Panji Islam, Sang Saka Merah Putih, Cinta Tanah Air

Sejarah dalam perang Uhud, ketika Sahabat Mush’ab bin Umair RA mempertahankan Panji Islam di tangannya, berusaha agar panji Islam tidak jatuh ke tanah atau jatuh ke tangan musuh. Tangan kiri membawa pedang, tangan kanan memegang panji, pasukan muslim terdesak akibat sebagian pasukan di atas bukit turun tergiur harta rampasan perang (ghanimah). Sahabat Mush’ab RA juga terdesak bahkan Nabi Muhammad SAW dikabarkan telah dibunuh. Sahabat Mush’ab RA mempertahankan diri dan panji Islam, hingga tangan yang memegang panji ditebas, belum sampai jatuh panji itu ditangkap dengan tangan yang satu, namun musuh kembali menebas tangannya hingga panji itu terjatuh, Sahabat Mush’ab RA langsung mengambil dengan kedua lengannya yang tersisa, namun pada akhirnya karena serbuan musuh yang bertubi-tubi maka syahidlah Sahabat Mush’ab RA, panji-panji Islam adalah kehormatan Islam yang harus dibela bahkan sampai mengorbankan nyawa dalam jihad fisabilillah di perang Uhud.

Nampaknya semangat perjuangan para sahabat Nabi terwariskan kepada para pahlawan di medan tempur 10 November 1945 dalam menghalau pasukan Belanda dan sekutunya di Surabaya. Bagaimana perjuangan arek-arek Surabaya yang tak lain adalah santri dalam mengusir penjajah, merobek warna biru bendera Belanda sehingga hanya jadi bendera warna merah putih sebagai panji Islam dalam jihad fii sabilillah Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari sebagai pimpinan NU, sehingga mengalirlah darah pejuang pahlawan ke tanah air NKRI, darah para syuhada dalam membela tanah airnya. Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Sejak penjajah datang tahun 1500an, bumi Nusantara ini senantiasa teraliri oleh darah umat Islam, NKRI adalah Bumi Islam, berkat jasa para pendahululah saat ini bangsa Indonesia bebas beraktivitas tanpa khawatir ditembak atau diculik.

Dikisahkan Ketua DKW Garda Bangsa Jawa Timur Zaini Nashirudin mengenai dikeluarkannya Resolusi Jihad ini:

Ketika pasukan Sekutu dan Belanda tiba di Surabaya, Soekarno menemui KH Hasyim Asy’ari dan atas permintaan sang tokoh NU itulah, umat Islam, khususnya warga pesantren tidak segan-segan bertempur di medan perang.

“Kiai, dos pundi Inggris datang niku, gimana umat Islam menyikapinya,” tanya Soekarno kepada KH Hasyim Asy’ari. Mendapat pertanyaan tersebut, KH Hasyim Asy’ari menjawab dengan tegas. “Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah untuk NKRI, ini Perintah Perang!” ujar Zaini menirukan dialog dua pahlawan nasional tersebut.

Usai pertemuan itu, dikisahkan KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk segera mengadakan rapat darurat, dipimpin Kiai Wahab Chasbullah.

Hasilnya, pada 23 Oktober, KH Hasyim Asy’ari mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang terkenal dengan istilah Resolusi Jihad. Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular pasukan Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando.

“Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada kondisi ini pesantren-pesantren didatangi para pejuang dari berbagai kalangan untuk meminta kesaktian para kiai untuk menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan persenjataan beratnya. Ribuan kiai dan santri dari Jawa dan Madura mulai bergerak ke Surabaya,” paparnya.

Dijelaskan, Bung Karno sengaja menemui KH Hasyim Asy’ari karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan umat Islam. Selain itu, pasukan PETA yang terbentuk saat itu semua komandan batalyonnya adalah ulama. Di antaranya Panglima Divisi Suropati Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe Panglimanya Jatikusumo, kemudian di Jawa Barat komandan resimennya Kiai Haji Noor Ali.

“Pilihan Soekarno menemui K.H Hasyim Asy’ari tepat, karena mampu menggerakkan umat Islam saat itu. Dampak perangnya pun luar biasa, pertempuran Surabaya bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang karena perintah jihad tadi. Sehingga, hari Pahlawan 10 November tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad NU,” Zaini mengisahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s