Renungan 4: Mobil atau Pipis?

Sesuatu yang dipandang remeh, menjijikkan, ataupun mungkin saking biasanya dianggap menyusahkan tapi nikmat yang satu ini luar biasa manfaatnya dan bagi yang merasakan akan melahirkan rasa syukur yang mendalam. Hampir setiap hari kita merasakan perut kita mulas atau istilahnya kebelet, untuk buang hajat (BAB atau pipis). Normalnya tiap pagi kita merasakan hal ini, kemudian segera buang hajat dan terbebas dari rasa sakit perut kita.

Perbandingannya: antara nikmat dihilangkan dari rasa sakit/susah/sempit dengan nikmat yang ditambahkan ketika tidak dalam kondisi susah/sempit, Continue reading

Penantian Allah SWT dan Rasul SAW

قَالَ رَسُوْلُ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الْجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَر،ٍ حَافَتَاهُ، قِبَابُ الدُّرِّ الْمُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ…؟، قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ مِسْكٌ أَذْفَرُ،

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Ketika aku berjalan di surga, maka kulihat telaga indah, dikelilingi kubah-kubah mutiara yang berlorong-lorong, kukatakan : “apa ini wahai Jibril..?”, ia menjawab :”Ini telaga Al kautsar, yang diberikan untukmu dari Tuhanmu wahai Muhammad (saw). Maka kulihat pasirnya dari misik yang harum dan wangi”

(Shahih Bukhari)

Allah berfirman jika dosa hamba menumpuk hingga memenuhi langit maka akan Allah ampuni. Adakah yang lebih indah dari Allah, adakah yang lebih pemaaf dari-Nya, adakah Yang lebih berhak dicintai dan dirindui dari diri-Nya, dan indahnya sambutan Allah terhadap hamba yang merindukan-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun ingin berjumpa dengannya”

Jika seseorang rindu kepada Allah maka Allah pun rindu kepada-Nya, inginkah melihat Yang Maha Indah dan Maha Baik Yang menciptakanmu dari tiada, dan senantiasa memaafkan dosa-dosa dan kesalahanmu, dan Yang menyiapakan istana-istana di surga yang semakin detik bertambah indah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

( السجدة : 17 )

“Tak seorangpun mengetahui berbagai ni’mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” ( QS. As Sajadah : 17 )

Manusia tidak mengetahui sesuatu yang telah disiapkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mereka sebagai balasan amal-amal mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsy :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“ Telah Kusiapkan untuk hamba-hambaKu sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam sanubari manusia”

Abadi dalam keindahan di surga, dan keindahan itu dalam setiap waktu dan kejap semakin indah, itulah yang disiapakan untuk para perindu Allah, siapa mereka? Mereka adalah orang yang banyak megingat Allah,

مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا كَثُرَ ذِكْرَهُ

” Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka banyak menyebutnya”

Maka beruntunglah mereka yang hadir di majelis dzikir , karena ia telah diizinkan Allah untuk duduk bersama orang-orang yang dirindukan dan merindukan Allah. Kebahagiaan, ketenangan, kesejahteraan, keluhuran, kesucian dan kemuliaan adalah milik-Nya yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya terlebih lagi kepada mereka yang memintanya. Dan rahasia keluhuran di malam hari ini, kita berkumpul dalam kemuliaan memenuhi undangan Allah untuk mencapai ridha-Nya, karena orang yang berdzkir bersama mengingat Allah maka Allah akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih mulia di langit.

Langit mengenal nama-nama yang suka menyebut nama Allah . Semoga Allah mejadikan kita dalam kelompok mereka, kelompok orang yang banyak berdzikir . Orang yang banyak berzikir adalah orang-orang yang hatinya ditenangkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

( الرعد : 28 )

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( QS. Ar Ra’d : 28 )

Dengan mengingat Allah hati akan tenang, bagaimana hati akan tenang jika permasalahan dan kesedihan masih merundung kita, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang berdzikir akan tenang hatinya dan berarti akan diselesaikan permasalahannya. Perbanyaklah dzikir dalam segala aktifitas dan dimana pun berada, setiap kali ada kesempatan. Jika iseng untuk kirim sms dengan teman boleh-boleh saja di waktu senggang namun tetap sambungkan hati dengan Allah, sehingga hati bergetar mengingat-Nya . Dan ingatlah detik-detik saat namamu dipanggil menghadap-Nya “Fulan bin fulan maju kehadapan Allah”.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sampailah kita pada hadits yang kita baca tadi dan mengingatkan pada firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

( الكوثر : 1-3 )

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus “ ( QS. Al Kautsar : 1-3 )

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Saat aku berada di surga ( di malam mi’raj ), aku melihat telaga yang sangat indah dikelilingi kubah-kubah mutiara yang berlorong-lorong dan tanahnya adalah minyak wangi yang terharum”, mungkin akal tidak menerima bagaimana tanahnya berupa minyak wangi? Sungguh tidak terlintas dalam fikiran kita karena pijakan kaki pastilah berupa tanah atau benda keras, namun disini pijakan kakinya adalah minyak wangi. Bisa tenggelam dong? tidak akan tenggelam, dengan kehendak Allah air.

Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari, berkaitan dengan hal ini beliau menukil riwayat lain dari sayyidina Anas bin Malik beliau berkata : 

“Wahai Rasulullah, aku memohon syafaat kepadamu”, 

maka Rasulullah berkata : “ Engkau akan bertemu denganku di mizan”. Rasulullah menunggu ummatnya di timbangan amal untuk memberikan syafaat, jika timbangan dosanya lebih berat dari amalnya maka akan diringkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sayafaatnya .

Kemudian sayyidina Anas bin Malik berkata : “ wahai Rasulullah, jika aku selamat di mizan lalu bermasalah di tempat yang selanjutnya?”

maka Rasulullah menjawab : “Aku juga akan berada di jembatan shirat saat ummatku melintas”. 

Dalam sebuah riwayat yang tsiqah setiap ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan terjatuh ke jurang api neraka, rasulullah memegang tangannya, namun jika dia adalah pendosa besar yang belum sempat bertobat sebelum wafat, maka orang itu yang akan melepaskan tangan nabi sehingga ia pun terjerumus ke api neraka.

Maka sayyidina Anas bin Malik berkata : “Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan kesulitan di alam selanjutnya maka dimana aku akan menemuimu?” 

Rasulullah menjawab : “aku berada di telaga haudh”, yang mana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَنَا فَرَطُّكُم عَلَى الْحَوْضِ مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selama-lamannya dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang telaga Kautsar : “ Aku melihat cangkir-cangkir yang mengitari telaga Al Kautsar yang jumlahnya lebih banyak dari bintang di langit”. Kita mengetahui bahwa galaksi Bimasakti tempat bumi ini terdapat lebih dari 200 miliyar planet , dan galaksi itu jumlahnya mencapai milyaran, maka berapa jumlah cangkir yang mengitari telaga Al Kautsar milik sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam riwayat yang tsiqah disebutkan bahwa jika satu cangkir pecah, dan pecahan cangkir itu jatuh ke bumi maka pecahan itu jauh lebih indah dan lebih berharga dari segala perhiasan yang ada di bumi. Terdapat dua pendapat tentang riwayat ini, yang pertama mengatakan bahwa telaga Kautsar berada di dalam surga, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat, dan pendapat yang kedua mengatakan telaga Kautsar berada di surga dan bersambung dengan telaga Haudh yang berada di luar surga.

Maka Al Imam Ibn Hajar memadukan dua pendapat ini dan berkata bahwa telaga Haudh adalah telaga dari telaga Al Kautsar yang ada di dalam surga dan bersambung hingga sampai ke telaga Haudh. Jadi telaga Haudh posisinya di luar surga tetapi airnya bersambung hingga ke dalam surga yaitu telaga Al Kutsar. Sedangkan telaga Haudh masih berada di luar surga karena di saat itu ada orang yang terusir dari telaga Haudh sehingga ia dijauhkan dari telaga Haudh dan tidak boleh meminumnya dan dia berada dalam kehinaan, hal itu menunjukkan bahwa telaga Haudh bukan berada di dalam surga.

Telaga Kautsar airnya mengalir hingga ke luar surga dan itulah yang disebut telaga Haudh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, sungguh indahnya Allah dalam memuliakan nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau bersabda :

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

“Tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga. Dan mimbarku berada di atas telagaku.”

Demikian indahnya Raudhah As Syarif di Masjid An Nabawy di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara makam beliau ( makam beliau ) dan mimbar lama beliau adalah taman dari taman-taman surga, mereka yang pernah berangkat Haji atau Umrah mengetahuinya.

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany menjelaskan bahwa yang beribadah di tempat itu ia akan mendapatkan syafaat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jika sampai ke taman surga maka berarti pula telah masuk ke surga Allah subhanahu wata’ala. Bagi yang belum mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Raudhah As Syarif, meskipun jasad kita jauh namun jadikan hati kita selalu ingin berada di tempat itu, semoga Allah subhanahu wata’ala memasukkan kita dalam kelompok orang-orang yang beribadah di Raudhah As Syarif, di Masjid Al Haram dan tempat-tempat luhur lainnya, amin.

