Malam Lailatul Qadar, Sejarah dan Tanda-tandanya

MALAM SERIBU BULAN. Begitulah sebutan untuk malam “Lailatul Qodar”. Malam penuh keagungan yang dikaruniakan Allah SWT khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW. Satu malam yang bernilai lebih dari seribu bulan.
Cerita Asal Mula Lailatul Qadar
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, rosulullah SAW pernah bercerita bahwa beliau mendapat wahyu dari Allah tentang seorang laki-laki Bani Israil yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan tanpa henti. Rasulullah SAW sangat kagum, lalu beliau berdoa, “Tuhanku, Engkau telah menjadikan umatku orang-orang yang pendek usia dan sedikit amalan.”

Kemudian Allah memberi keutamaan kepada Rasulullah SAW dengan memberikan “Lailatul Qadar” yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang digunakan oleh laki-laki Bani Israil itu berjihad di jalan Allah.

Nama laki-laki Bani Israil itu adalah Nabi Syam’un (Samson). Ia berperang melawan kaum kafir selama seribu bulan tanpa henti. Ia diberi kekuatan dan keberanian yang membuat musuh-musuhnya ketakutan. Lalu kaum kafir mendatangi istri Nabi Syam’un. Mereka membujuk istrinya bahwa mereka akan memberi hadiah perhiasan emas jika ia dapat mengikat suaminya. Menurut perkiraan mereka, Nabi Syam’un dapat ditangkap dengan mudah jika dalam keadaan terikat.

Ketika Nabi Syam’un sedang tidur, secara diam-diam istrinya mengikat badan Nabi Syam’un dengan tali. Namun, ketika Nabi Syam’un bangun, dengan mudahnya ia memutuskan tali-tali yang mengikat tubuhnya.

“Apa maksudmu berbuat demikian kepadaku?” tanya Nabi Syam’un kepada istrinya.

“Aku hanya ingin menguji kekuatanmu,” jawab istrinya pura-pura.

Kaum kafir itu tidak putus asa. Lalu mereka memberi rantai kepada istri Nabi Syam’un dan memerintahkannya agar mengikat suaminya dengan rantai itu. Istri Nabi Syam’un segera melaksanakannya. Namun, sebagaimana kejadian sebelumnya, dengan mudah Nabi Syam’un memutuskan rantai besi yang mengikat tubuhnya.

Iblis mendatangi kaum kafir, lalu berkata kepada mereka agar memerintahkan istri Nabi Syam’un untuk bertanya kepada suaminya di mana letak kelemahannya. Setelah dibujuk, Nabi Syam’un mengatakan kepada istrinya bahwa kelemahannya ada pada delapan jambul dikepalanya. Ketika Nabi Syam’un tidur, istrinya memotong delapan jambul suaminya itu lalu mengikatkannya pada tubuhnya. Empat jambul digunakan untuk mengikat tangan dan empat jambul lagi untuk mengikat kakinya. Nabi Syam’un tidak mampu melepaskan dirinya dari ikatan itu karena itulah kelemahannya.

Akhirnya, kaum kafir dapat menangkap Nabi Syam’un. Lalu mereka menyiksanya. Telinga dan bibir Nabi Syam’un dipotong lalu badannya digantung disuatu tiang yang sangat tinggi. Nabi Syam’un berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk melepaskan diri dari penyiksaan musuh-musuhnya. Allah mengabulkan do’a Nabi Syam’un, hingga ia dapat melepaskan diri dari tali-tali yang menjeratnya dan menghancurkan tiang yang dipakai untuk menggantungnya. Semua kaum kafir mati tertimpa tiang tersebut.

Para sahabat Rasulullah SAW sangat kagum mendengar cerita itu. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, dapatkah kami meraih pahala sebagaimana yang diperoleh Nabi Syam’un?”
“Aku sendiri tidak tahu.” Jawab Rasulullah SAW.

Kemudian beliau berdoa kepada Allah. Allah mengabulkannya dengan memberi malam “Lailatul Qadar” yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang dipakai Nabi Syam’un berjihad di jalan Allah.

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qodar
Nabi Muhammad SAW pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu:

  1. Udara dan suasana pagi yang tenang. Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)
  2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokan harinya. Dari Ubay bin Ka’ab rodliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Keesokan hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.” (HR Muslim)
  3. Terkadang terbawa dalam mimpi seperti yang dialami oleh sebagian sahabat Nabi rodliyallahu’anhum.
  4. Bulan nampak separuh bulatan. Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan?” (HR. Muslim).
  5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan. Sebagaimana sebuah hadits dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Lailatul Qodar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan).” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan).
  6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Datangnya Malam Lailatul Qodar
أخْبَرَنَا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن لَيْلَةِ الْقَدْرِقال : هي في رمضان في العشر الأواخر ، في إحدى و عشرين أو ثلاث و عشرين أو خمس و عشرين أو سبع و عشرين أو تسع و عشرين أو في آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW telah memberitakan kepadaku tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda: “Lailatul Qodar terjadi pada Ramadhan; dalam sepuluh hari terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan atau malam terakhir.”

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا، فَلْيَتَحَرِّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Siapapaun yang mengintainya maka hendaklah mengintainya pada malam ke dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Berdasarkan hadits di atas, malam Lailatul Qodar kemungkinan besar terjadi pada malam ganjil pada 10 malam yang terakhir pada bulan Ramadhan. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada 10 awal atau 10 pertengahan bulan Ramadhan. Dengan begitu, kita tidak terpatok pada 10 malam terakhir saja untuk beribadah secara mantab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s