Belajar Bersyukur (2)

Semua orang suka/senang mendapat ucapan terima kasih atas pemberiannya, dan kecenderungan selanjutnya adalah lebih mudah  memberi pada orang yang berterima kasih tersebut. Demikian pula Allah SWT akan menambah nikmat bagi setiap hamba yang bersyukur atau berterima kasih atas nikmat pemberian-Nya (QS. Ibrahim: 7). Bersyukur adalah sifat yang baik, jika dilakukan dengan niat karena Allah maka selain tambahan nikmat, Allah juga memberikan pahala.

Namun dalam Al Qur’an Allah menyatakan hanya sedikit hamba-Nya yang pandai bersyukur. Kecenderungan manusia hanya melihat nikmat itu dalam wujud materi saja, uang, rumah, mobil, dll, padahal jika sudah mendapatkan, manusia akan mengejar yang lebih dari itu, sehingga lupa bersyukur, itulah jebakan nafsu dan syetan.

Belajar bersyukur dapat dilakukan dengan mencermati pemberian Tuhan dari apa yang paling dekat dengan diri kita, yaitu tubuh kita. Tubuh kita diberikan Tuhan dengan gratis tanpa kita minta, tumbuh berkembang dari bayi sampai dewasa tidak banyak kita sadari hingga akhirnya suatu saat mati. Setiap hari kita makan dan minum, yang itupun rezeki dari Tuhan, kita mengunyah dan menelan hingga merasa kenyang, itupun nikmat lagi. Makanan itu diserap tubuh tanpa kita perintah, semua diatur oleh Tuhan, kerja di lambung, di usus, sampai tiap sel tubuh yang jumlahnya tidak kurang dari 75 trilyun yang semua punya tugas dan fungsi sendiri-sendiri. Lihat saja sel rambut yang bermacam jenisnya, yang di kepala, di alis, di hidung, di sekujur badan, semua beda dan semua sempurna, tumbuh tanpa kita perintah atau minta. Bagaimana juga dengan nikmatnya melihat dunia dengan mata kita, nikmat bernafas dengan hidung, paru-paru, nikmat mendengar, nikmat lidah merasakan manis dan lain-lainnya. Semua itu baru nikmat lahir yang jumlahnya sangat banyak, namun semua itu jarang sekali kita syukuri.

Nikmat lahir tersebut di atas terhitung sangat sedikit, baru sebagian kecil dari nikmat dalam tubuh kita, belum nikmat diluar tubuh kita, sadarlah kita, bahwa hakikatnya yang mengurus kebutuhan hidup kita adalah Allah SWT Tuhan kita. Kita dapat rasakan sebenarnya kita tenggelam dalam nikmat pemberian-Nya. Ditambah lagi dengan berbagai nikmat batin, yang tentunya jauh lebih banyak. Contohnya adalah nikmat Iman dan Islam, banyak nikmat Islam kita dapatkan dari warisan karena orang tua kita Islam, tapi nikmat Islam saja belum cukup untuk selamat dari api Neraka, ada orang Islam tapi munafik atau fasik yang semua dihukum di Neraka. Maka kita butuh Iman, berawal dari hidayah petunjuk Allah, dari ilmu mengenal Allah Tuhan kita, Tuhan yang mencukupi seluruh kebutuhan kita, kita diperintahkan untuk bersyukur, beribadah, memakmurkan Bumi-Nya. Kita jaga Iman dan Islam kita, walau harta, jiwa, dan raga menjadi taruhannya, sebagaimana para Kekasih-Nya.

Jika kita rasakan dan pikirkan hal di atas, maka memanglah kita belum pantas disebut sebagai hamba-Nya yang pandai bersyukur karena jarang sekali bersyukur. Ya Allah, Ya Tuhan kami, inilah diri kami, memohon belas kasih-Mu, ampunilah kami dan mohon jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang pandai bersyukur atas segala nikmat pemberian-Mu, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s