Renungan 3: Renungi Diri …

 

org butatulibisubuntunglumpuh

Wahai diri, pernahkah kau lihat saudaramu yang buta?

Ia tak bisa menikmati indahnya pemandangan, semua gelap, hitam, tak ada cahaya apalagi bermacam warna, kecantikan/ketampanan, bagusnya pakaian, rumah, apalagi kendaraan. Ia dituntun kemana-mana, tak tahu arah melangkah. Tahukah diri berapa banyak nikmat yang hilang tak bisa kau rasakan jika kau buta?

 

Wahai diri, pernahkah kau lihat saudaramu yang tuli? Continue reading

Renungan 2: Rambut

Kagum dan geli jika teringat denga kenyataan ini. Karunia Tuhan yang sempurna ini dimiliki oleh setiap manusia, yaitu rambut. Rambut diciptakan Allah SWT dengan perhitungan yang sangat menakjubkan. Rambut kita tumbuh hampir di seluruh permukaan tubuh kita. Dengan kadar dan manfaatnya masing-masing, dengan jenis dan ukuran yang berbeda-beda. Jenis rambut kita antara lain dibedakan menurut tempat tumbuhnya seperti rambut kepala, rambut alis, bulu mata, rambut hidung, kumis, jenggot, cambang, rambut dalam telinga, di ketiak, di kemaluan, lengan, kaki, dan sekujur tubuh kita hampir dipenuhi rambut halus yang dikenal sebagai bulu. Belum lagi bentuknya ada yang lurus, bergelombang ataupun keriting. Tidak kalah lagi adalah warnanya, ada yang hitam legam, agak kehitaman, coklat, merah, kuning, sampai putih, … Subhanallah. Continue reading

Renungan 1: Buang Hajat

Nikmat ini terlihat sepele atau mungkin cenderung dianggap sepele, karena seperti mengganggu aktivitas manusia. Nikmat itu adalah buang hajat seperti buang air/pipis, buang air besar/berak, atau sekedar buang angin/kentut. Setiap hari hampir tidak pernah terlewatkan, karena jika beberapa hari tidak melakukannya yang datang adalah sakit. Ketiga hal di atas datangnya ditandai dengan rasa mulas pada perut kita. Dari sinilah kita tahu, bahwa setiap hari sebenarnya Tuhan memberikan nikmat yang kelihatan sepele ini tapi berdampak besar dalam kehidupan manusia, di antaranya adalah:
1. Tuhan membersihkan tubuh kita dari kotoran sisa-sisa sari makanan dan minuman. Sebenarnya dari sini kita akan sadar bahwa tubuh kita itu seperti septitank/tong sampah, karena kemana-mana membawa kotoran, hanya karena Tuhan membungkus kita maka kotoran itu tidak terlihat.
2. Tuhan membebaskan kita dari rasa sakit mulas kemudian menggantikannya dengan rasa lega plong, setelah kotoran itu kita keluarkan. Dari sini kita sadar bahwa sebenarnya Tuhan mengingatkan kita akan nikmat sehat tanpa harus benar-benar sakit tidak berdaya.
3. Dalam buang hajat kita diatur dengan adab-adab sedemikan rupa sehingga aktivitas inipun bisa menjadi ibadah. Di antaranya adalah berdoa dari gangguan syetan, memakai tutup kepala dan alas kaki ketika masuk kamar kecil/mandi, mendahulukan kaki kiri ketika masuk, tidak menghadap kiblat ketika buang hajat, beristinja/ membuang najis dengan benar, bersyukur atas dibebaskannya dari sakit dan kotoran, berdoa agar dibebaskan dari kemunafikan, mendahulukan kaki kanan ketika keluar, dan berdoa mohon ampun kepada Allah SWT.