Filosofi Ketupat dan Lepet (Lebar, Luber, Lebur, Labur)

Bagi sebagian orang Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa mungkin tahu istilah kupatan/ bada kupat yang jatuh seminggu setelah Idul Fitri. Kata bada (a dibaca seperti o pada kata kodok) dalam bahasa jawa berarti hari raya/ lebaran. Dalam keseharian, kata ini bisa juga bermakna banyak atau melimpah. Jadi, bada kupat bisa diartikan lebaran ketupat atau hari di mana berlimpah ketupat.

Hari Raya tentu tak lepas dari puasa, yang seolah jadi sebuah perayaan atas kemenangan kita selama berpuasa, yang kadang menjadi berlebihan dan malah menjauhkan kita dari nilai menahan diri. Dengan kata lain, orang yang tidak berpuasa tidak berhari raya. Demikian pula bada kupat, mulanya sejenis simbol setelah berpuasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Selamat kepada yang menjalankannya, puasa di hari itu lebih berat karena yang lain biasanya enak- enak makan setelah lebaran (termasuk saya).

Orang dahulu mencoba merayakan hari ini dengan cara yang baik. Mereka membuat lepet, ketupat beserta sayurnya kemudian membagikan kepada tetangga dan sanak saudara. Sebuah ajaran untuk gemar memberi dan menjadi dermawan serta mempererat tali silaturrahim.

Ketupat/Kupat sendiri mempunyai arti kula lepat (=saya salah), sebagai simbol pengakuan atas kesalahan, kekurangan. Makanan khas lainnya yaitu lepet, masakan dari beras ketan dicampur kelapan dan kadang juga ada kacang merahnya dan dibungkus janur, biasanya 3 diikat tali dari bambu muda. Lepet berarti, disilep sing rapet (=dikubur yang rapat), lambang permohonan maaf agar kesalahan yang ada dilupakan dan dikubur rapat- rapat seolah tak pernah ada.

Menggali Filosofi Ketupat Lebih Dalam

Apa sih sebenarnya makna ketupat yang biasa disajikan pada saat Lebaran? Ketupat terbuat dari beras yang dibungkus janur kemudian dimasak. Beras melambangkan nafsu dunia, janur = jatining nur = hati nurani. Maknanya manusia mempunyai nafsu dunia, yang harus dikendalikan dengan hati nurani. Dalam bahasa Jawa ketupat disebut Kupat = ngaku lepat = mengakui kesalahan. Selain itu terdapat Sanepa yang mengungkapkan Ketupat = Kupat = Laku Papat = Empat Tindakan. Yaitu : Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan. Lebaran dari kata Lebar/selesai. Artinya selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Istilah Lebaran hanya dikenal di Indonesia. Luberan dari kata Luber = meluap, melimpah. Terkandung pesan untuk berbagi kepada sesama yang kurang beruntung. Seperti lubernya air dari tempatnya. Leburan dari kata Lebur = melebur, menghilangkan. Artinya mengakui kesalahan, memohon maaf dan memberi maaf. Sedangkan Laburan dari kata Labur, kapur untuk memutihkan/mengecat dinding. Sebelum Lebaran, orang Jawa mengecat rumah dengan Labur, agar rumah bersih untuk menghargai tamu yang akan bersilaturahim. Pesan singkatnya adalah agar kita hendaknya senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin.

Sumber:

http://zizaw.wordpress.com/2008/10/17/filosofi-kupat-n-lepet-2/

http://chirpstory.com/li/112043

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s