: Bukti Nabi Muhammad SAW Masih Mendampingi Ummatnya

Yaqazah (perjumpaan dalam kondisi terjaga/tidak tidur) dan mimpi (perjumpaan dalam kondisi tidur) adalah bukti bahwa Nabi Muhammad SAW masih mendampingi ummatnya. Tentunya perjumpaan itu atas kuasa dan kehendak Allah SWT, dimana dua ruh atau lebih berjumpa, melakukan dialog ataupun yang lain. Dalam tasawuf atau thoriqoh dua pertemuan ini sangat wajar diterima, namun ada pula kalangan yang menolaknya dengan alasan tidak masuk akal. Memang jika dipaksakan masuk akal, barangkali dengan peristiwa mukjizat para Nabi mungkin tidak akan ada umat yang akan beriman. Bagaimana dahulu ketika Rasul SAW Isra’ Mikraj ataupun ketika membelah bulan, Nabi SAW dianggap melakukan sihir.

Ruh Nabi Muhammad SAW masih aktif dan berperan (Ruhul Muqoddasah Wal Mutasyarifah), masih senantiasa menziarahi ummatnya, sangat banyak, yang sering adalah ketika seorang ummatnya akan wafat, diperkenankan untuk bertemu dengan ruh-ruh orang yang dicintainya (yaqazah). Nabi Muhammad SAW masih banyak memberi doa juga bimbingan, maka hanya orang yang berjumpa ruh Nabi SAW dan yang mempercayainya yang meyakini apa-apa yang disampaikan. Dibawah ini dijelaskan dalam dalil baik dari Al Qur’an, Hadits, maupun pendapat Ulama.

Definisi Yaqazah dan Musyafahah

Arti yaqazah menurut bahasa ialah jaga, sadar, bukan dalam keadaan mimpi, (yaqiza) Aiy mutayaqqizun: Hazirun: jaga, sadar, berjaga-jaga. Referensi: Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al‘asriyah, Soida, Beirut. (halaman 349)

Adapun pengertian yaqazah pada istilah pembahasan ilmu tasawuf ialah bertemu atau berjumpa dengan roh Rasulullah SAW dalam keadaan jaga (bukan mimpi) dan hal ini merupakan satu karamah wali-wali Allah.

Arti musyafahah menurut bahasa adalah bercakap-cakap antara dua pihak. (Al Musyafahah) Al Mukhatobah min fika ila fihi. Referensi: Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al‘asriyah, Soida, Beirut. (halaman 167)

Pengertian musyafahah secara istilah adalah bercakap-cakap dengan roh Rasulullah SAW atau bertanya- jawab atas hal-hal yang kurang jelas dalam agama atau menerima amalan-amalan tertentu dari baginda.

Yaqazah adalah satu perkara luar biasa yang bertentangan dengan adat kebiasaan. Hal ini menjadi salah satu sumber kekuatan para ulama yang hak (benar) dalam mempertahankan kebenaran. Imam As Sayuti apabila ingin memasukkan sebuah Hadis ke dalam kitab karangannya akan bertanya kepada Rasulullah SAW secara yaqazah: “Adakah Hadis ini daripadamu ya Rasulullah?” Jika Rasulullah SAW membenarkan, barulah beliau menuliskan Hadis tersebut. Begitu juga terjadi kepada banyak Auliya Allah.

Hukum Yaqazah

Yaqazah hukumnya dapat berlaku pada wali-wali Allah sebagai kemuliaan (karamah) yang Allah kurniakan kepada mereka. Ia adalah perkara yang bertentangan dengan adat kebiasaan (luar dari kebiasaan) pada logika manusia sedangkan masih dalam lingkungan mumkinat (boleh) bagi Allah untuk mengadakan atau meniadakannya.

Perlu diketahui perkara yang bertentangan dengan kebiasaan dapat dibagikan menjadi empat kategori, berdasarkan di tangan siapa ia terjadi:

  1. Mukjizat: berlaku kepada para rasul a.s. sebagai bukti kerasulan mereka untuk mencabar penentang-penentang mereka.
  2. Karamah: berlaku kepada kekasih-kekasih Allah (para wali) lambang kemuliaan yang Allah beri kepada mereka.
  3. Maunah: berlaku kepada orang-orang mukmin dengan berkat guru atau amalan tertentu yang diistiqamahkan.
  4. Sihir: berlaku di tangan orang-orang fasik atau kafir secara istidraj (dalam murka Tuhan).

