“40 Masalah Agama” K.H.Sirajuddin Abbas: Bid’ah

Kontroversial mengenai bid’ah sudah sering kita dengar, namun tak pernah ada penyelesaian yang mencapai titik temu, berikut ini adalah definisi macam-macam bid’ah yang dikutip dari buku :”40 Masalah Agama” karya K.H.Sirajuddin Abbas mengenai bid’ah. Mudah-mudahan bisa menjadi panduan buat netter semua.

Masalah bid’ah adalah satu masalah yang sangat rumit karena ia menyangkut banyak bidang dalam masalah agama kita. Ia kait-mengkait dengan banyak hadits yang termaktub dalam beberapa hadits, dan bertalian erat dengan banyak amalan sahabat-sahabat Rosululloh Saw.

Banyak orang orang mengatakan;”ini bid’ah, itu bid’ah, ini sesat, itu dhalalah”, tanpa mau berfikir melainkan hanya terpaku kepada tekstual hadits, tanpa mau melihat konteks hadits maupun asbabul wurud-nya. padahal dia sendiri justru tidak mau mendalami, bahkan ta’rif atau definisi bid’ah sendiripun ia tidak tahu.

Seperti halnya pribahasa mengatakan; Banyak orang yang mendengar bunyi loceng, tetapi sedikit sekali yang mengetahui di mana terletaknya lonceng itu.

Banyak sekali ayat Qur’an dengan secara tak langsung, begitu juga hadits-hadits Nabi dengan cara langsung mengancam terhadap bid’ah dan ahli bid’ah.

Tersebut dalam kitab Sahih Muslim, bahwa Nabi bersabda, Artinya :
Dari Siti Aisyah Ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadat yang tidak kami perintahkan, amalnya itu akan ditolak. (HR. Imam Muslim – Syarah Muslim XII, hal. 16) Ini adalah hadits umum.

Menurut bahasa Arab, bid’ah berasal dari kata, badi’u yang berarti mencipta yang sebelumnya belum pernah ada, sehingga kata-kata bid’ah memiliki maksud: ” sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang terdahulu”

Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada menjadi dua yaitu:

a. Bid’ah dholalah, yaitu bid’ah yang sesat, bid’ah tercela, yaitu pekerjaan
keagamaan yang berlainan atau menentang Kitabullah, menentang Sunnah Nabi,
Atsar Sahabat-sahabat dan Ijma’ ulama.

b. Bid’ah Hasanah, yaitu pekerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang
Sunnah Nabi, tidak menentang perbuatan Sahabat-sahabat Nabi, tidak menentang Ijma’.

Imam Jalaluddin Suyuthi berpendapat bahwa hukum bid’ah itu dipandang dari
hukum fiqih menjadi lima, yaitu :

  1. Bid’ah Wajib,
  2. Bid’ah Sunat,
  3. Bid’ah Haram,
  4. Bid’ah Makruh dan
  5. Bid’ah Jaiz (boleh).

Bid’ah yang terlarang dalam agama hanyalah bid’ah dalam keagamaan. Adapun
dalam urusan keduniaan tidak ada bid’ah yang terlarang; misalnya kita boleh mengadakan
dan membuat sesuatu barang walaupun belum ada sebelumnya atau belum pernah dikerjakan pada zaman Nabi atau zaman Sahabat, asalkan perbuatan itu baik dan tidak bertentangan dengan hukum agama, tidak termasuk yang dilarang oleh hukum agama.
Dapat dimisalkan dalam hal ini adalah membuat rumah, membuat mobil dan mengendarainya, membuat dan memakai peralatan elektronik , memakai sarung dan peci,
semuanya ini meskipun belum ada pada zaman Nabi saw, tapi kita diberi izin membuatnya dan memakainya karena hal ini adalah termasuk soal keduniaan dan disesuaikan dengan kepentingan yang kita butuhkan.

Tetapi dalam hal keagamaan, misalnya sholat yang lima waktu misalnya kita jadikan menjadi enam waktu, atau puasa Ramadhan misalnya dilakukan dua bulan dalam setahun, naik haji tidak ke Mekah tapi misalnya ke palestin, maka itu jelas merupakan bid’ah yang dimaksud Rosululloh SAW sebagai suatu kesesatan.

Ada beberapa macam hal keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Nabi, namun dilakukan juga oleh para Sahabat, Khalifaur- Rasyidin, yaitu Saidina Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan Ali Ra.
Semuanya itu tidak dapat dikatakan bid’ah dhalalah (bid’ah sesat), tetapi adalah bid’ah hasanah (bid’ah baik).