Sumber : Habibana Munzir Almusawa

http://www.sarkub.com/2015/telaga-al-kautsar/

BAROKAH VS ISTIDRODJ

Al Imam Alghozaliy menulis sebuah kisah dalam kitab Ikhya’ tentang dua orang nelayan yang pergi memancing ikan. Sama- sama sudah berdiri di pinggir sungai, kedua nelayan itu melemparkan pancingnya ke dalam sungai. Nelayan pertama sebelum melemparkan mata kail pancingnya itu berdo’a :

Nelayan Pertama : “Bismillahi, atas nama Allah aku memancing … “

Semenjak itu, terlihat lama dia menunggu dan tidak ada satu ekor ikanpun mau memakan umpannya. ikan–ikan di dalam sungai itu seperti menjauh semua darinya. Adapun nelayan kedua saat melempar umpannya dia berdo’a :

Nelayan Kedua : “ Bismis syaithan , atas nama setan aku memancing … “

Semenjak kail itu menyentuh air, maka ikan – ikan seperti berebutan memakan umpannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, wadah yang dibawanya dari rumah telah penuh dengan ikan hasil tangkapannya. Dengan penuh keheranan nelayan pertama berkata :

Nelayan Pertama : “Apa yang terjadi? Semenjak aku lemparkan kailku, tidak ada satu ikanpun yang memakannya .”

Nelayan Kedua : “Apa yang kamu baca sebelumnya?“
Nelayan Kesatu : “Aku membaca doa, Bismillah, dengan menyebut asma Allah aku memancing. “
Nelayan Kedua : “Hm,mungkin karena do’amu itu engkau tidak dapat ikan satu ekorpun. Adapun diriku, aku membaca do’a Bismis Syaithan, atas nama setan aku memancing. Maka aku kemudian mendapatkan banyak ikan karenanya . “

Untuk sekedar mendapatkan banyak harta dunia, banyak jalannya. Baik dengan cara yang jujur ataupun tidak. Dengan cara yang baik ataupun tidak. Kisah diatas menggambarkan ternyata cara yang baik belum tentu menghasilkan rejeki yang banyak. Sebaliknya, cara yang buruk dalam mencari nafkah itu ‘terkadang’ malah menghasilkan rejeki yang melimpah ruah. Yang demikian ini tidak perlu di isykali , karena sesungguhnya Allah Ta’ala Dzat yang membagi rejeki mempunyai ‘maksud-maksud’ tersembunyi serta hikmah – hikmah yang tidak kasat mata .

Di riwayatkan ada dua malaikat saling bertemu . Berkatalah salah satunya :

Malaikat Pertama : “Engkau dari mana ? “

Malaikat Kedua : “Aku diutus Tuhanku untuk memudahkan seorang kafir yang lalim untuk mendapatkan minyak zait sebagai rejekinya.” 

Malaikat Pertama : “Adapun diriku, Tuhan telah memerintahkan aku untuk menjauhkan seorang hamba_Nya yang saleh dari minyak zait yang jadi rejekinya . “

Malaikat Pertama : “Mengapa demikian?”
Malaikat Kedua : “Karena Fulan yang Kafir itu banyak melakukan amal-amal kebaikan dan Allah telah membalasnya di dunia. Tetapi tinggal satu buah kebaikan yang belum Allah balas. Maka Allah inginkan satu kebaikan itu dibalas saat itu juga di dunia dengan jalan ia dimudahkan dalam mendapatkan sesuatu [ yakni rejekinya yang berupa minyak zait ] sehingga di akhirat kelak tak ada lagi tersisa satu buah kebaikanpun di dalam dirinya.

Malaikat Pertama : “Adapun Fulan yang saleh tersebut sesungguhnya dia mempunyai banyak derajat kemuliaan nanti di surga. Tetapi tersisa satu derajat kemuliaan di surga yang belum bisa menjadi miliknya. Maka Allah kemudian mempersulit satu urusan dirinya di dunia [ yakni rejekinya yang berupa minyak zait tersebut ] sehingga ketika ia menghadap Allah kelak di Akhirat Allah mengganti kesulitan tersebut dengan satu derajat kemuliaan surga yang tersisa, menyebabkan dia menduduki derajat surganya yang tertinggi .

Dengan demikian, Marilah kita melakukan perenungan – perenungan dimana sekarang kita lihat banyak para pejabat pemerintahan atau pengusaha-pengusaha sukses yang semakin hari semakin kaya raya yang didapat dengan cara yang batil seperti menipu, mengakali atau membohongi/menjatuhkan kawan dan lawannya, bukan berarti Allah meridoi segala macam yang mereka perbuat, tapi itu merupakan ISTIDRODJ yang mana Allah menyempurnakan perolehan rejekinya yang Haram sehingga di akhirat kelak tak ada lagi tersisa satu buah kebaikanpun di dalam dirinya, Naudzubillah Minzalik

Sumber : DR Muhajir Madad Salim, Mkub Dosen UMI

Sumber: http://www.sarkub.com/2015/rejeki-yang-berkah-dan-tidak-berkah/