Memaknai Rukun Iman yang 6: Hidup Ber-Tuhan (11 Mengenal Qadha & Qadar)

11 Mengenal Qadha & Qadar

Qadha ialah ketentuan atau hukum yang telah Allah tetapkan sejak azali bagi seseorang atau sesuatu perkara, seperti sakit, sehat, miskin, kaya dan lain-lain. Segala kejadian mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya sudah Allah tetapkan sejak azali. Adapun qadar adalah rincian dan batasan-batasan ketentuan yang telah Allah tetapkan sejak azali lagi.

Kita lihat beberapa contoh berikut ini.

1. Seorang manusia diciptakan oleh Allah menjadi bangsa lemah dan tertindas, dilahirkan di satu negara yang miskin dan terbelakang. Apakah orang itu dapat menolaknya?
2. Seseorang dilahirkan dari keluarga si fulan dan fulanah. Apakah ada orang yang mampu membantahnya? Dapatkah ia mengganti ibu ayahnya dengan orang lain?
3. Anak yang akan lahir tidak dapat dikuasai oleh ibu bapanya. Mereka harus menerima taqdir Tuhan, apakah anak yang lahir itu laki-laki atau perempuan, tidak dapat ditolaknya.

Kalau kita berkuasa, tentu akan dicari negara lain yang lebih baik daripada negara tempat kelahirannya. Maka di tempat itulah kita akan dilahiran. Kalau ada kekuasaan kita, tentu kita akan mencari ayah ibu yang gagah dan kaya raya. Kalau ada kekuasaan kita, tentu anak yang lahir dari keluarga kita akan sesuai dengan kehendak kita.

Kerana itu kita yakin bahwasanya taqdir baik dan buruk semuanya dijadikan oleh Tuhan. Dia membuat apa saja sesuai dengan kehendakNya yang telah digariskanNya sejak ajali lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat melawan kehendak-kehendak Allah.

Firman Allah:

“Tiada suatu bencana yang terjadi di muka bumi atau pada dirimu sendiri melainkan hal itu sudah ada ketentuannya (sejak azali) sebelum Kami melaksanakan terjadinya, bahwasanya hal demikian mudah sekali bagi Allah” (Surah Al Hadid : 22).

Jadi apa saja yang telah, sedang dan akan berlaku semuanya dalam qadha Allah, semuanya terjadi sesuai qadarNya.

Firman Allah:

Sesungguhnya segala sesuatu itu Kami jadikan dengan taqdir.

Bahwasanya Allah SWT telah mentaqdirkan sesuatu sejak azali dan Tuhan tahu bahwa sesuatu itu akan terjadi pada waktu yang Dia tentukan. Maka sesuatu itu terjadi sesuai dengan taqdirnya. Demikian keyakinan kita, bahawa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah ditaqdirkan oleh Tuhan, kita hanya mendapatinya saja. Ingatlah bahwa setiap takdir Tuhan yang berlaku ke atas diri kita itu pasti yang terbaik untuk kita. Persoalannya adalah sejauh mana pengetahuan dan penerimaan kita terhadap Tuhan, sifat-sifatNya, kerja-kerjaNya, serta qadha dan qadarNya.

Sering kali sesuatu yang kita sangka negatif, sesungguhnya ia adalah positif. Misalnya, ketika kita hendak bermusafir tiba-tiba jatuh sakit. Awalnya boleh jadi kita sangka jahat dengan Tuhan. Kita sangka Tuhan menjadikan yang negatif untuk kita. Tetapi ketika satu saat diketahui bahwa jalan yang mungkin kita lalui, jika kita jadi bermusafir, ternyata merbahaya. Waktu itu baru kita tahu dan merasa bahawa peristiwa sakit yang menimpa kita itu positif, bahkan yang terbaik untuk kita.

Mesti kita selalu ingat dengan Tuhan. Allah adalah Pencipta, Pentadbir, dan Penentu terhadap segala sesuatu. Kita dapat berusaha, itu pun gerakan dari Allah. Kita tidak berkuasa mencipta usaha. Hanya terasa seperti ada kuasa. Kita berusaha mengikut apa yang digariskanNya. Di hujung usaha sudah ditentukan. Kalau hasilnya baik, pujilah Tuhan. Kerana itu adalah anugerahNya dan nikmatNya. Jika hasilnya negatif, mengakulah salah kita sendiri, sebagai beradab dengan Tuhan.

Kenalilah Tuhan melalui sifat-sifatNya, fahami sifat-sifatNya dan kerja-kerjaNya. Dengan begitu kita tidak akan sombong ketika mendapat kejayaan. Kalau kita gagal dalam usaha, kita mesti redha menerimanya, sebab tentu ada maksud yang tersirat dibalik kejadian itu. Sebagai hamba, mestinya kita menerima saja. Usaha ikhtiar adalah syariat yang diperintahkan untuk kita laksanakan. Disinilah letaknya pahala. Tetapi ia tidak menentukan nasib kita, sekalipun kita diperintahkan untuk berusaha. Nasib kita Tuhanlah yang menentukannya.
Taqdir Tuhan terhadap sesuatu itu, kita tidak tahu kepastiannya. Kerana itu kita tidak boleh menunggu saja tanpa bekerja. Bekerjalah, berusahalah sekuat tenaga, dan serahkanlah kepada Allah apa saja yang akan terjadi.

Begitu juga anak kita, peliharalah ia sebaik-baiknya, berilah makan, pelihara kesehatannya, didiklah mereka secara tepat seperti yang dicontohkan Baginda Rasulullah, kemudian serahkanlah kepada Allah apa yang akan terjadi.

Imam Al Gazali berkata: Orang yang meletakkan benih di atas batu dan sesudah itu ia tunggu taqdir agar benih itu tumbuh dan berbuah dengan sendirinya, maka orang itu termasuk orang dungu dan sangat bodoh.

Dari buku: HIDUP BERTUHAN Menurut Ustaz Haji Ashaari bin Muhammad

Sumber: http://www.kawansejati.org/hidup-bertuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s