Contohnya:
a.       Membukukan kitab suci al Quran, yang diawali pengumpulannya oleh Saidina Abu
Bakar Ra dan kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Saidina Utsman bin Affan Ra
b.      Sholat Tarawih berjama’ah 20 rakaat dan sebulan Ramadhan penuh, yang diadakan oleh Saidina Umar Ra.
c.       Azan pertama pada sholat Jum’at, yang diperintahkan oleh Saidina Utsman Ra.
d.      Dan lain-lain.

Kesemuanya itu adalah bid’ah karena tidak dikenal pada zaman Rosululloh saw dan Rosululloh-pun tidak menyuruhnya. Semuanya hanya ditetapkan dan atas inisiatif  Khalifaur- Rasyidin.

Kalau seseorang Khalifaur-Rasyidin menetapkan sesuatu amal ibadat, maka kita harus mengikutinya dan mengamalkan karena sesuatu yang digariskan oleh Khalifah Rasyidin pada hakikatnya pasti datangnya dari Rasulullah saw, juga kerana Khalifaur-Rasyidin itu adalah orang yang selalu bergaul dengan Rosululloh saw.

Sabda Rosululloh Saw , Artinya:
Maka wajib atasmu memegang Sunnah aku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayat. (H.S.R. Imam Abu Daud dan Tarmidzi)

Dalam hadis ini terang dan jelas bahwa Nabi memerintahkan kepada ummat Muslimin supaya mengikuti sunnah Nabi dan sesudah Nabi wafat supaya mengikuti juga sunnah Khalifaur-Rasyidin. Hal ini dapat difahami kerana Khalifaur-Rasyidin adalah orang yang paling dekat kepada Nabi, bergaul dengan Nabi dalam waktu suka dan duka dan mendengar serta melihat  segala sesuatunya dari Nabi.

Al Quran pada zaman Nabi dan juga pada zaman Khulafaur-rasyidinpun tidak memakai titik dan juga tidak pakai baris.

Titik (nuqthah) dan baris (syakl) ayat-ayat al Quran pada hakikatnya bid’ah juga kerana tidak terkenal di zaman Nabi. Tetapi termasuk bid’ah hasanah karena diadakan demi untuk menjaga supaya kitab suci jangan salah baca oleh pembacanya.

Setelah Agama Islam berkembang dan negeri-negeri Islam menjadi luas dari Barat ke Timur, sampai ke Persia, India, Tiongkok, Singkiang, Kazachtan di timur dan sampai ke Marokko, Spanyol dan Portugal di Barat yang terdiri dari bermacam-macam bangsa dan mempunyai bermacam-macam bahasa, yang tidak mengetahui ilmu Nahwu, Sharaf, Ma’ni dan Balaghah, maka terpaksalah ayat-ayat suci itu diberi titik dan baris supaya jangan salah membacanya bagi orang-orang yang tidak berbangsa Arab, atau orang Arab yang tidak pernah mendengar langsung dari Rosululloh SAW. Hal ini dianggap sangat perlu karena apabila salah baca maka akan merusak makna dan artinya.
Seluruh umat Islam dari dahulu hingga sekarang, termasuk ulama-ulamanya, Imam-imam Mujtahidnya (iman yang 4), dan pemimpin-pemimpinnya menerima dengan baik titik dan baris al Qur’an itu walaupun diadakan sesudah Nabi wafat. Ini dinamakan hukum ijma’, yaitu kesepakatan. Maka titik dan baris yang pada mulanya bid’ah, menjadi tidak bid’ah.
Begitu juga hasil-hasil ijtihad Imam-imam Mujtahid yang 4 tidak boleh dikatakan bid’ah,
walaupun kesemuanya itu tidak dikenal di zaman Nabi.
Dan kalau terpaksa dikatakan bid’ah juga maka itu adalah termasuk bid’ah hasanah.

Misalnya ijtihad tentang fiqh zakat.

Pada zaman Nabi yang dizakatkan hanyalah gandum, lembu, kambing, emas dan
perak. Tetapi padi, kerbau, uang kertas, tidak dikenal pada zaman Nabi.

Imam-imam Mujtahid berpendapat bahwa padi dizakatkan juga, diqiaskan kepada gandum karena merupakan bahan makanan pokok.

Kerbau kalau sampai senisab dizakatkan, diqiaskan kepada lembu.

Dan uang kertas dizakatkan juga karena diqiaskan dengan dirham dan dinar yang ada pada zaman Nabi.

Banyak lagi contoh-contoh qiyas dari hasil ijtihad Imam Mujtahid yang kesemuanya tidak dikenal di zaman Nabi, tetapi diterima oleh dunia Islam.

