Memaknai Rukun Iman yang 6: Hidup Ber-Tuhan (2&3)

01 I’tiqad Ahlussunah Waljamaah

Itiqad (faham) kaum Ahlussunah Wal Jamaah yang telah disusun oleh Imam Abu Hasan Al-Asyari terbagi atas beberapa bahagian yaitu :
1. Tentang Ketuhanan
2. Tentang Malaikat-malaikat
3. Tentang-tentang Kitab-kitab suci
4. Tentang Rasul-rasul
5. Tentang Hari Akhirat
6. Tentang Qadha dan Qadhar

Pembagian yang 6 ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, ketika di tanya oleh seseorang :

Artinya :
Maka beritahulah kami (hai Rasulullah) tentang iman?
Nabi Muhammad menjawab : engkau mesti percaya kepada adanya Allah, melaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari akhirat dan qadha dan qadhar (nasib baik dan nasib buruk)
Hadits Riwayat Imam Muslim

Kita akan uraikan satu persatu ke-6 aspek rukun iman tersebut.

02 Tentang KeTuhanan

1. AKIBAT KEHILANGAN TUHAN

Di dunia hari ini walaupun manusia percaya dengan Tuhan tapi sudah kehilangan Tuhan. Baik umat Islam maupun bukan Islam, sudah kehilangan Tuhan. Sekalipun percaya Tuhan tapi sudah hilang di hatinya. Padahal kehilangan Tuhan adalah satu musibah yang besar. Tidak ada musibah yang paling besar pada manusia melainkan musibah kehilangan Tuhan. Kalau kehilangan uang, kuasa dll. itu masalah yang kecil. Tapi bila manusia sudah kehilangan Tuhan, cinta Tuhan sudah tiada, maka itu adalah musibah yang besar.

Sedangkan cinta Tuhan itu cinta yang agung. Tuhan itu sangat memberi kasih sayang pada hambanya. Bukti cinta Tuhan pada kita, bila satu pemberian Tuhan tidak ada maka yang lain tidak ada arti. Kalau Tuhan tidak memberi nafas, artinya kita akan mati. Waktu itu, rumah dan kekayaan sudah tiada arti.

Kehilangan Tuhan, kehilangan kasih sayang

Jadi kalau manusia sudah tidak cinta dan kehilangan Tuhan, padahal Tuhan itu patut dicintai, maka otomatis tidak cinta sesama manusia. Kenapa? Atas alasan apa kita dapat mencintai orang lain, sedangkan Tuhan yang sangat berjasa kepada kita, tidak kita cintai.

Karena itu bila sudah tidak cinta Tuhan, otomatis cinta pada sesama manusia sudah tidak murni. Akibatnya kesan negatifnya terlalu banyak. Tidak berkasih sayang, tidak pemurah, tidak amanah, tidak ada tenggang rasa, tidak ada perikemanusiaan, keadilan dan kerja sama. Kalaupun ada kerjasama bukan karena cinta, tidak ikhlas dan ada kepentingan, mungkin karena ingin keuntungan ataupun untuk menjaga harga diri. Karena itu ikatannya terlalu tipis dan dapat berpecah kapan saja.

Orang yang kehilangan Tuhan bukan saja di kalangan orang yang tidak ikut syariat, bahkan orang yang shalat pun sudah kehilangan Tuhan. Walaupun mereka banyak di mesjid, tapi sebenarnya tidak mencintai Tuhan. Sebab itulah tidak lahir kasih sayang, tidak lahir pemurah, kerja sama, bermaaf-maafan. Akibatnya di dalam masjid pun dapat terjadi pertengkaran dan perkelahian.

Kalau orang yang tidak sayang Tuhan itu orang yang tidak ikut syariat, masih dapat diterima. Tapi apa yang terjadi, yang menjadi pembohong, memfitnah, menipu adalah di kalangan mereka yang shalat, naik haji, umrah dll. Ibadahnya tidak berbuah. Itulah tandanya ikut Islam tapi tidak kenal Tuhan. Bukan saja orang politik, bahkan orang yang shalat pun sudah terpisah dengan Tuhan. Ibarat seorang anak yang berbuat baik dengan ibunya bukan karena ingin berkhidmat, tapi karena ingin memanfaatkan ibunya untuk tujuan dapat harta.

Sebab itu dunia hari ini sudah sangat kronis. Bila cinta tidak ada, maka kasih sayang tidak ada. Sedangkan kasih sayang makanan jiwa. Bila jiwa tidak diberi makan, maka orang kaya akan gila kuasa, sakit jiwa dan tidak ada kebahagiaan. Masalah masyarakat hari ini banyak melanda orang yang bertaraf tinggi, ada kuasa, pemimpin. Antara masalah yang sering dihadapi ialah anak-anak terlibat narkotika, isteri lari, isteri tidak taat, masing-masing tidak sehaluan. Perpecahan dalam rumah tangga begitu terlihat nyata. Walaupun ada uang, rumah besar, kedudukan tinggi tapi anak-anak berkelahi satu sama lain. Inilah akibatnya bila Tuhan sudah hilang. Bila cinta pada Tuhan sudah tidak ada, maka hilanglah cinta sesama manusia.

Bila kehilangan kasih sayang, terjadi gangsterism di kalangan anak-anak sekolah. Akibat tidak ada kasih sayang, perpecahan di antara partai politik dan sesama anggota partai makin kentara. Adakah ini dapat diobati dengan dengan kekayaan, nama dan glamour. Maknanya masalah kasih sayang ini tidak dapat diobati dengan kekayaan. Kalau kekayaan dapat mengobati manusia, tidak akan terjadi isteri lari, anak terlibat narkotika dll. Kalaulah kekuasaan dapat menjalinkan kasih sayang, maka tidak akan terjadi pemerintah yang paling banyak berjasa, tapi rakyat benci. Inilah akibat masing-masing sudah kehilangan Tuhan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s