Dalil Bisa Beryaqazah

Perlu diketahui dan difahami, ada banyak ayat-ayat Al Quran yang memberi isyarat tentang peristiwa yaqazah ini. Kalaulah ia dapat berlaku kepada para rasul a.s. sebagai mukjizat, ia juga dapat berlaku kepada wali-wali Allah sebagai karamah.

Dalil pertama: Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa a.s.

Ketika Rasulullah SAW dimikrajkan, baginda dipertemukan dengan Nabi Musa a.s. sedangkan Nabi Musa telah wafat lebih 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Oleh karena besarnya peristiwa ini maka Allah rekamkan di dalam Al Quran dengan firman-Nya:

Maksudnya: “Maka janganlah kamu ragu tentang pertemuanmu (dengan Musa ketika mikraj).” (Sajadah: 23)

Dalil kedua: Solat jemaah Nabi SAW dengan para rasul

Nabi Muhammad SAW bersembahyang berjemaah dengan para rasul di malam Israk sebelum baginda dimikrajkan. Firman Allah:

Maksudnya: “Dan tanyalah orang-orang yang Kami utus sebelum kamu (wahai Muhammad) di antara para rasul Kami itu.” (Az Zukhruf: 45)

Di dalam Tafsir Al Qurtubi, juzuk ke-7, ms 5915 tercatat:

Masalah bertanya kepada anbiya di malam mikraj, Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa para anbiya bersembahyang dengan berimamkan Rasulullah SAW dalam tujuh saf. Tiga saf terdiri dari rasul-rasul. Manakala empat saf lagi untuk nabi-nabi. Pertemuan Nabi SAW ini adalah dalam keadaan jaga dan Nabi SAW telah bertanya sesuatu kepada mereka di malam itu.”

Dalil ketiga: Hadis dari Abu Hurairah r.a.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Aku dengar Nabi SAW bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku di dalam keadaan jaga dan syaitan tidak boleh menyerupai diriku.” (Sahih Bukhari, juzuk ke-9, halaman. 42)

Pengakuan Ulama Mengenai Yaqazah

Ibnu Arabi dalam kitabnya Fara’idul Fawa’id menulis:

“Adalah boleh (khususnya bagi wali Allah yang diberi karamah) untuk bertemu dengan zat Nabi SAW baik rohnya atau jasadnya kerana Rasulullah SAW seperti lain-lain nabi dan rasul, semuanya hidup bila mereka dikembalikan (kepada jasadnya) serta diizinkan oleh Allah keluar dari kuburnya.

Dalam kitab Al Khasoisul Kubra, Imam As Sayuti dalam Syarah Muslim oleh Imam Nawawi menulis:

“Jikalau seseorang berjumpa Nabi SAW (dalam mimpi atau jaga), baginda menyuruh akan sesuatu perbuatan (sunat), melarang satu larangan, menegah atau menunjukkan suatu yang baik, maka tiada khilaf ulama bahawa adalah sunat hukumnya mengamalkan perintah itu.”

Pihin Datuk Seri Maharaja Datuk Seri Utama, Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Kerajaan Brunei Darussalam, mengeluarkan fatwa melalui Pejabat Mufti, Kementerian Hal Ehwal Agama, Negara Brunei Darussalam pada 14 Jamadil Awal 1408H, 4 Januari 1988 iaitu:

“Maka nyata dari kata-kata ulama yang di atas ini bahawa berjumpa dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu selawat dan suatu zikir, adalah harus (mubah) dan boleh, bagaimana telah berlaku pada ulama-ulama, ahli ilmu Islam, wali-wali Allah dan orang-orang solehin, kita berkata perkara seperti itu termasuk di bawah ertikata fadhailul a’mal. Adapun perkara halal dan haram telah tertutup dengan berhenti wahyu kepada Nabi kita dan dengan wafat Nabi kita SAW sebagaimana kita telah sebutkan di awal-awal rencana ini. Sila baca kitab-kitab mengenai wali-wali Allah seperti Syawahidul Haq karangan Syeikh Yusuf An Nabhani dan kitab Lathoiful minan karangan Al Arifbillah Tajuddin bin Athaillah As Sakandari yang meninggal tahun 709H dan Jami’u Karamatil Auliya karangan Syeikh An Nabhani dan Hilyatul Auliya oleh Al Hafiz Abu Naim dan karangan Al ‘Alamah Dr. Abdul Halim Mahmud, Mesir dan lain-lain.”

Rujukan

Kitab ulama-ulama yang membahas mengenai yaqazah:

Tautan

Sumber: http://www.kawansejati.org/yaqazah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s