Misalnya :
a.       Haram hukumnya memukul ibu-bapa kerana diqiaskan kepada haram mengatakan “cis” (QS : Isra’ : 23), kerana keduanya sama-sama menyakiti ibu-bapa.
b.      Haram hukumnya membakar harta anak yatim kerana diqiaskan kepada memakannya (QS : An Nisa’ : 10), kerana membakar dan memakan sama-sama melenyapkannya.
c.       Wajib hukumnya mengeluarkan zakat dari harta anak-anak diqiaskan kepada harta orang dewasa, kerana keduanya sama-sama harta dan milik yang sempurna.
d.      Wajib hukumnya memotong tangan pencuri kain kafan didalam kuburan diqiaskan kepada mencuri kain dari peti, kerana keduanya tersimpan. Yang satu tersimpan dalam peti dan yang lain tersimpan dalam kubur.
e.       Wajib mengeluarkan zakat padi diqiaskan kepada zakat gandum kerana keduanya sama-sama makanan yang pokok (utama).
f.       Wajib mengeluarkan zakat kerbau diqiaskan kepada zakat lembu dan kambing, kerana keduanya sama-sama haiwan yang dapat dipunyai dan dimakan.

Sehingga secara ringkas bid’ah itu terbagi menjadi 5, yaitu :

1. Bid’ah yang haram (dhalalah atau sesat)

A. Bid’ah Haram Dalam i’tiqad (kepercayaan)
-Kepercayaan bahwa masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw.
-Kepercayaan bahwa Khalifah Nabi yang pertama adalah Saidina Ali.
-Kepercayaan bahwa Imam-imam menerima wahyu sebagaiman Nabi menerima wahyu.
-Kepercayaan bahwa Khalik (pencipta) dan makhluk (yang dicipta) adalah satu.
-Kepercayaan bahwa dalil-dalil hukum agama hanya terdapat dalam Qur’an saja.
-Kepercayaan bahwa Alloh SAW tidak mempunyai sifat.
-Kepercayaan bahwa takdir baik dan buruk tidak ada.
-Kepercayaan bahwa manusia yang mengadakan pekerjaannya.
-Kepercayaan bahwa Kalam Alloh SWT adalah makhluk.
-Kepercayaan bahwa Alloh SAW tidak bisa dilihat dalam syurga.
-Kepercayaan bahwa Mi’raj Nabi Saw hanya dalam bentuk mimpi.
-Kepercayaan bahwa azab kubur tidak ada.
-Kepercayaan bahwa Hisab, Titian dan Timbangan, tidak ada di Akhirat.
-Kepercayaan bahwa syafa’at Nabi Muhammad Saw tidak ada.
-Kepercayaan bahwa Nabi tidak mempunyai mu’jizat selain al Qur’an.
-Kepercayaan bahwa berdo’a dengan bertawashul adalah syirik.

-Kepercayaan bahwa Alloh SWT duduk di atas ‘Arasy spt duduknya manusia di atas kursi
-Kepercayaan bahwa Allah turun pada malam hari seperti turunnya manusia dari tangga.
-Kepercayaan bahwa yang menentukan baik dan buruk adalah ‘akal, bukan syari’at.
-Kepercayaan bahwa syurga dan neraka tidak kekal.
-Dan lain-lain sebagainya.

B. Bid’ah Haram Dalam syari’at dan ibadat
-Menambah-nambah ayat dalam kitab al Qur’an.
-Menulis ayat Qur’an dengan huruf Latin, huruf Cina, huruf Jepang atau  huruf lainnya selain huruf Arab.
-Membuat foto atau gambar-gambar Nabi.
-Mentafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan pendapat saja.
-Azan sholat dengan piringan hitam atau casset.
-Sholat dalam hati saja, tidak fi’liyah
-Sholat Jum’at sendirian saja, di rumah atau dalam kamar, tidak ke Masjid.
-Sholat bukan dengan bahasa Arab.
-Khutbah Jum’at bukan dengan bahasa Arab.
-Naik Haji bukan ke Mekkah.
-Menterjemahkan ayat-ayat al Qur’an ke dalam bahasa selain bahasa Arab, dan membuang huruf Arabnya sehingga menjadi Qur’an Indonesia, Qur’an Inggris, Qur’an Belanda, Qur’an Cina, dan sebagainya. (Maksud menterjemahkan ke dalam bahasa lain di atas ialah mengambil maknanya itu dalam bahasa lain secara explisit yang mungkin lain
daripada maknanya dalam bahasa Arab kerana perkataan dalam bahasa Arab boleh mempunyai banyak makna dan kemungkinan juga dalam bahasa lain tidak ada satu perkataan yang boleh menerangkan satu perkataan dalam bahasa Arab dsb).
-Puasa terus menerus
-Puasa pada hari raya ‘Idhul fitri dan idhul Adha.
-Masuk puasa bukan dengan rukyat atau ikmal

-Sholat Jum’at di atas kapal di waktu sedang musafir.
-Menzakatkan seluruh harta termasuk pakaian, perkakas rumah seperti meja, piring, dll.
-Mengangkat amil zakat bukan oleh Khalifah (Pemerintah Islam)
-Mengumpulkan zakat untuk membuat masjid, pembuat jalan, dll.
-Membuat masjid dari uang yang berasal haram, seperti uang hasil judi, hasil korupsi,
uang hasil lotre, dan lain-lain yang sejenis.
2. Bid’ah Makruh


-Sholat dhuha secara berjamaah
-Menghiasi masjid dengan ukiran-ukiran
-Membayarkan zakat fitrah berlebih-lebihan, umpamanya dibayarkan 4 karung – sedangkan yang wajib hanya 3,5 liter.
-Menetapkan suatu hari untuk ibadat khusus, umpamanya untuk berzikir pada hari Jumaat saja, untuk shalawat hari Sabtu saja, untuk baca Qur’an hari Khamis, dan istigfar pada hari Rabu.
-Zikir waktu bersetubuh dengan isteri, atau ketika buang air.
-Zikir ketika mengantuk.
-Melebihi hitungan zikir yang sudah ditetapkan oleh Nabi setelah sholat, umpamanya membaca “subhanallah” sudah ditetapkan Nabi 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 33 kali. Tetapi dibaca lebih daripada itu.
-Dan lain-lain.

3. Bid’ah yang wajib


-Membukukan ayat-ayat Al-Qur’an karena takut hilang berserakan, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Saidina Abu Bakar Ra dan SaidinaUtsman Ra.
-Memberi titik dan baris pada ayat-ayat al Quran kerana khawatir akan salah orang yang membacanya yang akan membawa salah pengertian.
-Membukukan hadis-hadis Nabi Saw. demi untuk memelihara syari’at supaya jangan hilang, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lain.
-Membuat dan mengarang kitab-kitab Tafsir demi untuk menjaga supaya orang nantinya jangan sampai kepada tidak mengerti akan isi al-Qur’an.
-Membukukan kitab-kitab fiqih guna menjaga supaya hukum-hukum agama berjalan baik.
-Mengarang buku-buku atau kitab guna pembantah orang -orang yang salah i’tiqad dan ibadatnya, kalau jalan selain ini tidak ada.
-Belajar ilmu Nahwu – Sharaf – Hadits – Ma’ani, kalau dalam memahamkan al Qur’an tergantung kepadanya.
-Dan lain-lain.

4. Bid’ah Sunnat (Bid’ah Hasanah)


-Azan pertama pada sholat Jum’at.
-Sholat tarawih 20 raka’at.
-Membina menara masjid untuk azan sholat.
-Melakukan Azan sholat di atas menara.
-Belajar ilmu Nahwu – sharaf – Hadits – ma’ani – qawafi – dan lain-lain ilmu yang bertalian dengan agama.
-Membina madrasah-madrasah agama Islam.
-Mengadakan perayaan peringatan Maulud Nabi, Mi’raj Nabi dll.
-”Qiyam” atau berdiri ketika mendengar kisah Maulud Nabi.
-Mengadakan perkumpulan atau majlis ilmu untuk membahas agama dan keagamaan.
-Mendirikan rumah-rumah peribadatan.
-Bersalam-salaman sesudah sholat subuh berjama’ah.
-Memukul beduk untuk memanggil waktu sholat.
-Dan lain-lain sebagainya.

5. Bid’ah harus


-Membuat makanan yang lazat-lazat.
-Memakai pakaian yang bagus-bagus.
-Menggunakan kenderaan yang bagus-bagus.
-Membina rumah tempat tinggal yang besar dan luas.
-Mengadakan pejabat-pejabat untuk pengurusan sesuatunya.
-Naik Haji dengan kapal laut atau udara.
-Dan lain-lain sebagainya.

Demikian kurang-lebihnya, Wallohu a’lam bis-shawab,-

Wassalam,

2 thoughts on ““40 Masalah Agama” K.H.Sirajuddin Abbas: Bid’ah

    1. noer faqih

      berarti pembengunan masjidil haram menjadi 3 lantai, thawaf di lantai tiga, sa’i di ruang tertutup termasuk BID’AH, tapi BID’AH HASANAH

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s